Beranda Ide Teori & Praktik: Mana yang Lebih Penting?

Teori & Praktik: Mana yang Lebih Penting?

282
0
BERBAGI
Sumber gambar: www.dialogilmu.com

Aktivis mahasiswa kerap kali berdebat. Ihwal mana yang lebih penting antara teori dan praktik? Ada yang memilih teori dan tak sedikit pula yang menjawab praktik. Pernyataan yang bersifat demagogis dari mahasiswa yang memilih bahwa praktik lebih penting dari teori atau sebaliknya, kira-kira seperti ini:

“Sudah jangan kebanyakan teori, ayo langsung aksi”. Dan di pihak lain mengatakan “apa yang mau kita lakukan, bila kita tidak tahu duduk perkara dengan jelas dan utuh”. Kedua jawaban diatas menjadi pertanda adanya jurang pemisah antara teori dan praktik dalam pemahaman aktivis mahasiswa.

Padahal, Ernest Mendel, seorang ekonom marxist pernah menemukan kasus serupa di Konferensi Sarjana Sosialis dan beberapa pertemuan lainnya yang ia hadiri di kisaran tahun 1960-an.

Temuan itu ia sampaikan dalam pidato di 33 perguruan tinggi, Amerika serikat dan Kanada. Ihwal masih terjadinya dikotomi antara teori dan praktik di pemahaman para mahasiswa yang mendaku dirinya seorang yang revolusioner.

Di hadapan para mahasiswa, ia menyampaikan bagaimana situasi itu terjadi. “Ketika mendengar perdebatan itu, saya seperti sedang mengikuti perde­batan di antara orang-orang tuli” di mana sebagian mereka mengatakan:

“yang  penting  aksi! Tidak perlu  yang  lain,  yang penting  aksi!”

sementara  di sisi yang lain mengatakan:

“Tidak, sebelum bisa aksi, kita harus tahu apa yang  dikerjakan. Duduk, belajar, dan tulis buku.”

Begitulah sekiranya temuan Ernest Mandel. Tak jauh berbeda dengan pemahaman aktivis mahasiswa dewasa ini.

Ernest Mandel
Sumber gambar: www.versobooks.com

Padahal, dalam pandangan Mandel, aksi dan teori sama pentingnya dan kedudukan pun setara. Aksi tanpa teori tidak akan pernah efisien atau tidak akan berhasil melakukan perubahan yang mendasar. Di sisi lain, teori tanpa aksi tidak akan mendapat watak ilmiah yang sejati karena tidak ada jalan lain untuk menguji teori, kecuali melalui aksi.

Setiap teori yang tidak diuji melalui aksi, bukanlah teori yang sahih. Dan bersamaan dengan itu, teori menjadi tidak berguna dari sudut pandang pembebasan manusia.

Mengapa demikian? Karena keduanya harus terus-menerus dikembangkan secara bersamaan, tanpa pemisahan. Kesatuan teori dan aksi harus dimantapkan, sehingga gerakan revolusioner, apapun asal usul maupun tujuan sosialnya, dapat mencapai hasil.

Penjelasan di atas disampaikan oleh Ernest Mendel dalam pidatonya di forum Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner. Saat membahas mengenai konsepsi Marxis tentang integrasi yang tak terpisah antara teori dan praktik.

Nah, oleh karena itu pula, teori selalu diartikan sebagai abstraksi dari praktik, yang menjadi semacam petunjuk arah sebelum menggulirkan aksi yang sesungguhnya. Terlebih, aksi yang bersifat revolusioner. Jadi, keduanya seperti dua kekasih yang ditakdirkan untuk saling melengkapi. Meskipun kadang kala, salah satu pihak gagal paham.

Untuk melihat hubungan erat teori dan praktik bak dua sejoli, kita dapat belajar dari kisah Lenin dan Karl Marx. Marx dengan gigih merumuskan konsepsi yang ketat ihwal sosialisme ilmiah dan Lenin menunjukkan jalan untuk mewujudkannya. Mengesankan.

Jika para aktivis mahasiswa memahami integrasi antara teori dan praktik. Maka setiap gerakan mahasiswa niscaya akan melahirkan pemimpin-pemimpin aktivis yang mampu membangun barikade dan bertempur sekaligus mempertahankannya.

Serta dapat menulis artikel bahkan buku teoritis dan berdiskusi  dengan sosiolog terkemuka, ahli politik,  dan  ekonom ternama. Bahkan, mengalahkan mereka dalam bidang ilmu mereka tersebut.

Lalu, tulisan ini dan pidato yang disampaikan oleh Ernest Mendel tergolong yang mana? Teori atau praktik? Yahh keduanya kampil!

*Penulis adalah mahasiswa fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung. Penyuka kajian Filsafat dan Humaniora yang sejak kecil tidak bisa lepas dari musik Dangdut dalam kesehariannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here