Beranda Ide Stephen Hawking in Memoriam

Stephen Hawking in Memoriam

112
0
BERBAGI
sumber gambar: http://simplyknowledge.com/popular/biography/stephen-hawking

Bagi para pecandu kosmologi tentu tidak asing dengan pria  yang bernama Stephen Hawking. Dia adalah seorang ilmuan jenius dan salah satu yang berpaling berpengaruh di abad 21. Kematiannya 14 Maret 2018 kemarin membawa duka bagi para pecinta ilmu pengetahuan.

Hawking dilahirkan di Oxford, Britania Raya pada 8 Januari 1942 dari pasangan Frank dan Isobel ditengah berkecamuknya Perang Dunia II. Ia memiliki dua saudara kandung, yaitu Philippa dan Mary, dan saudara adopsi, Edward. Orang tua Hawking tinggal di North London dan pindah ke Oxford ketika ibu Hawking sedang mengandung dirinya untuk mencari tempat yang lebih aman.[1]

Hawking menikah dengan Jane Wilde, seorang murid bahasa, pada tahun 1965. Jane Hawking mengurusnya hingga perceraian mereka pada tahun 1991. Mereka bercerai karena tekanan ketenaran dan meningkatnya kecacatan Hawking. Mereka telah dikaruniai tiga anak: Robert (lahir 1967), Lucy (lahir 1969), dan Timothy (lahir 1979). Hawking lalu menikahi perawatnya, Elaine Mason (sebelumnya menikah dengan David Mason, perancang komputer bicara Hawking), pada tahun 1995. Pada Oktober 2006, Hawking meminta bercerai dari istri keduanya.[2]

Pada usia 21 tahun stephen Hawking didiagnosis menderita Sklerosis Lateral Amyotrophic (penyakit Neuron Motorik). Penyakit ini membuat ia kehilangan tubuhnya, tubuhnya mengalami kelumpuhan yang cukup parah hingga ia kesulitan untuk bicara. Pihak medis pun mengatakan bahwa ia hanya akan bertahan selama 2 tahun.

Namun ternyata hal tersebut malah membuatnya lebih fokus pada studinya yang menghasilkan beberapa karya dan penelitian, karena Hawking berfikir dalam waktu sesingkat itu bahkan mungkin ia tidak bisa menyelesaikan studinya. Namun, ternyata karirnya terus melambung hingga usia 76 tahun.

sumber: http://www.sknews.ru

Karyanya yang sangat terkenal adalah A Brief History of Time. Buku ini berusaha menjelaskan berbagai hal dalam kosmologi, termasuk ledakan besar (Big Bang), lubang hitam (Blackhole), dan kerucut cahaya untuk pembaca awam. Tujuan utamanya adalah memberi tinjauan tentang subjek ini sekaligus menjelaskan beberapa rumus matematika rumit (tidak lazim untuk buku sains populer). Edisi tahun 1996 dan selanjutnya membahas kemungkinan perjalanan waktu dan lubang cacing dan mengungkap kemungkinan memiliki alam semesta danpa singularitas kuantum pada awal waktu.[3]

Selain tentang kosmologi Hawking juga memiliki pendapat sendiri masalah keyakinan (agama). Hawking menyatakan bahwa ia “tidak setaat orang-orang pada umumnya” dan ia percaya bahwa “alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan”.

“Ada perbedaan mendasar antara agama yang didasarkan pada perintah [dan] sains yang didasarkan pada pengamatan dan nalar. Sains akan menang karena selalu terbukti.” Salah satu ucapan hawking.

“Hukum-hukum [sains] ini bisa jadi ditetapkan oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak campur tangan untuk melanggarnya,” kata Hawking. Dalam wawancara di The Guardian, Hawking memandang konsep surga sebagai mitos. Ia yakin bahwa “surga atau akhirat itu tidak ada” dan hal-hal seperti itu “hanyalah dongeng bagi orang-orang yang takut kegelapan,” Pada tahun 2011.

Ketika menarasikan episode pertama seri televisi Curiosity di Discovery Channel, Hawking mengatakan: Kita bebas percaya apapun, dan saya memandang bahwa penjelasan paling sederhananya adalah Tuhan itu tidak ada. Tidak ada sosok yang menciptakan alam semesta dan tidak ada pula yang menentukan nasib kita. Pandangan ini membuat saya sadar akan hal lain. Mungkin surga itu tidak ada. Demikian halnya dengan akhirat. Kita hanya hidup sekali untuk menikmati besarnya alam semesta ini. Saya sangat bersyukur atas nikmat tersebut.

Pada September 2014, ia hadir di Starnus Festival sebagai pembicara dan mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang ateis. Dalam wawancara dengan El Mundo, ia berkomentar:

Sebelum kita paham ilmu pengetahuan, wajar saja kita percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta. Namun, sains kini memiliki penjelasan yang lebih meyakinkan. Ketika saya mengatakan ‘kita akan mengetahui isi pikiran Tuhan’, maksud saya adalah kita akan tahu semua hal yang diketahui Tuhan, itu pun seandainya ada Tuhan, dan memang tidak ada. Saya seorang ateis.[4]

Begitulah perjalanan seorang cacat yang jenius. Keterbatasan fisiknya tak menghalanginya untuk terus berkembang. Kematiannya meniggalkan duka yang mendalam bagi kebanyakan orang khususnya para ‘saintis’. Sekian

 

Sumber:
  1. http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1388895766
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Stephen_Hawking#Kehidupan_pribadi
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/A_Brief_History_of_Time
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Stephen_Hawking#Agama_dan_ateisme

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here