Sejarah Panjang Hagia Sophia

 

“Hagia Sophia, semenjak diresmikan menjadi masjid kembali Jumat kemarin, telah memunculkan respon dari berbagai pihak baik penolakan maupun dukungan dari sejumlah negara”.

 

Hagia Sophia adalah salah satu bangunan tertua yang terletak di Istanbul, Turki. Hagia Sophia dalam bahasa latin memiliki arti “kebijaksanaaan suci” sesuai dengan kegunaan bangunan tersebut sebagai tempat ibadah. Namun, bagaimanakah sejarah perkembangan Hagia Sophia yang belakangan ini sedang ramai diperbincangkan oleh dunia? Ihwal tersebut, dibawah ini akan di uraikan lebih lanjut.

Pada awalnya, Konstantinus I (Kaisar Romawi) menyadari keterbatasan Roma sebagai sebuah ibu kota yang terlalu jauh dari garis-garis perbatasan, begitu pula jauh dari angkatan bersenjata dan dewan kekaisaran. Akan tetapi, Roma telah menjadi ibu kota negara selama seribu tahun, sehingga tak terpikirkan untuk memindahkan ibu kota ke tempat lain.

Meskipun demikian, Konstantinus I melihat Kota Bizantium sebagai lokasi yang tepat dan strategis untuk dijadikan sebagai ibu kota: tempat seorang kaisar dapat bertahta, memiliki pertahanan yang matang, dan memiliki kemudahan akses ke perbatasan Danube maupun Efrat, Dewan Kekaisaran pun akan mudah memproleh suplai dari kebun-kebun yang subur dan berdekatan dengan bengkel-bengkel canggih yang ada di Asia, serta perbendaharaan wilayah yang diisi oleh provinsi-provinsi termakmur dalam kekaisaran.

Setelah itu, Kota Bizantium pun mulai dibangun ulang selama enam tahun untuk dijadikan ibu kota dan diresmikan pada 11 Mei 330 M dengan nama Konstantinopel. Konstantinopel terus menjalankan program pembangunannya: Pilar-pilar, pualam-pualam, daun-daun pintu, dan ubin-ubin dipindahkan dari kuil-kuil kekaisaran Romawi ke ibu kota baru itu. Dengan demikian, banyak karya seni bercorak Yunani dan Romawi segera terlihat di alun-alun dan jalanan kota.

Sementara, gereja terbesar pertama yang dibangun di Konstantinopel dikenal dengan nama Gereja Agung. Penamaan itu dikarenakan ukuranya yang sangat besar jika dibandingkan dengan gereja yang sudah ada saat itu. Pada 15 Febuari 360 M, pada massa pemerintahan Kaisar Konstantinus II, gereja ini selesai dibangun dan diresmikan oleh uskup Arian, Eudoxius dari Antioki yang letaknya berada persis di sebelah istana kekaisaran.

Namun, terjadi perbedaan pendapat terkait penentuan awal mula pembangunan gereja itu. Sokrates dari Konstantinopel pada tahun 440 M, mengklaim bahwa gereja ini dibangun oleh Konstantinus II yang mengerjakanya pada tahun 346 M. Sedangkan menurut tradisi yang lebih tua, yaitu dari abad ke-7, melaporkan bahwa bangunan ini mulai dibangun oleh Konstantinus I. Sementara itu, Zonaras mendamaikan kedua pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa Konstantinus II telah memperbaiki bangunan yang sudah dikuduskan oleh Eusebius dari Nikomedia setelah bangunan gereja itu sempat mengalami keruntuhan. Karena Eusibius menjadi uskup Konstantinopel pada 339-341 M dan Konstantius I meninggal pada tahun 337, tampaknya mungkin saja bahwa gereja pertama ini dibangun oleh Konstantinus I.

Selain Membangun Konstantinopel, Konstantinus I atau yang juga disebut Konstantinus Agung memiliki pengaruh besar terhadap berkembangnya Agama Kristen yang ketika itu masih minoritas dan penganutnya banyak dianiaya serta dibunuh. Di bawah kepemimpinanya, Agama Kristen diresmikan sebagai Agama, sehingga umat Kristen bisa dengan leluasa menjalankan ibadah dan perlahan berkembang menjadi agama mayoritas.

Bahkan, Konstantinus Agung mempelopori berkumpulnya para uskup yang mewakili seluruh dunia kekristenan untuk menyatukan pemahaman terkait doktrin kristen, seperti menetapkan keseragaman waktu perayaan paskah, menyelesaikan perbedaan soal isu Kristologis, pembentukan pengakuan iman, dan penetapan hukum kanon sebagai perundang-undangan. Pembahasan tersebut dikenal juga dengan Konsili Nicea yang dilaksanakan pada 325 M dan konsili selanjutnya disebut Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M.

Kemudian pembangunan dilanjutkan, pada bagian dalam gereja dibangun sebuah basilika dengan tiang-tiang bercorak latin-tradisional dengan berbagai galeri dengan atap berbahan kayu, didahului dengan sebuah atrium. Bangunan ini diklaim sebagai salah satu monumen yang paling menonjol di dunia saat itu.

Pada suatu waktu, Patriark Konstantinopel/Uskup Yohanes Krisostomus terlibat perselisihan dengan Permaisuri Aelia Exudoxia, istri dari Kaisar Arcadius, sehingga ia diasingkan pada tahun 404 M. Kemudian kondisi Konstantinopel pun semakin memanas sehingga terjadi kerusuhan yang diakibatkan karena adanya konflik politik dalam keluarga Kaisar Arcadius dengan massa pemerintahan yang kacau pada rentang waktu 395-408 M. Pada kerusuhan itu, Gereja pun terbakar hingga bangunannya tak ada lagi yang tersisa.

Lalu penerus Arcadius, Kaisar Theodosios II membangun kembali Gereja Agung dan diresmikan pada tahun 415 M. Gereja ini berisi lima nave (poros utama pada gedung) dan pintu masuk yang monumental, serta ditutupi oleh atap kayu. Akan tetapi, penggunaan atap kayu adalah kesalahan fatal, ketika satu abad kemudian, bangunan itu terbakar untuk kedua kalinya pada peristiwa Pemberontakan Nika yang ditujukan pada Kaisar Yustinianus I, yang memerintah dari 527-567 M.

Pemberontakan Nika tercatat sebagai kerusuhan terbesar selama sejarah Konstantinopel. Hal tersebut dikarenakan jumlah korban yang tewas hingga puluhan ribu orang dan hampir 50 % kota dibakar atau dirusak, termasuk gereja Hagia Sophia yang berada di pusat kota.

Setelah berhasil meredam kerusuhan Nika, Yustinianus I memerintahkan pembangunan gereja yang ketiga kalinya dengan  rancangan yang lebih luas dan megah dari sebelumnya. Ia menunjuk ahli fisika, Isidore dari Miletus dan ahli matematika, Anthemius dari Tralles sebagai arsiteknya. Lebih dari seribu orang dipekerjakan dan membutuhkan lima tahun sepuluh bulan untuk pembangunannya. Teori Heron dari Alexandaria, mungkin telah digunakan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang muncul dalam membangun kubah luas yang membutuhkan ruang sedemikian besar.

Kaisar Yustinianus I bersama dengan Patriark Menas kemudian meresmikan Gereja ini pada 27 Desember 537 M. Sedangkan, mozaik-mozaik yang terdapat di dalam gereja baru selesai pada masa Kaisar Yustinus II yang memerintah pada tahun 565-578 M.

Saat pembangunan yang ketiga kali selesai, Hagia Sophia menjadi pusat kedudukan Patriark Ortodoks Konstantinopel dan tempat utama bagi berbagai upacara kekaisaran Romawi Timur, seperti penobatan kaisar. Selain itu, seperti gereja pada umumnya, basilika (bangunan dengan bentuk persegi panjang) ini juga menjadi tempat berlindung bagi orang-orang yang terancam oleh para pelaku penganiayaan atau para pelanggar hukum.

Pada tahun 726 M, Kaisar Leo III yang berkuasa saat itu mengeluarkan serangkain keputusan yang melarang masyarakat untuk memberikan penghormatan kepada gambar-gambar dan memerintahkan tentara untuk menghancurkan semua ikon yang berada di dalam gereja, sehingga hal tersebut menghantarkan pada periode Ikonoklasme Bizantium. Sebuah masa, di mana semua gambar dan patung keagamaan disingkirkan dari Hagia Sophia.

Setelah pergantian kekuasaan, Maharani Irene yang berkuasa pada tahun 797-802 M sempat membendung gerakan Ikonoklasme dan memberikan ruang untuk mengekspreksikan seni melalui gambar, tetapi gerakan Ikonoklasme terus berkembang dan kembali merebak pada masa Kaisar Theophilos yang sangat dipengaruhi oleh seni rupa Islam, terkait pelarangan penggambaran makhluk hidup.

Pada 8 Januari 869 M terjadi gempa bumi yang menyebabkan sebagian kubah dari bangunan Hagia Sophia runtuh. Kaisar Basilius I pun memerintahkan agar gereja ini diperbaiki.

Selanjutnya, pada masa pendudukan Konstantinopel saat perang salib keempat antara Pasukan Kristen Ortodoks Konstantinopel dengan Pasukan Katolik Roma, gereja Hagia Sophia pun dijarah oleh Tentara Salib (Pasukan Katolik Roma). Sebagaimana dijelaskan oleh Sejarawan Bizantium, Niketas Choniates, gereja ini akhirnya berubah menjadi Katedral Katolik Roma pada 1204-1261 M.

Tahun 1261 M, Hagia Sophia direbut kembali oleh Kristen Ortodoks Konstantinopel, saat itu gereja dalam keadaan bobrok. Sehingga pada tahun 1317 M, Kaisar Andronikus II memerintahkan agar empat penopang (piramidas) dibangun di sisi timur dan utara gereja. Lalu, Kubah gereja kembali mengalami keretakan setelah gempa bumi pada bulan Oktober 1344 M dan beberapa bagian bangunan runtuh pada 19 Mei 1346 M; alhasil gereja ini pun ditutup sampai 1354 M untuk perbaikan.

Hagia Sophia yang berada di Kota Konstantinopel secara geografis terletak di tengah-tengah wilayah antara benua Eropa dan benua Asia yang merupakan salah satu kota termasyur di dunia kala itu. Di dunia Kristen, kota ini menjadi yang terdepan dalam segi kebudayaan dan kesejahteraan, utamanya pada masa Wangsa Komnenos.

Sebelas abad berikutnya, berbagai upaya penaklukan kota ini terus dilakukan oleh banyak pihak. Para pemimpin muslim dari generasi ke generasi, yang diawali oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan penerusnya turut berusaha menaklukan Konstantinopel, meskipun semua upaya itu gagal. Namun, berbeda dengan Sultan Mehmed II atau yang dikenal Muhammad Al-Fath. Ia berhasil menaklukan Konstantinopel dan mendapatkan julukan sebagai Mehmed II sang Penakluk.

Sejak menaiki takhta Utsmani pada 1451 M, dengan segera Muhammad Al-Fath memusatkan perhatianya untuk memperkuat angkatan laut sebagai persiapan penaklukan Konstantinopel. Pada tahun 1453 M, Mehmed II memulai pengepungan ke Konstantinopel dengan pasukan berjumlah antara 80.000 sampai 200.000 orang yang didukung oleh persenjataan artileri dan 320 kapal.

Pada awalnya, tembok kota dapat menahan pasukan Utsmani, meskipun Sultan Mehmed II telah mengunakan meriam. tetapi, setelah melakukan pengepungan selama 57 hari, Konstantinopel berhasil ditaklukan oleh pihak Utsmani pada 29 Mei 1453 M. Setelah penaklukan, Mehmed II kemudian memindahkan ibu kota Utsmani dari Edirne ke Konstantinopel.

Selain itu, Mehmed II juga mengubah Hagia Sophia yang semula adalah Gereja Ortodoks menjadi Masjid serta mengubah namanya dari Hagia Sophia menjadi Aya Sofya, yang dalam pelafalan Turki memiliki arti Masjid Kekaisaran. Kemudian, era baru bagi Hagia Sophia, dimana bangunannya ditambahkan dengan menara-menara.

Hagia Sophia atau Aya Sofya kemudian menjadi model untuk pembangunan masjid lainya, seperti Masjid Suleymaniye yang dibangun antara 1550-1557 M dan Masjid Sultan Ahmed yang dikenal sebagai Masjid Biru yang diresmikan pada 1616 M.

Semasa Aya Sofya menjadi masjid, upaya perancangan arsitektur dan pembangunan terus dilakukan, di antaranya: tiga menara ditambahkan lagi ke Aya Sofya dan mozaik-mozaik Kristen dibiarkan dan tidak disentuh oleh Mehmed II, tetapi pada 1750 M akhirnya ditutupi dengan plaster.

Selain itu, Minaret (menara masjid) kemudian dibangun dan simbol bulan sabit pun turut dipasang pada puncak kubah masjid. Mihrab (tempat imam) pun turut dipasang di dalam masjid. Lalu, pada 1739 M, Sultan Mahmud I menambahkan sebuah madrasah, dapur umum untuk kaum miskin, dan perpustakaan pada Aya Sofya.

Kesultanan Utsmani pun runtuh pada November 1922 M dan digantikan oleh Republik Sekuler Turki. Presiden Pertamanya kemudian memerintahkan penutupan Aya Sofya untuk umum pada tahun 1931 M. Setelah ditutup selama empat tahun, pada 1935 M Aya Sofya dibuka kembali dengan dialih fungsikan sebagai Museum. Sejak saat itu, Aya Sofya menjadi salah satu objek wisata terkenal di Istanbul, Turki.

Selain itu, Aya Sofya juga tercantum dalam daftar Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1985 M. Museum ini, dianggap sebagai keajaiban arsiktektur dunia yang menjadikanya banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing. Tercatat 30,95 juta pengunjung dari 2007 hingga 2018.

Semenjak dijadikan sebagai museum, Pemerintah Turki sangat melarang pengunaan Aya Sofya sebagai tempat ibadah, namun sikap pemerintah kemudian melunak pada 2006. Pemerintah Turki akhirnya mengizinkan alokasi khusus pada sebuah ruangan untuk menggelar doa bagi umat Kristen dan museum bagi umat Muslim dan sejak tahun 2013, muadzin mulai mengumandangkan adzan dari menara museum dua kali saat siang hari.

Pada masa belakangan, wacana mengembalikan Aya Sofya sebagai tempat ibadah kembali ramai diperbicangkan. Pada tahun 2007, politikus Yunani, Chris Spirou mencanangkan gerakan Internasional untuk memperjuangkan Aya Sofya kembali menjadi Gereja Ortodoks Yunani. Di sisi lain, berbagai seruan juga dilontarkan oleh beberapa pejabat tinggi, khususnya Wakil Perdana Menteri Turki, Bulent Arinc yang menuntut Aya Sofya agar digunakan kembali sebagai masjid.

Pada bulan Ramadhan tahun 2016, Pemerintah Turki pun akhirnya memulihkan kembali beberapa fungsi Ayu Sofya sebagai masjid selama bulan Ramadhan. Pembacaan kitab suci Al-Quran juga dimulai sejak awal Ramadhan dan turut disiarkan secara langsung di saluran televisi religi Turki, TRT Diyanet pada Selasa, 07 Juni 2016.

Langkah itu menuai kecaman dari beberapa pihak. Dalam pernyataan bersama, para pemimpin partai oposisi Yunani mengatakan bahwa langkah tersebut adalah tindakan provokatif dan mengecewakan umat Kristen.

Sedangkan yang terbaru, pada Jumat 10 Juli 2020, Pengadilan Tinggi Turki menganulir Dekrit 1934 dan mengubah status Hagia Sophia dari museum kembali menjadi masjid. Setelah putusan pengadilan, Presiden Recep Tayyip Erdogan segera menandatangani Keputusan Presiden untuk menyerahkan Hagia Sophia ke Kepresidenan Urusan Agama Turki dan membuka kembali Hagia Sophia untuk kegiatan peribadahan umat Muslim. Kendati sudah berubah fungsi menjadi masjid, Erdogan mengatakan bahwa Hagia Sophia tetap terbuka untuk umat kristiani dan wisatawan.

Sementara, dikutip dari Daily Sabah, 11 Juli 2020, Pengadilan Tinggi Turki menyatakan bahwa Hagia Sophia secara resmi terdaftar sebagai masjid sesuai fungsi awalnya,  menambahkan bahwa pengunaannya dalam bentuk apapun selain masjid secara hukum tidak mungkin. Keputusan kabinet pada tahun 1934 yang mengakhiri pengunaanya sebagai masjid dan mendefinisikanya sebagai museum tidak mematuhi hukum” katanya.

Hagia Sophia, semenjak diresmikan menjadi masjid kembali pada Jumat kemarin, telah memunculkan respon dari berbagai pihak baik penolakan maupun dukungan dari sejumlah negara.

 

Infografik: Asep Sugiarto

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: