Sejarah Pengetahuan Manusia Perspektif Auguste Comte

Oleh: Yulita Putri

Manusia memiliki peran penting sekaligus tokoh utama dalam perkembangan peradaban. Cara manusia bertahan hidup menggunakan akal dan pengetahuan merupakan salah satu perwujudan yang termuat dalam sejarah. Dari situlah, muncul pengetahuan-pengetahuan baru yang mempermudah kehidupan manusia selanjutnya.

Pengetahuan baru muncul dan ada karena interaksi manusia dengan kehidupan yang di alaminya secara terus-menerus hingga kelak membentuk sebuah peradaban. Peradaban identik dengan gagasan tentang perkembangan sosial, ilmu pengetahuan alam (sains) dan teknologi. Segala perbuatan yang diperantarai oleh akal manusia tidak bisa dilepaskan dari peradaban. Dengan demikian, konsep peradaban bersifat mencakup semua hal, mulai dari proses pemenuhan kebutuhan sampai hidup berkelompok dilingkunganya.

Namun, terdapat kekeliruan ketika sejarah hanya di anggap sebagai bahan bacaan tanpa pemaknaan atau bahkan dilupakan karena di nilai tidak memberi sisi pragmatis dalam kehidupan manusia. Padahal manusia dan sejarah memiliki keterikatan karena keduanya adalah satu kesatuan yang saling berhubungan.

Sebagaimana diatas, untuk melacak keterhubungan manusia dalam peristiwa sejarahnya, penulis mengunakan pendekatan sejarah pengetahuan manusia menurut Auguste Comte. Dalam kajian filsafat, Comte adalah seorang filsuf beraliran positivisme berasal dari Perancis. Salah satu pemikiran penting Comte adalah, ia berusaha melacak sejarah perkembangan pengetahuan manusia.

Sekilas Tentang Auguste Comte

Auguste Comte memiliki nama panjang Isidore Marie Auguste Fracois Xavier Comte. Ia lahir pada 19 Januari 1798 di Montpellier, Perancis. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang beragama Kristen khatolik. Pendidikan awalnya ia tempuh di kota kelahirannya. Kemudian pada usia 25 tahun ia melanjutkan studinya di Politeknik Ecole, Paris.

Sementara, tahun 1818 ia kembali ke kota kelahirannya dan mengambil sekolah kedokteran. Pada bulan Agustus 1817 ia menjadi sekretaris seorang ilmuan bernama Saint-Simon. Dari sini, ia pun berkenalan lebih serius dengan ilmu pengetahuan dan kajian ilmiah. Akan tetapi, pada tahun 1824 ia meninggalkan Saint-Simon karena terdapat perbedaan pemikiran diantara keduanya dan ia telah menemukan basis filsafatnya. Comte meninggal dunia pada 5 September 1857 di Paris.

 

Sejarah Pengetahuan Manusia

Auguste Comte terkenal sebagai pendiri aliran positivisme dan bapak sosiologi. Positivisme dijadikan basis filsafatnya yang kemudian ia terapkan dalam penelitian social. Ia memperkenalkan sendiri istilah “positivisme”. Istilah tersebut berasal dari kata “positif” yang diartikan sebagai “teori yang bertujuan menyusun fakta-fakta yang teramati”. Dengan demikian, istilah “positif” dapat dimaknai “kenyataan-kenyataan faktual” atau berdasarkan fakta-fakta. Dalam pencarian kebenaran tolak ukur yang digunakan berdasarkan fakta-fakta yang ada.

Menurut Comte, positivisme tidak akan pernah terwujud dan terpahami jika dilepaskan dari sejarah pengetahuan manusia. Baginya, positivisme adalah puncak sejarah pengetahuan manusia. Dalam konteks ini, Comte membagi sejarah pengetahuan manusia dalam tiga tahap yaitu tahap teologis, tahap metafisis dan tahap positif.

 

Tahap Teologis

Tahap ini merupakan masa paling awal bagi manusia dalam mencari kebenaran atau memecahkan sebuah masalah dengan menyandarkannya kepada kekuatan-kekuatan diluar alam sebagai sebab adanya suatu peristiwa.[1]

Pada masa ini manusia dipengaruhi oleh dua corak akal yang berbeda yaitu cosmosentris dan theosentris. Cosmosentris adalah corak akal yang mengembalikan segala hal kepada Alam. sementara corak akal teosentris adalah manusia mulai mempercayai adanya kekuatan diluar alam (supranatural) yang menjadi sebab adanya peristiwa-peristiwa yang ada.

Menurut Comte perkembangan pemahaman teologis terjadi dalam tiga tahap. Pertama, animisme, manusia pada fase ini mengangap bahwa benda-benda fisik memiliki jiwa dan kekuatan, contohnya Thales yang  mempercayai bahwa bumi terbentuk dari air. Kedua, Politeisme yaitu menyandarkan segala sesuatunya kepada kekuatan-kekuatan di luar alam yang di proyeksikan dalam rupa dewa-dewa.

“Keyakinan ini di latar belakangi oleh keadaan saat itu ketika terjadi pertempuran antar kelompok maka pemenangnya akan merasa menjadi superior atas kelompok lain. Kemenangan yang terus menerus didapatkan membuat ia memiliki status yang dianggap lebih tinggi hingga kemudian para pemenang membuat mitos-mitos akan dewa-dewa. Contohnya ketika terjadi perang maka manusia akan berfikir bahwa penyebab nya karena dewa Ares”.

Ketiga, Monoteisme yaitu para dewa dipadukan menjadi 1 (Satu) kekuatan yang disebut Tuhan atau Allah. Fase ini pertama kali terjadi ditandai ketika Fir’aun menobatkan dirinya sebagai Tuhan yang meruntuhkan segala macam dewa-dewa yang di agungkan saat itu.

Pada fase Teologis kesadaran yang muncul di masyarakat adalah Magis. Manusia mengganggap segala sesuatu yang terjadi berada di luar kemampuan nya, sehingga dalam upaya memberi pemaknaan terhadap peristiwa cenderung pasrah karena manusia pada fase ini akan mengembalikan segala persoalan yang sedang terjadi kepada teks-teks ilahi atau lisan para agamawan yang dianggap sebagai wakil dari Tuhan.

Sebagai Contoh:  ketika seseorang sedang sakit, maka ia menganggap hal itu datangnya dari tuhan (seolah di legitimasi oleh teks ilahi hadist) ”tidak lah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhori) akibat dari hal ini masyarakat akan pasrah menerima apa yang menimpa dirinya.

Contoh lain yang terjadi di masa kemajuan sistem perekonomian kapitalisme seperti saat ini, problem soal kemiskinan, masyarakat akan menganggap bahwa penyebab kemiskinan adalah karena sudah merupakan takdir atau ketetapan dari Tuhan, kerap kali juga dilegitimasi oleh perkataan para agamawan yang menganggap kemiskinan adalah sebuah ujian yang harus di jalani dan di syukuri begitu saja.

Tahap Metafisik.

Pada tahap ini manusia mulai melakukan perombakan atas cara berfikir lama, semua gejala dan kejadian tidak lagi diterangkan dalam hubungannya dengan kekuatan yang bersifat supranatural dan rohani. Manusia tidak puas hanya dengan mencari pengertian-pengertian umum, tanpa dilandasi oleh akal dan argumentasi logis[2].

Dalam fase ini, manusia mulai menggunakan fungsi akal atau pikirannya dalam melihat permasalahan yang ada. Manusia tidak mendasarkan hanya pada aspek ilahi tetapi berupaya untuk mempertanyakan kembali hal yang dianggap benar atas dasar agama atau lisan agamawan. Corak berfikir pada fase ini adalah antroposentris yang memusatkan pada  kebangkitan kesadaran manusia sebagai individu yang rasional sebagai pribadi yang otonom (mempunyai kehendak bebas).

Faktor terbesar yang melatar belakangi transisi dari fase teologi menjadi fase metafisis (kembali kepada manusia) diakibatkan keadaan bangsa Eropa yang mengalami Dark Age (Zaman Kegelapan). Pada saat itu Otoritas Gereja begitu kuat, ajaran gereja menjadi sesuatu yang tidak boleh dibantah baik di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, maupun ekonomi.

Pengetahuan ilmiah ditenggelamkan oleh dogma-dogma gereja seperti yang terjadi pada Galileo Galilei yang mengikuti paham Copernicus dengan teori heliosentris nya. Pada saat itu di abad ke-17 teori heliosentris diharamkan Vatikan, heliosentris merupakan suatu teori yang ditemukan pertama kali oleh Copernicus yang mengungkapkan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Sementara, Galileo berusaha untuk mengajarkan teori itu kembali dan membela kebenaran teori itu meski bertolak belakang dengan pengetahuan gereja yang menganggap bahwa bumi lah pusat tata surya. Usaha Galileo Galilei dalam meluruskan kesalahan gereja malah berbuah pengucilan hingga ia wafat.

Kesadaran yang muncul dalam fase metafisik ini adalah kesadaran naïf. Kesadaran ini hanya sebatas mengetahui namun kurang bisa menganalisa persoalan-persoalan sosial yang berkaitan dengan unsur-unsur yang mendukung suatu problem social tersebut seperti struktur politik, ekonomi dll.

Tahap Positiv

Pada fase ini manusia dalam proses pencarian kebenaran memusatkan pada fakta-fakta dan data inderawi, tidak lagi berpusat pada teks-teks ilahiyah dan pikiran semata. Segala sesuatu didasarkan atas fakta yang ada. Tahap positivisme menurut Auguste Comte adalah tahap termaju dari peradaban masyarakat, yang ditandai dengan cara berfikir masyarakat yang bertumpu kepada ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan permasalahannya. Ilmu pengetahuan ini sendiri didapat dengan percobaan ilmiah yang  berlandaskan pada data yang diamati di lingkungan.[3]

Istilah “positiv” diartikan sebagai “teori yang bertujuan menyusun fakta-fakta yang teramati”. Dengan demikian, istilah “positiv” dapat dimaknai sebagai “kenyataan-kenyataan faktual” atau berdasarkan fakta-fakta yang ada.

“Lebih jauh Comte berpendapat bahwa pengetahuan positiv merupakan puncak pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Di sini, ilmu pengetahuan dapat dikatakan bersifat positiv apabila ilmu pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan kongrit”.

Dengan demikian, maka terdapat kemungkinan untuk memberikan penilaian terhadap berbagai cabang ilmu pengetahuan dengan jalan mengukur isinya yang positiv, serta sampai sejauh mana ilmu pengetahuan tersebut dapat mengungkapkan kebenaran yang positiv. Sesuai dengan pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak, karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.

Sebagai contoh: ketika terjadi peristiwa banjir mengunakan pendekatan Positiv, dalam upaya mendapatkan kebenaran manusia tidak lagi memusatkan pencarian jawaban berdasarkan pada Tuhan, teks-teks ilahi, dewa-dewi, roh ataupun hal-hal yang bersifat metafisis lainnya tetapi didasarkan pada fakta-fakta objektif yang bisa dicerap olah indra. Bahwa penyebab terjadinya peristiwa banjir karena curah hujan yang tinggi, saluran irigasi yang rusak, sampah yang menumpuk serta tidak adanya akar pohon yang menahan air hujan.[4]

 

Skema Tahap Perkembangan Manusia menurut Auguste Comte

Menurut Aguste Comte Sejarah perkembangan pemikiran manusia terdiri dari  3 fase, yaitu fase Teologis, Fase Metafisika, dan Fase Positiv.

Sebagaimana Sejarah Pengetahuan Manusia oleh Comte diatas menunjukan bahwa peradaban manusia tidak statis atau tetap melainkan memuat dinamika atau bergerak menuju-memperbaharui secara terus menerus.

“Seperti perkembangan fisik manusia pun, terdapat proses pertumbuhan sedari bayi menjadi dewasa dan seterusnya, begitupun dengan pengetahuan yang termuat didalam setiap kepala manusia. Kendati perkembangan pengetahuan seorang individu mensaratkan juga latihan-latihan dan pembelajaran-pembelajaran secara berkelanjutan”.

Ihwal itu serupa dengan yang diungkap oleh Comte, bahwa ketiga tahapan tersebut tidak hanya berlaku bagi suatu bangsa atau suku tertentu, melainkan memuat juga perkembangan pengetahuan seorang individu.

Sementara transisi pengetahuan secara umum seperti yang disebut Comte, salah satunya peralihan dari fase Teologis ke Metafisis, dalam kajian lain mengatakan hal ini disebabkan oleh Otoritas Gereja dan Kerajaan sudah terlampau jauh-lama mengobjektivikasi masyarakat dalam Aspek politik, Agama, Ekonomi hingga kedunia pemikiran. Sementara ihwal lain masyarakat jengah dengan ajakan-perintah otoritas Gereja untuk melakukan perang yang tak berkesudahan.

Dengan kejengahan-kejengahan yang dialami masyarakat, mendorong mereka untuk menanyakan ulang segenap perintah-norma yang diberikan oleh Otoritas Gereja seperti sebelumnya, disisi lain mesin cetak ditemukan yang ikut andil melaju-luaskan pertanyaan-peryataan melalui selebaran-selebaran kertas ke khalayak ramai.

Dalam kajian Filsafat, Rene Descartes disebut sebagai Bapak Filsafat Modern yang menegaskan bahwa alam subjektif (akal) manusia adalah pusat (Antroposentrisme) untuk memecahkan segenap pertanyaan-persoalaan bukan diluar dirinya seperti Otoritas Gereja sebelumnya.

 

“Yulita Putri adalah salah satu perempuan abad 20 asal bandar Lampung yang sedang menjalani proses taaruf”.

[1]https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-peradaban/

[2]https://www.kompasiana.com/igaayu/5529d31df17e61642cd62423/augustu-comte-perkembangan-akal-budi-manusia

[3] https://brainly.co.id/tugas/7248987

[4] https://ilmugeografi.com/bencana-alam/penyebab-banjir

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: