Selamat Jalan Guru

“Kehidupan bermasyarakat harus memanusiakan manusia. Ikhtiar memanusiakan manusia perlu terus dilakukan. Sebab, belakangan ini, empati dalam kehidupan bermasyarakat mulai menghilang.”

– KH. Ayip Abbas

 

Berita duka dari Pondok Buntet Pesantren Cirebon. KH. Ayip Abdullah Abbas telah berpulang ke haribaan Allah SWT di Rumah Sakit Hasna Medika, Cirebon, Jawa Barat, pada Sabtu (7/3) pukul 01.03 WIB.

Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Buntet Cirebon dan merupakan cucu dari KH. Abbas yang masyhur dalam peristiwa perang revolusi 10 November 1945.

Almarhum KH. Ayip Abdullah Abbas dikenal sebagai sosok yang  nyentrik dan banyak bergaul dengan semua golongan masyarakat,  dari golongan elite sampai anak jalanan.

Selain sebagai pengasuh pondok, beliau merupakan penasihat Pengurus Pusat Pencak Silat Pagarnusa.  Kepeduliannya terhadap kelompok pemuda dibutikannya dengan merangkul geng motor XTC. Berkat tangan dinginnya, geng MOTOR XTC yang dikenal beringas dan kerap meresahkan masyarakat, kini berubah menjadi geng motor yang kegiatannya  peduli terhadap lingkungan dan kerap melakukan aksi sosial di masyarakat.

Pada sebuah kesempatan, KH Ayip yang dikenal humoris dan nyentrik berkunjung ke Rumah Ideologi KLASIKA, 24 Febuari 2019.

Pada kesempatan itu KH Ayip memberikan wejangan atau arahan kepada penggiat KLASIKA, baginya kehidupan bermasyarakat harus memanusiakan manusia. Ikhtiar memanusiakan manusia perlu terus dilakukan. Sebab, belakangan ini, empati dalam kehidupan bermasyarakat mulai menghilang.

“Hal itulah yang membuat banyak fenomena seperti akhir-akhir ini. Hanya karena berbeda pandangan politik banyak yang bermusuhan. Bahkan, hanya berbeda pendapat pun dapat menimbulkan pertikaian,” kata dia.

Menurutnya, saat ini, banyak yang terjebak pada aspek pemikiran. Hal itu membuat orang menjadi takut dan gagal dalam melangkah. Padahal, seorang anak muda semestinya berani.

“Banyak yang hanya terjebak pada aspek pemikiran, tidak sampai pada tindakan. Sementara, yang dilihat oleh masyarakat adalah tindakan, maka berbuatlah,” ujarnya.

Hari Ini, Sabtu 07 Maret 2020, Bangsa Indonesia kehilangan salah satu sosok guru yang mengajarkan kita untuk hidup bersama dengan semua kalangan, tanpa melihat latar belakang apapun.

Semoga diampuni segala salah dan khilaf Almarhum, ditentramkan jiwanya, diterima segenap amal ibadahnya semasa hidup, dan ditempatkan bersama dengan orang-orang terkasih disisi Allah SWT.

Selamat Jalan Guru.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: