Toleransi dalam Pluralisme yang Berpegang Teguh pada Humanisme

Gus Dur adalah seorang yang biasa saja, agar lebih bisa berbaur dengan khalayak umum tanpa ada tedeng aling-alaing atau pembatasan

— Inayah W. Wahid —

Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal yang akrab dengan sapaan Gusdur, seorang tokoh Humanisme yang identik dengan kata-katanya yang membumi “gitu aja kok repot” diperbincangkan dalam dialoKlasika dengan tema “Menanam dan Menjaga Toleransi Umat Beragama” yang menghadirkan langsung anak bungsunya Inayah Wulandari Wahid sebagai narasumber utama.

Dalam dialog kali ini Inayah Wulandari Wahid memaparkan bahwasanya “Ayah saya bukan tokoh prularisme”, hal ini dikuatkan oleh sebuah pesan dari almarhum Ayahandanya yang memberikan Wasiat kepada seorang sahabatnya sebelum ia meninggal, ayahnya berpesan seperti ini

“Kalau saya meninggal, buatkanlah nisan bertuliskan di sini berbaring seorang humanis,” Gus Dur berpesan pada seorang sahabatnya.

Humanis disini adalah suatu pergerakan manusia untuk kemanusiaan yang mendambakan dan memperjuangkan pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas kemanusiaan, menyama ratakan kedudukan manusia tanpa tendensi minoritas dan mayoritas.

Sedangkan pluralisme adalah sebuah ilmu paham tentang keberagaman yang jika berdiri sendiri menimbulkan paham keambiguan. Pluralisme rupanya  merupakan salah satu fakta yang termaktub secara tak langsung diikutkan sebagai paham turunan dari humanis. Yang jika berdiri sendiri akan menimbulkan keambiguan dalam tanda petik.

Lagi-lagi Inayah memaparkan “Ayah saya membela manusia, bukan membela agama satu, atau membela pihak satu dan menyalahkan pihak lainnya. Gusdur begitu toleransi dan menyadari bahwa seseeorang itu berbeda dan memilki kebutuhan sesuai keadaannya.

Bukan memaksakan satu kehendak secara otoriter dan merugikan pihak lainnya dan menimbulkan kekacauan dengan penindasan yang berujung pada konflik perpecahan. Kemungkinan setengah kerusuhan tahun lalu akan surut jika kita umat manusia memahami begitu pentingnya paham humanisasi dan mempraktekan secara langsung, mengaplikasikan secara langsung sebuah toleransi dalam kehidupan yang plural ini.”

“Menurut saya dan yang dilakukan oleh ayah saya adalah mengaplikasikan bukan hanya menyuarakan toleransi, karena ayah saya tak pernah mengajak dalam seruan untuk bertoleransi. Akan tetapi ayah saya secara langsung memberi contoh inilah toleransi yang sebenarnya”. jelasnya dalam dialoKlasika.

Ungkapan di atas tak terlepas dari keilmuan toleransi yang sudah jelas termaktub pada arti humanis itu sendiri yaitu menciptakan suatu pergaulan antara manusia yang baik.

Humanisme memiliki paham turunan yang termaktub secara tak langsung yaitu berupa keadilan, kesetaraan, toleransi, pluralisme. Empat hal itu berhubungan langsung dengan manusia yang disebut human sebagai mahluk berakal budi untuk berfikir tentang humanis yang baik.

Inayah juga bercerita tentang perjalananya. Pada saat di pesawat memmaparkan, “Saya merasa terganggu saat ingin tidur dan istirahat karena penumpang di samping saya yang berperawakan besar, selalu menyikut saya. Ya karena badannya yang besar itu mungkin kursi pesawat terasa sempit dan membuatnya tak nyaman. Namun, ini sangat mengganggu, untuk mengurangi sikutan yang mengganggu saya itu saya memutuskan untuk bergeser namun masih saja tersikut oleh orang itu”.

Ini adalah fenomena bahwasanya manusia adalah mahluk egois yang tidak paham tentang apa itu humanisme dalam hal ini toleransi. Ia tak paham akan kepentingan orang lain, ketidak sadaran bahwasanya ada orang lain disekitarnya yang tidak nyaman dengan prilakunya. Toleransi secara sederhana saja dapat diartikan sebagai rasa sadar bahwasanya ada yang lain selain kita, dan itu akan menyurutkan untuk memaksakan kehendak karena takut mengganggu orang lain.

Menyadari bahwasanya ada umat lain, ada jenis manusia lain dengan kepentingan dan kebutuhan hidup yang berbeda-beda. Oleh karena adanya sebuah perbedaan kepentingan ini maka harus diadakan diskusi atau dialog sebagai salah satu bentuk aplikasi bertoleransi, dialog berisi tentang pemaparan problem atau masalah yang ada di kehidupan dan cara untuk memecahkannya tanpa merugikan satu sama lain atau  bahkan akan lebih merujuk pada penyetarakan satu sama lain.

Jika hal ini tidak dilakukan maka akan terjadi penindasan kepada kaum minoritas yang dilakukan oleh kaum mayoritas walaupun secara tak langsung. Timbulah pergerakan pemberontak dan perpecahan suatau negara jika berada dalam lingkup suatu negara.

“Bagaimana sebuah situasi pahit dialami para pemegang teguh agama Budha pada saat masa orde baru, untuk imlekan saja mereka harus bersembunyi dan menutupinya dari khalayak umum di luar agamanya. Mereka merasa takut untuk melakukan atau merayakan hari raya imlek saat itu, di dalam diri mereka mempraktekan secara langung untuk mentoleransi walaupun saat itu sangat terpaksa,” papar mbak Inayah

Keterpaksaan di atas akan menimbulkan tendensi dan tekanan-tekanan yang akan meledak suatu saat nannti jika sudah tak lagi bisa ditahan, mereka akan mencoba melawan dengan cara pemberontakan dan terjadi perpecahan di dalam kehidupan berkebangsaan yang menghargai pluralisme secara toleransi.

Seseorang lahir sebagai manusia berkebangsaan Indonesia, dengan suku yang berbeda, agama yang bebeda-beda, lingkungan yang berbeda, tradisi yang berbeda, paham yang berbeda. Secara fisik orang itu tidak dapat dirubah, namun sifat dan kepercayaan dapat berubah beriring dengan pembicaraan dari hati ke hati akan perlunya kesadaran ada orang lain, atau hal yang sebaliknya akan terjadi kepada kita jika orang lain tak sadar akan hadirnya kita di sekitar mereka.

Memulai semua dengan senyuman, tegur sapa, ngobrol ngalur ngidur, mengulik sifat dan kehidupan sehari-hari mengasyikan sehingga timbul rasa toleransi-toleransi untuk saling menjaga untuk keharmonisan selanjutnya.

Diskusi tak juga harus dipenuhi manusia dengan banyak namun hal di atas juga bisa disebut salah satu ilmu turunan diskusi namun secara tak langsung atau tersembunyi dalam hukum interaksi antara dua individu, yang nantinya akan menimbulkan efek nyaman, saling menghargai dan kesadaran akan manusia yang saling membutuhkan satu sama lain.

Menyikapi sebuah masalah dengan diskusi tak pelak juga bisa menghindari  sebuah konflik, sering timbul emosi atau pembicaraan yang menimbulkan sebuah perdebatan saat berlangsungnya diskusi. Kembali lagi mbak Inayah menyebutkan jangan lagi ada mayoritas rasa minoritas.

“Fenomena ini terjadi pada saat sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai narasumber, acara itu adalah pada saat hari ibu. Saat sesi tanya jawab ada seorang laki-laki bertanya dan berargumentasi tentang sebuah pluralisme yang seperti menggambarkan penindasan kepada para kaum laki-laki dengan adanya gerakan perempuan, dan publik yang selalu membincangkan emansipasi wanita tanpa menghadirkan sosok laki-lak, kenapa tak ada gerakan laki-laki? Katanya,” ujar Inayah menceritakan pengalamannya.

Sebuah persoalan yang pelik seperti ini, jika direspon oleh emosi seseorang yang mudah terpancing akan argumen provokatif itu pastinya akan menimbulkan konflik yang lebih panjang lagi. Dalam hal ini dapat ditarik lagi sebuah kesimpulan terdapat mayoritas yang menyumputkan dirinya dalam minoritas dan menuntut orang yang sedang dianggap mayoritas (dalam diskusi) untuk memberikan keadilan kepada kaum yang sebenarnya mayor namun mengaku dirinya minor.

Dalam diskusi ini mbak Inayah juga menyajikan sebuah hukum tentang suatu perbedaan. “Jika ada orang yang tak percaya atau tak sepakat tentang hukum perbedaan kepentingan dan konsekuensinya jika tidak menghargai perbedaan itu maka itu akan memperkuat hukum perbedaan ini”.

Ketidak sepakatan seseorang menunjukan sebuah contoh jelas bahwasanya adanya 2 orang yang berbeda dalam memandang suatu masalah dalam hal ini hukum perbedaan.

“Gusdur tidak lebih baik dari kita, Gusdur juga tak lebih buruk dari ulama lain dari Arab atau tokoh lain. Ia adalah seorang yang biasa saja, agar lebih bisa berbaur dengan khalayak umum tanpa ada tedeng aling-alaing atau pembatasan. Ia menghadirkan sebuah paradigma tentang beda dan setara yang akhirnya akan menghasilkan perdamaian hakiki,” Ujar putri bungsu Gusdur itu lirih.

Perdamaian akan hasilkan keadilan, adil itu sendiri adalah membiarkan seseorang menjadi dirinya dengan keadaannya, kepercayaannya, sama seperti kita, merdeka masing-masing. Dan hal-hal ini bisa didapat melalui diskusi terbuka tentang diri masing-masing individu atau kelompok sehingga memilki kondisi psikis yang berdekatan dan memahami satu sama lain yaitu berteman dekat. Sekali lagi ini membuktikan bahwasanya toleransi harus langsung dipraktekan bukan hanya diumbar dan dibicarakan.

Layaknya Gusdur mengajarkan kita. Ia tetap mendatangi seseorang yang telah mendepaknya dari partainya, ia bukan seseorang yang pendendam, ia juga bukan manusia yang harus itu, atau hanya mementingkan sisi lain dan tak memperhatikan yang lainnya.

Ia tak punya pengikut setia sebagai Bapak Prular, Humanis, ataupun Toleransi, namun ia dikenal karena kebaikan budi pekertinya orang yang mencintai dan patut dicintai. Apalagi yang lebih membahagiakan ketika dicintai oleh banyak orang tanpa ada tendensi yang artinya rasa cinta yang murni.

Perbaikilah hubungan antara manusia dan juga hubunganmu kepada tuhan. Buatlah pilihan-pilihan seperti Gusdur. Jadilah pilihan-pilihan itu, jadilah manusia.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: