Syekh Mukhlisin: Refleksi

Dua tiga hari ini kelakuan Syekh Mukhlisin lumayan aneh. gak bisa melihat cermin sedikit terus nangis. mending kalau nangisnya pelan, lha ini mewek-mewek, bahkan sampe menjerit pilu ala sinetron segala. ada dugaan sementara kalau beliau patah hati, kesurupan Nikita Willy, atau sedang mendalami karakter yang (mungkin) akan Ia perankan.

Tak pingin keadaan makin tak jelas dan menimbulkan banyak fitnah, Moh Stamper, sebagai kawan (yang merasa) terdekat menghampiri dan bertanya pada Syekh Mukhlisin. Tentu sambil bawa sajen berupa setengah bungkus Djisamsoe dan ¾ gelas kopi panas.

“Aku lagi sedih berat,” terang Syekh Mukhlisin menjawab pertanyaan Moh Stamper“. Tiga hari lalu Aku mimpi didatangi guruku, Mat Jagger, Dia maki-maki Aku. Katanya Aku keblinger, sok sip. apa salahku, guru, kataku. Sebab kelakuanmu, sikap dan omonganmu sudah sok level Kyai, sok sudah di level Murad orang yang dikehendaki Allah SWT untuk dihujani keberkahan terus-menerus tanpa Kau sendiri menghendaki dan mengkhayalkannya. Padahal Kamu itu untuk disebut atau berada di level Murid aja belum!

“Kau tahu, Mukhlisin, yang disebut Murid adalah orang Yang Berkehendak, orang yang mengerahkan segenap dirinya untuk mempelajari dan menggapai ilmu. Nah sekarang Kamu ngaca dong, Kamu apa bener-bener sudah berkehendak untuk paham, untuk mengerti, untuk bisa, untuk terampil dalam suatu bidang ilmu yang katanya kamu ingin jadi ahli di dalamnya itu??!!

Coba Kau cek, duhai Mukhlisin, sudah berapa banyak duit Kau keluarkan untuk paham bener-bener akan ilmu tersebut? Sudah berapa banyak waktu yang Kau ‘korbankan’ untuk jadi pinter itu? sudah berapa kali Kau jatuhkan serendah-rendahnya egomu, rasa gengsimu, sikap sok tahumu, di hadapan ilmu atau di hadapan seseorang, yang menurutmu, menguasai ilmu itu?

Sudah seberapa sering Kau bentur-benturkan kekerasan kepalamu itu ke tembok, biar Dia agak jadi sedikit lembut di tangan ilmu? Sudah seberapa sering Kau bawa bunga, coklat, atau rokok atau kue untuk merayu dan memikat ilmu? Sudah berapa banyak orang yang Kau datangi dan tanya sungguh-sungguh untuk tahu rute, jumlah stasiun dan terminal, jarak tempuh, rambu, bagi jalan yang akan mengantarkanmu ke penguasaan ilmu?

“Sekarang kamu ngaca, Mukhlisin, bercermin, terimalah kenyataan bahwa untuk disebut murid aja kamu gak pantes, apalagi disebut murad! Kamu itu levelnya bukan murad dan murid, tapi morat dan marit!! Kamu gak pernah sungguh-sungguh berkehendak untuk jadi pinter. Kamu cuma berkehendak untuk ‘pura-pura’ pintar”

Kamu menetapkan ‘kepura-puraan’ sebagai kebenaran pura-pura guru, pura-pura penyair, pura-pura aktor, pura-pura politisi dan aktivis, pura-pura ustadz, pura-pura tua dan senior, pura-pura gubernur, pokoknya…all pura-pura.

Emang benar-benar setan Kamu ini! sekarang minggat Kamu. Gak pantes Kamu jadi muridku! Setelah itu Guru Jagger pergi“, ujar Syekh Mukhlisin, sambil menarik nafas panjang, teramat panjang dan pelan. Ada kabut yang turun di atas danau dalam matanya. Ada bangau yang patah sebelah sayapnya.

“Berarti Aku juga sama seperti Anda, ya Syekh,…tak masuk dalam kategori level manapun”, kata Moh Stamper berucap pelan ke kuping Syekh Mukhlisin.

“Apanya yang sama!!! Kamu gak usah ‘sok-sok’ an nyama-nyamain level ya!! Kau itu jangankan masuk ke level murad atau murid Kau jadi manusia aja belum!! Nalar gak pernah dipake kok merasa levelnya sama. Minggat sebelum ku parut jadi santan Kau!!!”, maki Syekh Mukhlisin.

“Alaaahh, sama aja kau juga pura-pura Syekh kan!!”, teriak Moh Stamper sambil ngacir.

“Awas kau Stamper! kampang kau!!”

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: