Siapa Sebenarnya yang Kita Hormati Selama Ini?

“kehidupanmu sesungguhnya adalah cermin dari dirimu sendiri”

Untuk mengetahui seperti apakah sejatinya diri kita salah satunya adalah dengan meneliti bagaimana cara kita memberi rasa hormat, kepada siapa ,dan berapa besaran volume dan takaran rasa hormat itu kita berikan kepada seseorang tertentu.

Mari kita ambil contoh, kepada pak Kyai S, sebut saja begitu. Kita hormati betul beliau dengan tulus, tiap kali kita sowan atau bertemu dengannya selalu tidak kita lewatkan untuk mencium tangan beliau karena kesenangan misterius yang selalu dapat kita nikmati saat bersalaman dengannya. Kita dengarkan semua ucapan beliau dengan seksama dan kesungguhan hati, tiap kali selepas solat tidak kita lewatkan sepenggal Fatihah buat beliau, dan lain lain.

Semua tindakan lahir maupun batin yang lahir dari rasa hormat kepada beliau, dimana jika kita coba ukur besar rasa hormat itu terasa lebih besar ketimbang rasa hormat kita kepada Pak F misalnya, seorang kenalan atau teman yang kaya raya. Nah, yang demikian sejauh penghormatan itu tulus tanpa tendensi tertentu berarti menunjukkan bahwa kedalaman Ruhani kita sejatinya adalah pribadi yang mencintai ilmu.

Kita bisa mendeteksi bahwa akar diri kita adalah ilmu bukan harta, minimal lebih mencintai ilmu ketimbang harta, demikian seterusnya dalam lain-lain contoh. Bagaimana cara kita menghormati, kepada siapa, dan seberapa besar rasa hormat itu jika kita takar sangat bisa menggambarkan siapakah sejatinya dan sejujurnya diri kita.

Ada satu do’a yang diajarkan dikalangan pesantren warisan para Alim zaman dahulu:

“Allohummaj’alna wa ahlana wa dzurriyyatana min ahlil Ilmi wa ahlil Khoir,wala taj’alna wa iyyahum min ahlil su i wa ahlil dhoir,” yang artinya kira-kira, “Ya Alloh, jadikanlah kami, keluarga kami dan keturunan kami golongan orang yang memilih ilmu dan kebaikan, janganlah jadikan kami dan mereka golongan orang yang suka berbuat keburukan dan kebodohan.”

Saya kira doa ini salah satu isyarohnya adalah agar kita menjadikan ilmu dan kebaikan sebagai “basic moral identitas” kita sebagai seorang muslim dan sebagai manusia. Sehingga pertautan kita dengan ruang lingkungan mulai dari keluarga sampai yang lebih besar selalu berputar dalam lingkaran ilmu dan kebaikan. Saya membayangkan betapa rusaknya kehidupan jika relasi antar individu dan kelompok selalu berlandaskan motif motif bisnis, untung rugi, politik dan jabatan.

“Kehidupanmu sesungguhnya adalah cermin dari dirimu sendiri,” demikian para ahli hikmah telah memberitakan. Pertanyaannya adalah: Siapakah yang secara tulus kita hormati dan hargai?

Jangan-jangan selama ini kita tidak pernah benar-benar tulus menghormati seseorang. Jangan-jangan selama ini kita tidak memiliki identitas kepribadian karena semua penghargaan dan penghormatan kita kepada seseorang palsu belaka tanpa ketulusan. Jangan-jangan selama ini tak ada satupun yang benar-benar kita hormati dan hargai kecuali diri kita sendiri, bukan guru, bukan orang tua, bukan atasan atau bahkan bukan juga Tuhan.

Sumber : fb/Pitu Siji

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: