Syekh Mukhlisin: Mbah Bob ‘Ngambek’

Tadi malam Mbah Bob berkunjung ke kober. Pengasuh Padepokan Beranda Bulan itu datang naik gojek. Dia masuk tanpa mengetuk pintu dan beruluk salam, langsung duduk saja di depan tv dan nonton Dangdut Academy sambil berkemul sarung apek sewarna kulit buah naga. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang pirau keabuan.

Abah Kevin, lelaki berjuluk The Little Voice, coba menawari Mbah Bob segelas kopi, tapi si mbah menggeleng pelan. Aku dan Brader For ngimprop menawari Mbah Bob martabak bangka, tapi doi menggeleng juga. Lantas kami semua diam saja. Hanya suara musik dangdut di tv yang membahana.

Mbah Bob melakukan standing aplause sambil menitikkan air mata ketika lagu Surga di Telapak Kaki Ibu selesai dinyayikan oleh Reza. Mbah Bob sempat mengusap air mata di pipinya sebelum pergi dari ruang tv.

Dia keluar, tapi lima menit kemudian masuk lagi. “Aku mau bilang sesuatu,” katanya ke arahku. “Tapi volume tv-nya dikecilin dulu.”

Apa, Mbah? Kritikan untuk acara Dangdut Academy, ya? kataku setelah mengecilkan volume tv.

“Bukan. Acara DA mah bagus, punya misi kultural.”

Pujian untuk suara dan penghayatan Reza kan? kata Brader For yang memiliki julukan The Tour Leader.

“Lain.”

Terus apa, Mbah? tanya Abah Kevin dengan suara kecil.

Pelan-pelan, sambil memegang dinding bata, Mbah Bob duduk lagi di ruang tv. “Semalem aku mimpi ketemu Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman bilang kalau orang Indonesia sedang dijangkiti penyakit yang susah disembuhkan, yaitu nggak tahu diri. Terus aku kebangun, dan nggak bisa tidur lagi. Aku cobak nafsir kata-kata Nabi Sulaiman tadi pakai bahasaku sendiri.” Mbah Bob berhenti bicara karena tiba-tiba dia terbatuk tiga kali. Melihat itu aku pun beranjak mengambilkan air minum untuk doi.

Selesai minum, berdehem, dan menghidupkan dji sam soe, Mbah Bob berkata lagi, “Bawah sadar kita ini 90% masih ngaceng ekonomi. Banyak bener yang make doa nabi Sulaiman tapi sayangnya masih untuk kepentingan perut pribadi atau kelompok sendiri.

Level jiwa masih rewani/material/sudra, tapi ngambil jenis pekerjaan level brahamana. Level jiwa masih sudra atau waisa, tapi ngambil jenis pekerjaan satria. Nggak panteslah pokoknya. Kebolak-balik; yang harusnya pantes jadi pedagang (level jiwa waisa), malah jadi seniman, atau guru, atau dosen (level jiwa brahmana), atau anggota dewan atau kepala dinas atau kepala bidang. Masih egois kok sok ngurusi banyak orang.

Contohnya kamu!” Mbah Bob menunjuk mukaku sambil menyemburkan asap rokok kreteknya, “level jiwamu itu kan masih material/sudra/jeruji sepeda, kok berani-beraninya ngaku jadi seniman. Masih egosentris tapi nyamar jadi sok community-sentris, etnosentris, worldsentris, cosmosentris! Wakakakaka.”

Aku ternganga. Brader For dan Abah Kevin tertawa.

“Kalian juga! Kamu botol kecap!” katanya ke arah Abah Kevin. “Kamu bungkus tolak angin!” katanya kepada Brader For. Mbah Bob bergantian menampari pipi mereka.

Abah Kevin dan Brader For terdiam. Aku pun demikian.

“Susah ngomong sama kalian. Pokoknya malem ini aku ngambek!” Mbah Bob beranjak, dan kembali meninggalkan ruang tv.

Bener kata Syekh Mukhlisin, Mbah Bob memang suka ngambek.

“Wir!” kata Mbah Bob sambil menyembulkan kepalanya yang ditutupi kupluk hitam dari balik dinding bata. Dia masuk lagi rupanya.

Ya, Mbah? kataku.

“Tolong pesenin gojek.”

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: