Syekh Mukhlisin: Positif Korona!

“menjaga sistem imun, daya tahan tubuh, memang penting, apalagi dalam situasi penuh virus seperti saat ini. tapi, sesungguhnya yg lebih penting lagi bagi kamu semua adalah menjaga daya tahan mental, daya tahan batin, sebab… ” belum usai Syekh Mukhlisin ngomong, Moh Stamper memotong

“maksud dan sebabnya, Syekh?”

“sebabnya, meski daya tahan tubuhmu prima, tapi kalau batin atau mentalmu melempem, tak kreatif, dan optimis, maka kamu nanti jadi manusia gedong, gede tapi dongo. sehat fisikmu, tapi mentalmu penuh kelemahan, ketaktahudirian, dan.”

“saya masih belum paham, Syekh…,” ujar Joni

“ya, memang sulit paham untuk kualitas manusia kayak kamu semua ini. kamu pikir kalau badanmu gemuk dan seger begitu otomatis batinmu juga seger? kamu pikir kalau kamu nyumput, mengkarantina diri, lalu menjaga daya tahan tubuhmu itu otomatis kamu bebas dari virus?, ya, memang bisa jadi kamu lolos dari corona, tapi faktanya, batin kalian sudah penuh dengan virus-virus kebloonan yang tak kalian sadari keberadaannya bertahun-tahun dalam jiwamu!” semprot Syekh Mukhlisin.

“ya, jangan nuduh gitu dong…” protes Iwan Seceng

“lho, siapa yang nuduh! faktanya gitu! kalau batinmu sehat, kalau daya tahan mentalmu kuat, maka, kalau kamu guru atau dosen tentu kalian takkan bersikap seperti pedagang atau kontraktor. kalau batinmu terawat, masak kamu yang seniman tapi ngasong dan menjilat kemana-mana kayak pengemis. kamu mahasiswa, tapi gak kreatif, punya cita-cita, dan optimis pada masa depan, malah bertingkah kayak orang uzur: pragmatis dan apatis. kamu aktivis, tapi mentalmu debt kolektor. kamu politisi, tapi mentalmu pencuri dan perampok. kamu ulama, tapi mentalmu narsis kayak abg dan ngebet jadi selebritis. kamu punya posisi sebagai intelektual, tapi kalkulasi mentalmu kok untung-rugi, bukannya bener-salah. kamu ngakunya budayawan, tapi luas kesadaranmu tak lebih besar ketimbang luas ukuran halaman rumahmu sendiri! paham kalian! lalu, kalian masih bertanya mengapa daya tahan mental juga harus dikelola?! ” teriak Syekh mukhlisin.

“paham, Syekh,” jawab joni dengan penuh kerendahan hati.

“tapi,…kenapa kalian semuanya berpakaian lengkap ala ADP petugas medis saat kita ngobrol seperti ini– pake helm, jas hujan, dan sarung tangan segala?”

“sebab…kami curiga…kalau anda sudah positif terpapar korona, Syekh, makanya kami pake kostum lengkap kayak begini,” terang Iwan.

“kampang kalian! gua sudah gak keluar dari rumah 2 bulan dan gak ada satu pun manusia yg pernah datang ke rumah ini! kok nuduh gua positif korona!! minggat kalian semua!!” teriak Syekh Mukhlisin histeris sambil sengaja menyembur-nyemburkan ludahnya ke muka iwan, moh stamper, dan joni.

 

Sumber: Facebook- Ari Pahala Hutabarat
(https://www.facebook.com/aripahala.hutabarat/posts/1789318077877666)

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: