Sambil cengar-cengir dan klepas-klepus menghembuskan asap kretek, Moh Stamper merespon, “tapi kan Nabi Yunus akhirnya mampu keluar dengan selamat. jadi, saya yakin kita juga nggak lama lagi akan mampu keluar dari situasi garing nan gawat ini, Syekh.”

“Bener. Tapi, ingat, Yunus bukan keluar karena daya-upaya atau kemampuannya sendiri, Beliau keluar karena dilepehin, dimuntahin ama tuh paus. Kenapa bisa begitu–karena Beliau sadar dan akhirnya bener-bener mengakui ke-zhalim-an dirinya, kegelapan yang meliputi hati dan nalarnya. Akhirnya Tuhan happy, lalu disuruh tuh paus ngelepihin Nabi Yunus,” terang Syekh Mukhlisin.

“Tapi di perut paus kan memang gelep, Syekh. Yunus gak usah ngaku gelap juga Tuhan mesti tahu bahwa memang gelap situasinya!” kata Sutopo ngereng.

“Gelep di situ bermakna literal sekaligus metaforis, bloon! untuk konteks Yunus, itu lebih ke makna metaforis. Nah, saat Beliau sadar lalu mengakui bahwa hati dan nalarnya dalam kondisi zhalim, gelap, bingung gak karuan, atau kata lainnya–tahu diri, baru lah Tuhan membebaskannya.

Jadi, ikan besar bernama corona ini harusnya juga menuntun kita untuk mengakui kezhaliman diri kita, kegelapan diri kita. Kita harus sadar bahwa sudah terlalu sering dan lama kita lupa akan tugas peran–yang harusnya membimbing umat, kok malah mengakali dan membodohi umat, ngasih janji-janji palsu secara permanen, dan bangga dengan kelakuan semacam itu.

Bahwa sudah terlalu lama kita salah bloking dan adegan–harusnya refleksi kok malah adu narsis, harusnya memberi kejernihan kok malah sibuk ngegosip dan bertingkah seperti selebritis. Bahwa sudah terlalu lama kita bingung atau salah tafsir terhadap karakter dan karakterisasi yang sedang kita jalani dalam drama hidup ini–peran pandita kok bertingkah kayak selir raja, peran hulubalang kok lagaknya kayak raja, peran penjaga loket tapi sibuk menata cahaya. Kita sudah terlalu lama salah kostum dan salah baca dialog.

Hati dan nalar kita kacau karena tak pernah sungguh-sungguh membaca, menganalisis, dan tahu subteks serta tujuan utama kisah. Kita berebut naik panggung dan ngotot harus dapat cahaya lampu terus-menerus, tanpa kita tahu sesungguhnya apa peran kita, apa fungsi peran kita, apa dialog kita, di mana bloking kita, dan di adegan ke berapa kita masuk, dll, dalam pertunjukan itu.

Kita tak punya cita-cita yang jelas terhadap diri kita sendiri, apalagi cita-cita terhadap peradaban dan bangsa. Kita pengecut untuk ngotot mempertahankan harapan dan idealisme di tengah kepungan kemunafikan dan sikap cari aman. Parameter kita tentang apa yang baik, apa yang benar, dan apa yang indah berantakan total. Harusnya yang jadi pemimpin orang yang baik dan benar kok yang dipilih malah orang yang sekedar kaya. Harusnya yang jadi intelektual orang yang berilmu, kok yang ngaku-ngaku dan dapat pula pengakuan cuma orang yang narsis dan kebetulan pernah lama sekolah.

Nah, inilah bentuk kezhaliman atau kegelapan yg menyelimuti kita sekarang ini. Tapi, kalau kita sadar lalu tulus mengakuinya, insyaallah, kita akan segera dilepehin keluar dari lokdon ikan besar corona ini,” ujar Syekh Mukhlisin sambil menangis tersunguk-sunguk. Ada ingus kuning kehijauan menetes dari lubang kanan hidungnya.

Mau tak mau, kami ikut terharu. Kuberikan sapu tanganku agar ia bisa menghapus air matanya. Sutopo bergegas memanaskan air di dapur untuk bikin kopi baru lagi. Moh Stamper memandang langit biru di sela-sela daun kates sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Berarti, Syekh, kita semua sesungguhnya sedang berada di dalam perut ikan paus ya?” tanya Iwan, sambil menghela nafas.

“Tidak. kau dan Stamper tidak berada di dalam perut paus.”

“Di mana posisi kami, Syekh?” kata Stamper.

“Di perut lele.”

 

Sumber: Facebook- Ari Pahala Hutabarat

(https://www.facebook.com/aripahala.hutabarat/posts/1794920187317455)