Sebuah Catatan Tentang Rumah Daswati (Bagian II)

DialoKlasika: Lampung dan Masa Depanya (Kritik atas Nalar Developmentalisme Manusia Modern)

Sebagaimana yang diketahui, Rumah Daswati dari hari ke hari kian santer menjadi perbincangan. Berbagai elemen semakin serius menanyakan dan menelusuri hal-ihwal Rumah Daswati. Tak sampai disitu, mereka juga menuntut Pemerintah Provinsi Lampung segera mengalihkan kepemilikan rumah daswati yang semula diketahui milik salah seorang pengusaha menjadi milik Masyarakat Lampung. Diketahui pula, rumah Daswati sudah dikelinggi pagar beton, konon rumah Daswati akan diratakan dengan tanah dan digantikan dengan sebuah ruko atau semacamnya.

Beranjak dari kenyataan demikian Kelompok Studi Kader (KLASIKA) mengadakan sebuah DialoKlasika dengan tema “Lampung dan Masa Depanya (Kritik Atas Nalar Developmentalisme Manusia Modern) yang menghadirkan pembicara Arman AZ (Pemerhati Sejarah), Yuridhis Mahendara (Ketua Puskam SBL) dan Chepry Chairuman Hutabarat (Penggiat Klasika).

Sumber: DialoKlasika

Dialok yang dilangsungkan pada 08 Agustus 2020 pukul 19:00 dihelat di Rumah Ideologi Klasika yang mendaulat Ahmad Mufid (Direktur KLASIKA) sebagai moderator. Mufid yang akrab disapa Bemol memulai dialok dengan sedikit bercerita mengenai perkembangan isu Rumah Daswati, setelah itu ia mempersilahkan Arman AZ sebagai pembicara pertama.

Arman AZ merupakan salah seorang yang cukup dikenal di Lampung terkhusus dikalangan pengiat sejarah, seniman dan budayawan. Dalam kesempatan ini, ia memulai dengan mengatakan persoalan menanyakan rumah Daswati bukanlah perkara baru, pada 2014 silam pernah dilakukan diskusi di Rumah Daswati, pada penghujung diskusi mereka semua bersepakat untuk menyelamatkan Rumah Daswati. Namun hingga hari ini belum menemui jalan terang.

Bersamaan dengan itu, berbagai media online saat tepat pada HUT Lampung, Lima tahun belakangan ini rutin mengingat kan kembali melalui tulisan-tulisan yang diunggah di media. Bahkan pernah salah satu komunitas sejarah bertujuan menelusuri sejarah lengkap Daswati namun sampai hari ini belum menunjukan prosesnya yang berkelanjutan.

Bahkan, saat Ridho Ficardo menjabat sebagai Gubernur Lampung pernah berjanji akan membeli rumah Daswati, untuk kemudian direnov dan dijadikan semacam museum sejarah Lampung atau ruang terbuka. Namun hingga sekarang, belum juga terealisasikan penyelamatan rumah bersejarah ini oleh Pemprov Lampung untuk dijadikan asset pemerintah daerah.

Inilah yang penting bagi kita, sejarah Lampung bila saya umpakan sebuah buku adalah buku yang memiliki banyak halaman kosong, sehingga untuk memahami Lampung kita tidak utuh. Jika Lampung sebagai provinsi serupa buku yang memiliki banyak halaman kosong bagaimana dengan setiap daerah kabupaten? Kemungkinan hal serupa juga terjadi disetiap daerahnya.

Arman AZ juga mengkritik kelengkapan Arsip Cagar Budaya yang dimiliki oleh Pemerintah, ia menilai upaya pemerintah untuk melengkapi sejarah Lampung masih sangat minim, bahkan ia berani membandingkan data sejarah pemerintah dengan dirinya mana yang lebih lengkap.

Sementara pembicara kedua Ahmad Yuridis sebagai Ketua Puskam SBL mengatakan kecewa terhadap pemangku kebijakan hari ini, sebab pemerintah terkesan menghiraukan rumah bersejarah dan tidak memiliki upaya untuk merawat ini. Padahal tempat ini menjadi tempat perumusan Prov. Lampung.

Baginya tidak akan ada Gubernur Lampung hari ini begitupun dengan sebelumnya jika tidak dibahas di Rumah Daswati sewaktu itu, menurutnya fatal jika didalam suatu pemerintahan tidak memiliki kelengkapan Arsip sejarah.

Tak hanya itu, Yuridhis menilai para intelektual terkesan terpisah dan menafikan masalah ini. Dengan ini ia mengatakan bahwa para intelektual terkhusus sejarah banyak yang tak melek sejarah Lampung.

Sedangkan pembicara Terakhir Chepry Chaeruman Hutabarat sebagai Penggiat KLASIKA memulai pembicaraan dengan mengatakan bahwa pembicara malam ini sangat lengkap, Bang Arman dengan sikap teduhnya sementara Yuridhis dengan sipat berapi-apinya. Ditengah kondisi yang adem ayep seperti hari ini, semangat berapi-api semacam yang dimiliki Yuridhis sangat dibutuhkan.

Sumber: DialoKlasika

Ditengah iklim yang layu dan virtual hari ini masyarakat kian abai terhadap realitas, manusia terus disibukan dengan sosial medianya yang tidak penting sama sekali, sementara dikehidupan nyata manusia dihadapkan dengan bangunan-bangunan dan hilir mudik kendaraan.

Dengan demikian, agar manusia tidak saja dihadapkan dengan realitas semacam itu apatah lagi yang belakangan ini terjadi di dunia politik Lampung yang tidak berfaedah sama sekali. Gerakan kesejarahan harus dibangun, supaya masyarakat lampung tidak kehilangan silsilah.

Jika banyak yang mengeluhkan dan menghawatirkan gerakan ini tidak kongkrit, DialoKlasika kali ini adalah gerakan Kongkritnya. Bang Che mengatakan terdapat dua syarat agar perubahan tercipta, pertama ada kelompok-kelompok yang sadar, kedua ada sebuah momentum atau masalah. Dengan demikian kelompok yang sadar ini melakukan mobilisasi untuk melakukan perubahan.

Kedua syarat diatas mutlak diperlukan untuk perubahan, sebagaimana yang disampaikan oleh Datuk Tan Malaka kesadaran kuantitas menjadi kualitas, dengan maksud konsolidasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang sadar akan menciptakan kesadaran yang sama.

Satu hal penting lainya jika ingin melakukan gerakan menyelamatkan Rumah Daswati dibutuhkan waktu yang panjang, karena ini berkenaan dengan pengalihan hak milik, proses merumuskan menjadi Cagar budaya dll.

Seturut dengan itu semua elemen harus terlibat dan bersama memperjuangkan Rumah Daswati, jika momentum membangun gerakan ini dilewatkan, saya tidak tau kapan lagi akan mendapatkan momen seperti ini.

 

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: