Beranda Ide Subjek yang Radikal (Berguru pada “eggboy” Conolly)

Subjek yang Radikal (Berguru pada “eggboy” Conolly)

279
0
BERBAGI
sumber gambar https://www.sbs.com.au/yourlanguage/arabic/en/article/2019/03/19/egg-boy-now-donating-money-families-christchurch-shooting-victims

Setelah kita semua dirundung kesedihan atas peristiwa penembakan brutal yang dilakukan oleh Brenton Tarrant. Orang “gila” yang terobsesi dengan kulit putihnya, yang dengan obsesinya itu membunuh 49 nyawa dengan keji di dua masjid Selandia Baru. Ditambah lagi, pernyataan konyol Fraser Anning seorang senator Queensland, Autralia yang menyalahkan islam sebagai penyebab terjadinya teror tersebut. Yang keduanya sama-sama memerahkan kuping kita semua.

Terus terang, saya amat geram mendengar kedua kabar tersebut, saya rasa bukan hanya saya saja yang geram! Tapi seluruh manusia yang akal dan hatinya masih berfungsi pun ikut merasakan hal yang sama. Namun, di tengah kegeraman yang melanda, perasaan kita terasa terwakili oleh tindakan berani seorang pemuda bernama Conolly yang dengan keberaniannya mengepruk telur ke kepala senator konyol, tersebut. Atas tindakannya ini Conolly dijuluki “eggboy” dan dibanjiri banyak simpati.

Setelah tindakannya tersebut, warga net yang merasa dirinya terwakili berinisiatif menggalang dana  melalui situs GoFoundMe untuk menunjukan dukungan kepada Conolly. Hanya dalam waktu sepuluh jam, dana telah terkumpul sebesar USD 5000, dua kali lipat melebihi target, yakni USD 2000. Bahkan, atas tindakan tersebut beberapa group band terkenal asal Australia dan Amerika Serikat seperti band Hilltop Hoods, The Amity Affliction, The Living End (TLE), dan Violent Soho mengapresiasi tindakan Conolly dengan menghadiahi tiket gratis seumur hidup untuk menyaksikan konser mereka.

Namun, di tengah banjir dukungan dan apresiasi atas tindakan berani Conolly, terbersit pertanyaan. Pantaskah Conolly mendapatkan itu semua dan atas dasar apa tindakan berani yang kurang ajar itu di dukung dan diapresiasi? Bagi orang yang giat mengkampanyekan bahwa islam adalah agama yang damai, toleran, dan moderat mungkin mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Satu argumen yang acapkali mereka lontarkan, karena Fraser Anning secara serampangan  menjustifikasi Islam sebagai agama teror. Dan atas pernyataannya tersebut sudah selayaknya di kepruk dengan telur. Atau, jikalau perlu dengan palu pun tak jadi masalah.

Ilustrasi Tindakan Conolly
Sumber Gambar: www.mushlihin.com

Tetapi, jawaban di atas tidak cukup memuaskan dan tidak menjawab keseluruhan pertanyaan yang diajukan. Karena ada fenomena lain dalam kejadian ini, kita justru mendukung dan mengapresiasi tindakan berani yang sebenarnya, bila diukur dengan parameter norma yang berlaku di masyarakat terbilang kurang ajar. Lantas, apa yang sebenarnya kita dukung dan apresiasi dari si “eggboy” bila demikian faktanya?

Oleh karena itu, kita musti berani meninggalkan jawaban klise di atas dan memberanikan diri menyelami pikiran rumit seorang filsuf kelahiran 21 Maret 1949 Ljubljana, Slovenia (dulu Yugoslavia). Karena pikirannya mampu menjawab pertanyaan diatas dengan jelas. Bagi Zizek, yang “riil” adalah yang sebenar-benarnya terjadi dalam realitas. Hal ini penting, mengingat kita tengah hidup di tengah hutan rimba citraan yang dalam istilah Jean Baudrillad era Hiperealitas (realitas yang dilebih-lebihkan).

Pada era ini, kita kesulitan menangkap yang “riil” dan teralihkan pada yang simbolik. Artinya, kita menganggap yang “riil” pada apa yang dibentuk oleh simulasi, yang disokong oleh kemajuan teknologi dan informasi mutakhir. Dimana, sebuah situasi dan kondisi tertentu  diciptakan secara artifisial dalam rangka mendapatkan pengalaman tentang sesuatu yang terdapat di dalam realitas. Yakni, sebuah tindakan berpretensi, seakan-akan tindakan itu nyata, padahal tidak. Misalnya, dalam sebuah latihan menerbangkan pesawat, seorang calon pilot dengan bantuan citra komputer berlatih menerbangkan pesawat dan seakan-akan tengah menerbangkan sebuah pesawat sungguhan (riil), padahal tidak.

Celakanya, simulasi ini tidak hanya terjadi pada tataran teknologis. Tetapi juga di seluruh aspek kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, politik, hukum, media, perang, seksualitas, dan spritualitas. Kesulitan menangkap yang “riil” adalah penyebab manusia memuja yang simbolik, yang terumuskan dan terwakili via wacana, institusi, maupun gagasan. Oleh karena itu, kita kerap kali menempatkan yang “riil” sebagai yang “simbolik” dan yang “simbolik” sebagai yang “riil”. Sebagaimana pernyataan yang dilontarkan oleh Fraser Anning, kita dapat amati bersama bahwa hal tersebut hadir sebagai upaya untuk menafsirkan yang “riil” via bahasa yang ia lontarkan ke awak media. Untuk apa? untuk memutarbalikan yang “riil” pada yang “simbolik”. Dan hal tersebut, sekaligus membuktikan bahwa simulasi juga bekerja di ranah politik.

Untuk melampaui yang simbolik di era hiperealitas, dalam pandangan Slavoj Zizek, subjek harus berani menerobos yang simbolik dengan mengisyarakatkan hadirnya subjek radikal. Subjek yang akan selalu berusaha menembus tembok yang dibangun atas “yang simbolik” dalam mendefinisikan  kebenaran atau realitas. Bila sampai pada tahap ini, subjek radikal akan selalu menjadikan “yang riil” sebagai tujuan.  Dan dapat melihat “kesalahan” dari “yang simbolik”, serta tidak puas pada apa yang nampak, terlihat, dan hadir dihadapannya sebagai seuatu yang taken for granted. Ringkasnya, seperti diktum yang terkenal dari Zizek tentang filsafat “filsafat selalu dimulai pada saat kita tidak lagi menerima apa yang ada sebagai yang begitu saja diberikan”.

Hadirnya subjek radikal, dapat kita jumpai dalam tindakan yang dilakukan oleh Conolly saat mengepruk telur ke kepala senator Fraser Anning. Conolly menolak tunduk atas pemutarbalikan yang “riil” sebagai yang “simbolik” via bahasa yang diucapkan oleh sang senator. Oleh sebab itu, tak berlebihan rasanya bila Conolly mendapat berbagai dukungan dan apresiasi atas tindakan beraninya tersebut.

Karena, bila kita berbesar hati dan mau jujur terhadap diri kita, bahwa menjadi subjek radikal adalah hal yang sukar untuk dilakukan.  Dan ini menjadi catatan yang menampar seluruh pemuda Indonesia yang kerap kali dibohongi oleh para politisi (terlebih musim kampanye)  dan tak ada satu pun dalam catatan sejarah pemuda selama 20 tahun belakangan terdapat aksi yang seradikal Conolly. Oleh sebab itu, kita perlu  berguru pada Conolly untuk menjadi subjek radikal dan mendekonstruksi “yang simbolik”. Dan mendaratkan telur ke kepala para politisi yang kerap kali menipu kita. Atau, jikalau perlu dengan palu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here