Beranda Ruang Silaturahmi

Silaturahmi

Ari Pahala Hutabarat

130
0
BERBAGI

“Kamu Som-se!” ujar Syekh Mukhlisin tadi pagi di kontrakanku sambil mukanya plengas-plengos gak keruan. “Kamu som-se, sombong sempurna, aku kontak sudah semingguan ini, kok gak dijawab. Kemana aja kamu?”

“Aku di rumah aja, syekh. Kalau keluar paling banter latihan teater kok,” jawabku.

“Terus, kok teleponku kemarin gak kau jawab?”

“Oh, waktu itu aku lagi nge-sms pacarku, Syekh.”

“Emailku sejak minggu kemarin, juga gak kau respon?”

“Oh…belum sempet kubuka inbox-nya Ya Syekh, aku ke Mesuji, lagi ada proyek pengadaan komputer.”

“ Aku juga kirim surat, kok gak kau bales-bales?”

“Wah, mungkin belum nyampe suratnya Syekh. Tapi, memang aku kan sedang ada di luar rumah?”

“BB-mu gak aktif?”

“Nggak, aku lagi banyak rapat Syekh.”

“Terus, td malam kemana? Aku kan datang ke mimpi-mimpimu tapi kamu gak nyambut aku? Padahal aku terpaksa meditasi seharian biar bisa masuk dan menjumpaimu ke alam mimpimu, kok kamu tetep gak ada?”

“Oh, memng dari tadi malam sampe sekarang aku belum sempet tidur, Syekh, jadi memang aku belum mimpi seharian ini…” kataku.

“Wah! Itulah! Sombong sekali kamu! Katanya kita berteman, tapi selalu enggan kau mendengarkan tegur-sapaku. Katanya kita sehati, tapi kau selalu sibuk dengan pikiran-pikiranmu sendiri! Boro-boro kau mau menghampiri dan mengunjungiku, mendengarkan aku pun kau tak mau!”

“Maaf Syekh…” kataku.

“Inilah kamu ini–maunya cuma berbicara, tapi gak mau mendengarkan! Kamu selalu sok sibuk dengan pikiran dan perasaanmu sendiri sih. Terus nanti kalau kamu kepepet, proyek lagi seret, jodoh gak kunjung dapet, jabatan banyak yang ngusilin, ngelamar kerjaan sana ngelamar kerjaan sini mentok, pacarmu selingkuh, di rumah ribut cekcok terus, hati galau terus, ada sanak saudara yang sakit, bingung nentuin pilihan hati, kok gak eksis-eksis, dan lain sebagainya–baru kamu ngajakin aku berdoa pada Tuhan, baru kamu maksain Tuhan supaya menggunakan asmanya yang Maha Mendengarkan itu untuk mendengarkan ocehanmu, curhatmu. Kamu anggap Tuhan itu psikiater atau tempat sampah apa? yang cuma boleh diam dalam posisi menyimak dan mendengarkan, tapi suara-Nya nggak mau kamu dengar…?!

Lantas kalau doa-doamu kau anggap macet, proposal harapan dan cita2mu belum selesai di proses di Arasy, kamu protes! lalu nganggap bahwa Tuhan gak fair karena nggak mau merespon kecerewetan doa-doamu. Padahal Dia setiap saat menyapamu, berbicara padamu, merespon nyanyian dukamu, tapi kupingmu aja yang budeg!

Gimana kamu akan mampu mendengarkan suara yang maha Indah dan Maha Halus dan Merdu itu kalau setiap detik di otak dan batinmu kau sibuk berbicara, ngoceh, mainin HP terus, BBM-an terus, nge-sms terus, facebook-an terus, mengumpat terus, berprasangka terus, khawatir terus selama 24 jam dalam sehari…

Coba sekali-kali kau duduk hening. Diam. Biarkan pikiranmu bergerak, namun kau hanya menyaksikan kelebatan sibuk pikiran-pikiranmu itu…Biarkan perasaanmu bergolak, namun kau tak terlibat dalam gebalaunya itu. Hening. Diam….Tenangkan otak dan batinmu…Jangan berbicara, jangan menilai…hanya mendengarkan…Setelah itu barulah kau akan mampu mendengarkan suara-Nya…jangan bergerak, baru kau akan menyimak detak langkah-Nya…

Diam…Hening…Hanya mendengarkan…Dengarkan….hanya mendengarkan…” Ujar Syekh Mukhlisin menasehatiku sangat khusuk. “Paham…?” katanya.

Tuuliluluit….! Tulilululit….! Rriiiiiinnggg…!! rupanya HPku berbunyi. “Wah, Maaf Syekh, aku cabut dulu nih. Dipanggil teman, ada rapat untuk survey pilkada. Biasa Syekh…argo bawah..” Kataku sambil bergegas cabut.

Syekh Mukhlisin termenung sendirian.
Di matanya–ada padang sabana yg luas terbentang.
Ia menarik nafas panjang,
amat perlahan…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here