Beranda Ide Tuhan Telah Mati

Tuhan Telah Mati

1032
0
BERBAGI
sumber gambar: https://www.dailybest.it/
“Tidakkah kita mendengar kebisingan para penggali liang kubur yang sedang memakamkan Tuhan? Tidakkah kita mencium bau busuk Tuhan? Ya,  para Tuhan juga membusuk!  Tuhan telah mati! Tuhan tetap mati! dan kita telah mati!”

sepanggal dari tulisan panjang Friedrich W.  Nietzsche tentang matinya “Tuhan”.

Friedrich W.  Nietzsche adalah salah seorang filsuf abad modern yang hidup tahun 1844 pada masa revolusi proletariat, ia adalah salah satu filsuf fenomenal abad modern, berasal dari keluarga yang sangat religius namun pada perjalanan hidupnya dia melakukan kritik akan ajaran Agama Kristen dan meninggalkan kepercayaan tersebut.

Nietzsche dikenal sebagai “Pembunuh Tuhan”. Pemikiran Nietzsche mengenai kematian Tuhan sendiri terdapat pada sebagian karya-karyanya. Salah satu tulisannya yang terkenal mengenai hal itu terdapat pada bukunya, “The  Gay Science (ilmu kebahagiaan). Di dalam ceritanya, seseorang yang gila datang ke sebuah kerumunan dan berteriak-teriak mengenai kematian Tuhan. Berikut ini kutipannya ;

Tidakkah kamu telah mendengar seorang gila yang menyalakan lentera di pagi hari yang cerah, berlari menuju tempat kerumunan, dan terus-menerus berteriak: “ Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!”
Ketika orang banyak yang tidak percaya pada Tuhan datang mengeumuninya, kemudian dia mengundang gelak tawa. “Apakah dia orang yang hilang?” Tanya seseorang.
“Apakah dia telah tersesat seperti anak kecil?” Tanya yang lainnya.
“Atau dia sedang bersembunyi? Apakah dia takut pada kita? Apakah dia orang yang baru saja mengadakan pelayaran? Seorang perantau?” — Maka mereka saling bertanya sinis dan tertawa.
Orang gila itu melompat ke tengah kerumunan dan menatap mereka dengan mata tajam. “Kemana Tuhan?” dia berteriak: “Aku akan menceritakan pada kalian, Kita telah MembunuhNya — Kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya. Tuhan sudah mati. Tuhan terus mati.”

”Tuhan sudah mati” tidak boleh ditanggapi secara harfiah, seperti dalam “Tuhan kini secara fisik sudah mati” sebaliknya, inilah cara Nietzsche untuk mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak lagi mampu berperan sebagai sumber dari semua aturan moral atau teologi.

Istilah “Kematian Tuhan”  menjadi menarik dan ramai jadi perbincangan. Pro kontra akan pandangan Nietsche pun terjadi, Gerakan “Kematian Tuhan” bermunculan, sebuah sampul majalah time 8 April 1966, sebuah majalah tentang Agama di Amerika bertanya “Apakah Tuhan Sudah Mati?”.

Selain itu, pada tahun 1961 buku Vahanian The Death of God (kematian Tuhan) diterbitkan. Dalam buku itu dijelaskan bahwa budaya sekuler yang modern telah kehilangan rasa tentang yang suci, tidak memiliki makna sakramental apapun, tidak mempunyai tujuan transcendental, ataupun rasa bahwa hidup manusia dipelihara oleh Tuhan. Dan masih banyak lagi tanggapan atas “Kematian Tuhan” yang disampaikan oleh Nietsche.

Dalam sudut pandang yang lain, kematian Tuhan juga diartikan sebagai upaya manusia untuk menjadi manusia yang merdeka dalam mencari kebenaran

Hal ini juga didasari dengan apa yang dilakukan oleh Nietsche, yang mengkritik kebudayaan barat pada waktu itu (dengan melakukan penijauan ulang semua nilai dan tradisi) yang sebagian besar dipengaruhi oleh Plato dan tradisi Kristen yang keduannya mengacu pada kehidupan setelah kematian yang menyebabkan pesimis pada kehidupan dan membuat cacat kehendak manusia.

Namun dalam tulisan saya kali ini, saya akan mencoba menggunakan praduga yang pertama atas pemikiran Nietsche perihal “Tuhan Sudah Mati”.

Bagaimana mungkin manusia dengan segala kelemahanya bisa membunuh Tuhan? Nietzsche menemukan Tuhan telah mati dalam jiwa orang-orang yang hidup pada zamannya.

Agama Kristen yang menjadi kepercayaanya selama bertahun-tahun ternyata telah mengecewakanya. Gereja pada masa itu cenderung berpihak pada hal-hal yang bersifat duniawi.

Bahkan gereja menggunakan segala cara (termasuk perang) untuk memaksakan Agamanya terhadap penganut kepercayaan lain. Sebut saja penjelajahan tentara-tentara Spanyol, Inggris dan Portugis ke Benua Asia dengan menjunjung slogan Gold, Glory and Gospel.

Entah tujuan utamanya menyebarkan Agama, atau Agama hanya sebagai kedok untuk merampas kekayaan Bangsa Asia. Hal ini sangat jauh dari kesan moralitas apalagi humanisme.

Apakah kematian “Tuhan” juga terjadi hari ini? Saya kira iya, sumpah janji yang selalu diucapkan ketika pelantikan para pejabat-pejabat di negeri ini selalu mengatas namakan Tuhan dalam setiap sumpahnya,  nyatanya hanya sebuah ungkapan lisan saja.  sumpah janji  seakan hanya menjadi tradisi simbolis tanpa meresap kebagian dada apalagi turun menjadi laku tubuh.

Prilaku korup dan tidak jujur yang kerap dilakukan oleh oknum-oknum pejabat di republik ini, berbanding terbalik dengan sumpah janjinya ketika dilantik,  dengan begitu rileksnya melakukan korupsi atau penggunaan dana yang bukan haknya.

Sementara masih banyak masyarakat yang kelaparan dan kekurangan hidupnya.  Apakah mereka juga bukan termasuk pembunuh tuhan, seperti yang disampaikan Nietzsche?

Dan yang lebih berbahaya adalah,  ketika agama dijadikan alat untuk melakukan kejahatan terhadap orang atau kelompok di luar dirinya. Dalil atau ayat-ayat Tuhan yang suci dijadikan legitimasi atau alasan untuk menyakiti orang lain.

Kita mengaku bertuhan, tapi kelakuan atau tindakan kita seperti tidak meyakini adanya Tuhan dalam hidupnya. Bukankah salah satu substansi dari beragama adalah untuk memanusiakan manusia, bukan membinasakan manusia.

Melihat hal itu,  masihkah kita mengelak dari salah satu kejahatan terbesar di dunia ini,  yaitu meyakini adanya Tuhan, dan di sisi yang lain kita juga membunuh-Nya.

 

*Penulis adalah Direktur Klasika Lampung. disamping sedang menyelesaikan pendidikan strata 1 di Fakultas Tarbiyah UIN Lampung, Pribadi yang dikenal selalu tersenyum di kesehariannya ini juga diberi ‘Anugerah’ oleh Allah SWT berupa kemampuan untuk menyembuhkan orang-orang yang sedang patah hati-hilang akal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here