Syekh Mukhlisin: Kebetulan Adalah Bagian dari Iman

Kalimat yang ditulis pakai spidol merah itu sekarang nangkring di dinding ruang tamu kontrakan kami yang baru dengan gagahnya. Kontan kami protes, siapa yang nekat bikin dan nempel poster yang gak jelas sanad-matannya macam begini di ruang tamu pula.

Tapi, melalui penyelidikan yang gak terlalu dalam, ketahuan kalau yang membuat dan menempel poster itu adalah Syekh Mukhlisin. Wah, ngawur nih Syekh! ujar Sutopo, salah satu pemain teater kami yang alumni IAIN.

“Maksudnya ngawur?” kata Syekh Mukhlisin.

“Yaa..nggak ada riwayatnya bahwa kebetulan adalah bagian dari iman, Syekh. Yang ada kebersihan adalah bagian dari iman, menyingkirkan duri di jalan adalah bagian dari iman, malu adalah bagian dari iman…dan lain sebagainya. Nah, kalau kebetulan ini aku belum pernah membacanya.”

“Memangnya apa definisimu tentang Iman?” tantang Syekh Mukhlisin. Iman itu kan sesuatu hal yang harus kita yakini kebenarannya. Ia bisa berada di dasar, akar, atau menjadi muasal dari tindakan–atau bisa juga ia menjadi tindakan, atau output, tapi dihasilkan dari keyakinanmu akan sesuatu.

Menyingkirkan duri di jalan, malu, atau bersih-bersih kan semuanya adalah output, buah dari pemahaman dan keyakinanmu tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dan yang baik dan tidak baik ini muncul dari pemahamanmu yang holistik tentang keagungan zat, asma, dan af’al Allah SWT. Nah, kebetulan, baik secara konseptual maupun bentuk lahiriah–menurutku merupakan buah dari kerja tuhan yang Maha Menentukan, Maha Kuasa, Maha Menciptakan, Maha Kreatif, Maha Mengatur, dan lain-lain.

Adanya ‘kebetulan’ adalah bukti yang konkret–bahwa engkau tak memiliki kuasa atas masa depanmu, hari esok, dan lain-lain. Bahwa wewenang yang diberikan kepadamu sebatas pada merencanakan dan berharap-harap–tapi keputusannya mutlak di tangan tuhan, Bahwa di setiap langkah linier horizontal, akan ada potongan-potongan garis vertikal yang tak bisa kau tebak di mana dan kemana titik potong dan arahnya…

Makanya kalian jangan heran kalau melihat banyak bertabur ‘kebetulan’ dalam lingkungan sosial-kultural-ekonomi-(dan lebih-lebih) dunia politik di tanah air kita tercinta ini. ‘Kebetulan’ bapaknya gubernur–maka ia jadi bupati. ‘kebetulan’ bapaknya bupati, maka ia juga menjadi bupati. dan lain-lain…dan lain-lain…”

“Wah, berarti pergaulan hidup sosial kita nggak rasional dong Syekh?” ujar Moh Stamper antusias.

Siapa bilang hidup di Indonesia ini rasional. Rasionalitas itu kan fondasi, media, sekaligus buah dari kalkulasi-kalkulasi berdasarkan hukum sebab-akibat, logika linier, dan dialektika.

Lah dimana kita bisa merasionalisasi jabatan menteri-menteri yang nggak sesuai dengan latar belakang kuliah atau ilmunya itu? Kuliah di Fakultas Pertanian kok kerja di bank? kuliah di FKIP kok jadi makelar politik? Dan sebagainya. Saya berani memastikan bahwa lebih dari 75% orang-orang Indonesia yang sekarang bekerja di suatu bidang pekerjaan tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan yang dijalaninya sewaktu ia kuliah dulu…dan pasti 90% orang bekerja di bidang yang bukan ia cita-citakan secara sadar dan rasional.

Semuanya bekerja karena ‘kebetulan-kebetulan’. Jadi bupati kebetulan, jadi guru dan dosen kebetulan, jadi bisnisman kebetulan, jadi menteri kebetulan, jadi gubernur kebetulan, jadi penulis dan penyair kebetulan, jadi dukun kebetulan, jadi aktor teater kebetulan, jadi pejabat kebetulan, dan lain-lain.

Maka itu saya katakan: Kebetulan adalah bagian dari iman. Di Indonesia–kebetulan adalah keniscayaan dan kepastian. Engkau tak bisa berpegang pada kepastian dan rasionalitas. Engkau harus beriman pada kebetulan…hahaha…

Makanya, di republik atau di provinsi ini tidak dibutuhkan profesor-profesor, doktor-doktor, ilmu politik dan pemerintahan! Nggak laku mereka untuk jadi penentu kebijakan pembangunan di negeri kebetulan. Yang dibutuhkan ialah: kalau kamu ‘kebetulan’ punya bapak kaya raya, maka kamu bisa nekat nyalon jadi bupati atau gubernur…haha…

Karena itu kalian jangan mudah ge-er. Hidup dan kerja karena ‘kebetulan’ kok ngengkeng mestinya ditanamkan dalam hati kita dalam-dalam, dengan tawadhu, bahwa kebetulan yang kualami ini pasti bukan kebetulan, jadi aku harus sungguh-sungguh menjalani peran kebetulan ini, melakukan optimalisasi akting terhadap adegan yang ‘kebetulan’ ini, sehingga sikap dan hasilnya nanti gak ‘kebetulan’ baik dan bagus.

Contoh salah seorang guruku (namanya sengaja kurahasiakan): dia niatnya mau bikin novel, eeh…kebetulan yang jadi buku puisi…hahaha untung puisinya keren2, jadi itu kebetulan yang keren juga namanya…hahahah…

Aku, Subandi, Gurjep, Moh Stamper, dan Sutopo secara kebetulan manggut-manggut bareng.

“Dan kalian adalah contoh dan bukti kebetulan-kebetulan yang paling parah…hahaha…” Syekh Mukhlisn mingkel-meingkel ketawa sampe terguling2.

“Maksudnya, Syekh?”

“Kalian kan kebetulan aja jadi manusia, karena kalian sebetulnya beruk! hahaha….” kata Syekh Mukhlisin.

“Berarti Anda juga sebetulnya Beruk dong, Syekh, atau minimal Anda ini sebetulnya batu asahan….hahahahahuhuhihii…” Ujar Moh Stamper nekat.

Suasana menjadi hening seketika.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: