Syekh Mukhlisin: Kesadaran Batang Kates

Sambil mengelus-elus batang kates yang ada di halaman depan kontrakannya, Syekh Mukhlisin berbisik, Ia mencapai kesempurnaan kemanusiaannya mulai dari level moral “jangan menyalahkan jangan pernah menyalahkan setiap individu berprilaku, bertindak, bahkan berpikir selalu berdasarkan level jiwanya masing-masing, berdasarkan ‘maqomnya’ masing-masing dan level ini jangan disalahpahami sekedar tingkatan kognisi atau intelektualitas, jenjang akademik apalagi umur, tapi jumlah keseluruhan dari unsur-unsur yang jadi bahan baku agar Ia menjadi manusia dan bahan baku yang kelak Ia capai saatnya, emosinya, aspek fisikalnya, bawah sadar personal dan kolektifnya, sampai pengenalan dan pengakuan akan shadow-nya.

Karena itulah ‘kekasih’ kita semua, penghulu sekaligus muara bagi segenap keharuman, Muhammad SAW, hanya berucap “Mereka tidak tahu, Mereka tidak tahu” soal kekejian yang dilakukan seseorang atau kaum kepada diri dan misinya yang mulia. Ia tidak menyalahkan.

Yang harus Engkau salahkan, Mukhlisin, bukan orang lain, tapi dirimu sendiri, mengapa Kau tidak tahu pada posisi atau level apa saat ini dirimu berdiri.

Yang harus Kau salahkan, Mukhlisin, adalah ketidak-tahuanmu untuk selalu mewaspadai asal gerak pikiran dan desir hatimu sendiri, dari bagian dirimu yang mana mereka muncul, hadir.

Yang harus Kamu salahkan, Mukhlisin, adalah jika Kamu merasa bahwa level jiwamu sudah ‘Pendeta’ padahal sesungguhnya masih di level ‘sayur bayam’ atau, paling mentok ‘ikan bawal‘.

Yang harus Kau salahkan adalah jika Kau berprilaku bagai masih berada di level emping melinjo atau kuda nil padahal sesungguhnya Engkau sudah jadi manusia. Paham Kau, Mukhlisin?”

Moh Stamper dan Mat Frengki yang melihat kelakuan Syekh Mukhlisin dari balik gordin tidak lagi merasa heran. Sebab Mereka tahu, pohon kates di halaman itu adalah reinkarnasi dari pacar Syekh Mukhlisin di kehidupan sebelumnya, beratus-ratus tahun yg lalu.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: