Yuval Noah Harari: The Buddhist Way to Happines

Oleh: Yuval Noah Harari

 

 

 

Hampir semua agama dan filsafat memiliki pendekatan yang berbeda dalam memandang kebahagiaan, dibandingkan dengan liberalisme. Dalam soal ini Budhisme menarik karena ia memiliki pendekatan yang berbeda lagi. Sejak sangat lama Budhisme mempertanyakan makna kebahagiaan, jauh lebih lama dari kepercayaan-kepercayaan lain yang dianut oleh manusia. Selama 2500 tahun penganut Budha secara sistematis mempelajari esensi dan penyebab kebahagiaan. Karena itu juga minat masyarakat ilmiah untuk memahami filsafat dan praktik meditasi terhadap Budhisme pun bertambah.

Seperti agama atau filsafat lain, Budhisme juga berpegang pada pendekatan biologis untuk memahami kebahagiaan, yakni bahwa kebahagiaan itu adalah hasil dari serangkaian proses yang terjadi di dalam, bukan dari luar, tubuh. Tapi uniknya, meski berawal dari pandangan yang sama, kesimpulan yang ditarik Budhisme berbeda sama sekali. Menurut Budhisme, sebagian besar manusia menyamakan kebahagiaan dengan perasaan menyenangkan, dan penderitaan dengan perasaan tidak menyenangkan. Karena itu manusia sangat memperhatikan dan menganggap penting perasaan mereka, dan selalu menginginkan lebih banyak kesenangan, sembari menghindari kepedihan. Apa pun yang kita lakukan sepanjang hidup—sekadar menggaruk kaki yang gatal, merasa gelisah ketika duduk, sampai berperang di medan perang dunia—semuanya kita lakukan demi mendapatkan rasa nyaman.

Masalahnya, menurut Budhisme, perasaan kita tak lebih dari sekadar getaran singkat yang berubah setiap saat seperti ombak di laut. Jika lima menit lalu saya merasakan kegembiraan dan melihat tujuan yang jelas, maka sekarang bisa saja perasaan itu hilang sama sekali. Saya jadi merasa sedih dan tertekan. Jadi kalau saya ingin merasakan perasaan menyenangkan lagi, maka saya harus mengupayakannya sembari berusaha keras menghalau perasaan-perasaan yang membuat saya tidak nyaman. Namun begitu berhasil, dengan cepat saya harus mengulangi semuanya dari awal, tanpa sempat menghikmati kesulitan-kesulitan sebelumnya.

Lalu apa pentingnya berupaya mendapatkan hadiah yang sifatnya tidak kekal seperti itu? Mengapa harus berjuang demikian keras untuk mendapatkan sesuatu yang akan sirna begitu ia muncul? Menurut Budhisme, akar dari penderitaan bukanlah perasaan sedih, nyeri, dan bahkan bukan ketiadaan arti. Bukan. Akar penderitaan itu justru pencarian terus-terusan terhadap perasaan yang tidak kekal, yang menyebabkan kita terus-menerus berada dalam suasana tegang, gelisah, dan tidak pernah puas.

Pencarian itu menyebabkan pikiran kita tidak pernah puas. Bahkan pun ketika kita merasakan kesenangan, kita tidak merasa puas karena kekhawatiran selalu mengintai: bahwa kesenangan ini akan segera berlalu. Kita lalu berusaha lebih keras agar perasaan senang itu menetap dan sebisa mungkin meningkat. Manusia terbebas dari penderitaan bukan karena mereka mengalami ini atau itu, karena perasaan yang sesungguhnya tidak pernah menetap. Manusia terbebas dari penderitaan ketika mereka memahami kesementaraan perasaan-perasaan mereka sendiri dan berhenti mendambakannya.

Inilah sesungguhnya tujuan dari praktik meditasi dalam Budhisme. Ketika bermeditasi, kita seharusnya memperhatikan pikiran dan tubuh kita, menyaksikan lintasan pikiran yang datang dan pergi terus-menerus, dan menyadari betapa sia-sianya mengejar itu semua. Ketika pengejaran berhenti, pikiran akan tenang, bening dan puas. Semua perasaan, apapun itu, hanya akan datang dan pergi—keriaan, kemarahan, bosan, nafsu—tapi begitu kita berhenti menginginkan perasaan tertentu, kita akan bisa menerima semuanya, apa adanya. Kita akan hidup sekarang, tidak lagi membayangkan tentang yang akan datang, yang maya.

Akibatnya, perasaan tenang yang datang akan sangat dalam. Sedemikian dalam sehingga mereka yang menghabiskan waktunya untuk mencari kesenangan tidak akan dapat memahaminya. Persis seperti orang yang puluhan tahun berdiri di tepi laut, berupaya memeluk ombak yang “baik” dan mencegahnya pecah, seraya menghalau ombak “jahat” agar tidak dekat-dekat kepadanya. Hari-hari datang dan pergi, dia tetap berdiri di pantai, menjadi gila karena upaya yang sia-sia. Akhirnya dia terduduk di pasir dan membiarkan ombak datang sesukanya. Betapa damai!

Gagasan seperti ini sangat asing dalam budaya liberal modern, sehingga ketika gerakan New Age yang berasal dari Barat bertemu dengan pandangan Budhisme, mereka menerjemahkannya ke dalam istilah yang liberal, menyesuaikannya dengan isi kepala mereka. Para pemuja New Age seringkali berargumen seperti ini: “Kebahagiaan tidak tergantung kepada kondisi di luar. Sepenuhnya ia tergantung kepada perasaan dalam batin kita. Orang seharusnya berhenti mengejar sesuatu yang berada di luar mereka seperti kekayaan dan status, dan mulai terhubung dengan batin mereka sendiri.” Ringkasnya, “Kebahagiaan Berasal dari Dalam.” Ini argumen ahli biologi, tetapi berlawanan dengan yang diajarkan Budha.

Budha “bersepakat” dengan biologi modern atau bahkan gerakan New Age, bahwa kebahagiaan tidak tergantung kepada kondisi eksternal. Tetapi sebenarnya yang lebih penting dan mendasar adalah kebahagiaan sejati itu juga tidak tergantung kepada apa yang kita rasakan. Semakin kita menganggap penting perasaan (bahagia) kita, akan semakin besar kita menginginkannya, dan akhirnya kita akan semakin menderita. Jadi perintah Budha yang sesungguhnya adalah: berhentilah mengejar segala sesuatu yang berada di luar diri, juga perasaan-perasaan yang ada di dalam diri.”

Tulisan diatas merupakan karya Yuval Noah Harrari berjudul The Buddhist Way to Happines yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Budhy Munawar Rachman dalam akun Facebooknya.

Sumber: https://www.facebook.com/budhymunawar.rachman.7

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: