Syekh Mukhlisin: Ahwal ‘Kesepian, Kesunyian, dan Keheningan’.

“‘Kesepian’, Keheningan, dan Kesunyian adalah tiga keadaan yang mirip-mirip, ahwal, yang pernah dan kerap kita alami, oleh karena itu aku akan membicarakannya hari ini”, kataku pada teman-teman di kontrakan pada acara diskusi Tasawwuf Kompentorer yang selalu rutin dilakukan setiap malam Minggu lepas jam 12 malam sampai masuk subuh. Seperti biasa Syekh Mukhlisin menjadi moderator pada setiap diskusi.

“Kesepian, ini banyak terjadi pada Manusia modern, buah dari ego yang terluka. Mengapa banyak menimpa manusia modern, wa bil khusus orang kota dan terpelajar, karena Mereka menisbahkan bangunan atau konstruksi psikologis dari eksistensinya kepada variabel-variabel eksternal.

Misalnya pada perhatian dan support orang lain; bisa pacar, suami/istri, teman, wartawan (kalau dia selebritis), partai (kalau dia politisi), bos atau atasan (kalau dia karyawan), pada politisi dan birokrat (kalau dia pengusaha atau rekanan), dan lain-lain, dan lain-lain.

Pokoknya individu jenis ini berpegangan pada adagium ‘Kamu Menganggapku, maka Aku Ada’.

Karena itu, jika orang yang amat Ia butuhkan anggapan-anggapannya tentang dirinya tersebut tiba-tiba memalingkan/mengalihkan perhatiannya kepada individu atau pihak yang lain, maka secara otomatis kita akan mengalami ‘kesepian’, kita merasa ‘tak ada’, tidak eksis, dan merasa hidup dalam kehampaan dan kesia-siaan.

Pada ahwal yang semacam ini, keadaan ‘kesepian’ lebih dominan mengandung konotasi negatif dalam ruang psikologis manusia. Kata lainnya, ‘kesepian’ adalah semacam lubang hitam atau black hole dalam ego individu yang kerjaannya mau menghisap secara mati-matian energi individu lain yang ada di sekitarnya.”

Subandi, Sepiut, Gurjep, Moh Stamper, dan yang lainnya manggut-manggut. Mata mereka melotot mencerap pengetahuan dariku. Syekh Mukhlisin cengar-cengir penuh kebijaksanaan.

“Yang kedua, ‘Kesunyian’. Kesunyian merupakan keadaan atau ‘Hal’ dimana lubang hitam pada ego, yang berwujud pada rasa ‘kesepian’ tadi telah tertutup.

Pada fase ini kita telah merasa ‘cukup’ dengan diri kita sendiri. Ada atau tak ada orang yang ‘menganggap’, kita tetap eksis, tetap muncul.

Individu yang berada pada ‘maqom’ ini biasanya sudah enak diajak ngobrol, mukanya nggak lagi semrawut, rahangnya rileks, ketawanya mulai lepas, nggak cuma asyik ngomongin diri sendiri, tapi sudah mulai mau menanyakan kabar orang lain juga, kaki dan hatinya nggak lagi males silaturahmi, nggak cari perhatian terus, perhatiannya nggak lagi terbatas pada diri atau kelompoknya sendiri, namun mulai melebar ke kelompok yang lain, dan efek2 lainnya yang bisa kita rasakan.

Namun, meski mereka mulai merasa ‘cukup’ dan nyaman dengan diri mereka sendiri, karena perhatian dan konsentrasi mereka mulai melebar dan meluas ke luar dari diri dan kelompoknya, makarasa sepi ekologis’ mulai merayap di dada mereka.

Yang dimaksud rasa sepi ekologis adalah keadaan ‘kesepian’ yang tidak lagi terpusat pada ego-nya sendiri, sebentuk sepi yang tak lagi individualistis. Mereka merasakan ‘kesepian demi kepentingan orang banyak’.

Jadi, mereka-mereka yang merasakan kesunyian juga akan berteriak dan mencari perhatian tapi itu semua bukan untuk kepentingannya pribadi, tapi untuk kepentingan yang lebih luas.

Mereka mengggugat, menggugat sistem ekologis ekonomi yang tidak adil ! Mereka bertanya, namun menanyakan ruang kesehatan ekologis kultural yg terpinggirkan oleh para birokrat dan koruptor di kantor-kantor pemerintahan! Mereka menangis, tapi bukan menangis karena ditinggal pacar atau karena karier nggak nanjak-nanjak, tapi menangisi sisitem pendidikan politik yang ngakal-ngakali rakyat kecil!

Mereka curhat dan terheran-heran, mengapa pohon-pohon di tebang, sehingga beruk, ular, dan musang lari dari hutan dan masuk ke gedung-gedung wakil rakyat dan gedung pemerintahan! dan lain-lain, dan lain-lain. Demikianlah hakikat dari kata ‘kesunyian'”
Sepiut, Subandi, Gurjep, Moh Stamper, dan lainnya menarik nafas, dalam dan panjang.

“Keadaan yang ketiga adalah ‘Keheningan’.

Keheningan adalah keadaan dimana tiada lagi tempat bagi kekecewaan, baik individual maupun komunal.

Mereka-mereka yang sedang merasakan ‘hening’ berarti sudah memahami bahwa semuanya adalah game, permainan yang harus dijalankan dengan serius, penuh kalkulasi dan strategi pemenangan bagi kepentingan individu dan orang banyak, namun harus dijalani dengan riang dan rileks.

Keheningan adalah keadaan batin yang ‘non-ngototan’. Keheningan adalah situasi saat jagad mikro yang ada pada dirimu dan komunitasmu bersatu dengan jagad makro; orang banyak, lingkungan alam-benda di sekitar, dan alam semesta.

Pada level ini, si individu yg mengalaminya tak lagi berusaha mencari perhatian, Ia tawakkal Ilallah, berserah pada arus hidup, pada prana yang memancar di dalam dan diluar dirinya.

Hanya orang yang telah berserah atau tawakkal-lah yang bisa mengalami ‘Hening’. Ia umpama air, yang selalu menyesuaikan bentuknya sesuai dengan konteks ‘wadahnya’, namun secara prinsipil dan zat Ia tetap air.

Ia umpama batu, yang sangat keras, namun menggelinding secara asyik. Rock namun Rolling. Jika Kamu bisa ‘hening’ barulah Kamu bisa bertindak Rock’n Roll secara sejati!”
Kami semua menarik nafas, manggut-manggut, menyerap ilmu, pemahaman, dan prana.

“Namun, coba kalian lihat Syekh Mukhlisin. Ia bahkan telah melampaui ketiga keadaan tersebut”, ujarku.
Kompak Kami menoleh ke arah Syekh Mukhlisin yang duduk diam dan khusuk di pojokan.

“Wah, Syekh begitu khusuk pemahamannya”, ujar Sepiut.
“Coba lihat! ada pendar sinar kebiru-biruan di sekujur tubuhnya!” kata Subandi.

“Ssssttt, hawa dingin mengepung Kita, mungkin dari meditasinya”, Ujar Gurjep.

“Lihatlah!”, kataku. “‘Maqom’ Syekh Mukhlisin bahkan telah melewati tiga keadaan yang kusebutkan tadi! Ia telah melampauinya. Ia tidak lagi mengalami kesepian, kesunyian, bahkan keheningan!” ujarku.

“Keadaan apa yg sekarang sedang ia alami Bung??!!” ujar kami serentak ingin tahu.
“ketiduran”, ujarku.

Ringkik ngorok Syekh Mukhlisin menyebar ke tujuh penjuru. “Khusuk apaan!!” kata Moh Stamper misah-misuh.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: