Syekh Mukhlisin: Lokdon Total

Akhir-akhir ini aku sering teringat sama kawan-kawan lamaku. Kayaknya kangen,” ujar Syekh Mukhlisin sambil menghela nafas, menyedot dalam-dalam sebatang kretek Unggul, lalu menghembuskan asap kelabunya ke langit biru terang.

Seekor kucing pejal berwarna kecoklatan, Turbo, lewat di jalan beraspal, melirik sekilas ke arah Syekh Mukhlisin, lalu menyeringai. “Kucing buduk itu aja tahu keresahan hatiku,” kata Syekh Mukhlisin.

“Mungkin karena Bung lagi bokek, ” ujar Iwan Ngeces coba menenangkan. “Biasanya Dji Sam Soe, kok sudah nyedot Unggul sekarang.”

“Bisa jadi. gara-gara korona semuanya jadi lokdon. termasuk kantong dan perasaanku. tapi soal sebenernya bukan soal lokdon total ini kok. kayaknya aku memang lagi kangen ama kawan-kawan. Social distancing, penjarakan sosial, malah memunculkan penjarakan-penjarakan yang memang sudah lama berlangsung di antara kita: penjarakan-psikologis, penjarakan-citacita dan harapan, penjarakan-kesadaran, penjarakan-pengetahuan, sampai ke penjarakan spiritual.”

“Penjarakan asmara dan perasaan juga, Bung,” sela Iwan.

“Ya, penjarakan asmara juga. Mungkin.”

“Tapi, ngomong-ngomong, Bung, aku kok kurang paham soal yang Bung katakan kemarin, soal ulama tapi kok bermental narsis dan ngebet pingin jadi slebritis. Maksudnya gimana itu, Bung?”

“Lha, ulama itu kan harus berorientasi membesarkan Allah di segenap sisi dan perilaku hidupnya, bukannya berusaha sungguh-sungguh untuk membesarkan dirinya sendiri, egonya sendiri. Capaian tertinggi ulama itu kan memang harus lebur, fana, lenyap di dalam keindahan tuhan dan semesta, bukannya lenyap di dalam dirinya sendiri. Paham. Jadi, kalaupun ia terkenal dan fotonya banyak dipajang umat, itu bukan karena kehendaknya, bukan karena ada semacam strategi publikasi atau pemasaran yg diam-diam secara tak sadar dirancangnya, tetapi memang karena, oleh keadaan, ia “dipaksa” untuk jadi terkenal dan jadi selebritis dan–sesungguhnya, ia sendiri pun tak menikmati status ke-selebritis-annya itu,” jelas Syekh Mukhlisin, lalu mematikan kreteknya ke asbak, lalu menyeruput kopinya yg mulai agak dingin.

Langit makin merah. Sudah ada suara ngaji di masjid.

“Lantas, Bung, soal yang kedua, soal status ontologis seniman dan intelektual itu, Bung. Kan kemarin Bung bilang bahwa seniman itu tak layak minta-minta ke pemerintah, apalagi sampe menjilat-jilat dan cari muka. Terus Bung bilang, yang namanya intelektual, misalnya guru atau dosen itu, jangan sampe punya mental kayak pedagang. Kamsudnya gimana itu, Bung? Menurut saya kan wajar aja sih, Bung. Kan mereka juga punya kebutuhan ekonomi untuk hidup,” cecar Iwan bersemangat.

“Lho, yg melarang orang cari duit biar kebutuhan hidupnya tercapai itu siapa! Tapi harus sadar status keberadaannya di tengah gelanggang peradaban ini dong! Seniman memang gak pantes minta sama pemerintah, yang boleh itu bekerjasama, berkolaborasi, bukan minta. Seniman, juga kaum intelektual, itu kan maqom kesadarannya brahmana, begawan, yang lebih tinggi ketimbang pemerintah yg maqomnya itu ksatria, aparatur, masak orang yg maqomnya lebih tinggi ngemis-ngemis atau punya mental pedagang yang maqomnya waisya, yang kalkulasinya terhadap segala sesuatu berdasar hukum untung-rugi, kayak guru2 dan dosen2 kita sekarang ini yg bukannya mikirin ilmu untuk bikin riset dan bikin tulisan ilmiah nan bermutu malah mikirin pangkat, gaji ke 17, dan duit melulu! Ilmuwan itu kariernya pencapaian ilmu, bukan pangkat birokatif. Seniman itu kariernya penyingkapan estetik, karya yang menghasilkan epiphani, bukan terkenal gak terkenal! Mudahnya, kalau kamu mau kaya raya, ya jangan jadi seniman atau ilmuwan, keliru secara ontologis kamu, nah, sudah pake istilah ngawur kamu juga saya. Jadilah pengusaha. Berdagang. Jual-beli bener-bener. Kan Nabi SAW juga berdagang.

Jadi, harusnya pemerintah dong yang tahu diri! mereka yang harusnya mendatangi seniman dan kaum intelektual, kasih perhatian dan duit, biar mereka bikin riset2 atau karya2 kreatif, karena pemerintah yang butuh mereka biar birokrasi dan peradaban ini tetep waras, bener, objektif, sekaligus punya kearifan dalam menyelenggarakan pembangunan. Bukannya berlagak jadi bos di hadapan seniman dan ilmuwan. Dengan catatan–seniman atau ilmuwan atau ulama nya juga bukan yang kaleng-kaleng! Paham!!” ujar Syekh Mukhlisin mulai naek darah.

“Tapi, Bung…yang…” Iwan Ngeces mau menyela.

“Nanti dulu. Kamu ini dari tadi saya perhatikan ngomong dengan saya pake gaya Bang… Bung… Bang… Bung… Bang… Bung…. Kamu pernah keselek pisang mentah nggak? Mau kamu ngeliat pisang mentah saya???” ujar Syekh Mukhlisin naik pitam sambil mulai berdiri dan memegang kancing celana blue jeans-nya.

Iwan Ngeces lekas-lekas minggat.

 

Sumber: Facebook- Ari Pahala Hutabarat

(https://www.facebook.com/aripahala.hutabarat/posts/1790243437785130 )

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: