Beranda Ide Saya Perempuan dan dari situ Saya Berfikir

Saya Perempuan dan dari situ Saya Berfikir

Keloq

845
0
BERBAGI
sumber gambar : https://www.brainpickings.org

Laki-laki ingin tetap menjadi subjek dan perempuan diposisikan sebagai objek, bagaimana perempuan bisa menjadi bebas kalau dirinya selalu dijadikan objek oleh kaum laki-laki? Masing-masing dari diri kita tidak akan pernah menjadi bebas apabila masih ada yang ingin menjadi subjek dan di jadikan objek

Beberapa hari yang lalu kita ikut Merayakan hari Perempuan Internasional. Memang, wacana tentang perempuan tak kunjung usai untuk dibahas dan diperdebatkan. ada yang ganjil dari pemahaman masyarakat luas tentang Perempuan.

Hingga kini masih dapat dengan mudah kita temui ada begitu banyak kasus pelecehan dan kekerasan atas perempuan, dan menurut penulis hal itu bermula dari pemahaman yang salah terhadap perempuan itu sendiri dalam masyarakat. oleh karena itu pada kesempatan ini, Penulis akan memaparkan salah satu pemikiran dari tokoh Feminis, Simone de Beauvoir.

Simone de Beauvoir adalah salah satu tokoh feminisme modern dan ahli filsafat Perancis yang terkenal pada awal abad ke-20 dan juga merupakan pengarang novel, esai, dan drama dalam bidang politik dan ilmu sosial. Lahir di Paris, 9 Januari 1908,  meninggal di Paris, 14 April 1986 pada umur 78 tahun. Karyanya yang paling terkenal adalah Le Deuxième Sexe yang diterbitkan pada tahun 1949 dan The Second Sex. Di dalam karyanya tersebut de Beauvoir menjelaskan bagaimana perempuan ditindas.

De Beauvoir salah satu tokoh perempuan yang berkontribusi dalam gerakan hak asasi perempuan, pemikiran de Beauvoir banyak dipengaruhi oleh Jean Paul Sartre, walaupun sampai saat ini masih menjadi pedebatan siapa yang mempengaruhi siapa, apakah Sartre mempengaruhi de Beauvoir atau sebaliknya.

Apakah perempuan manusia bebas? Apakah bisa bebas? Apakah perempuan boleh berfikir?

Menurut de Beauvoir laki-laki dilahirkan sebagai laki-laki, maka ia sudah diberi tanggung jawab sedari lahir bahwa laki-laki harus kuat, tidak cengeng, bisa mencari nafkah dan lain-lain, tetapi perempuan dilahirkan menjadi perempuan, bukan sebagai perempuan. Karena perempuan sudah mempunyai tujuan hidup yang sudah ditulis berdasarkan mitos, budaya dan norma yang harus diikuti.

Perempuan telah disosialisasikan sejak mereka kanak-kanak untuk menerima, menunggu, bahkan bergantung. Tidak diberi tanggung jawab bahkan terhadap hidupnya karena sudah ada yang bertanggung jawab terhadap dirinya yaitu Ayah dan atau  kakak-kakaknya.

Perempuan didoktrin untuk percaya bahwa nantinya akan ada seorang laki-laki yang datang menyelamatkan hidupnya dan melindunginya untuk selamanya seperti dalam cerita dongeng maupun mitos masyarakat.[1]

Berangkat dari pemikiran Sartre bahwa manusia harus menjadi manusia yang bebas dan tidak terdefinisikan serta menjadi subjek, de Beauvoir masuk lebih dalam dengan konsep the others atau ‘yang lain’ dari sartre tersebut, baginya wanita bukanlah makhluk yang bebas, wanita selalu menjadi objek, dan ‘yang lain’ adalah sebuah bentuk penindasan terhadap perempuan.

Jika ‘yang lain’ dari istilah Sartre adalah ancaman bagi diri, maka perempuan adalah ancaman bagi laki-laki. Karena itu, jika laki-laki ingin tetap bebas, ia harus mensubordinasi perempuan (menempatkan fungsi perempuan sebagai pelapis atau peran pengganti) terhadap dirinya.

Laki-laki pada dasarnya takut terhadap perempuan hal ini terjadi dikarenakan ada sesuatu yang belum tuntas. ada kekecewaan yang mendasar pada laki-laki terhadap perempuan, mengapa? Karena laki-laki tidak bisa lepas begitu saja dari perempuan, mereka diperbudak oleh vagina perempuan.

Laki-laki akan begitu sulit mengontrol hasratnya terhadap perempuan, ketakutan tersebut terejawantah pada kekerasan, sadisme dan menomor duakan perempuan di masyarakat. Hal itu terjadi semata-mata agar laki-laki tetap menjadi subjek dan kodrat kelaki-lakianya tetap terjaga.

Teori the others Sartre bersifat Resriprokal atau saling berbalas. menurut de Beauvoir dalam konsep the others ini tidak bersifat Resriprokal karena satu membenci satunya menerima.

Teori yang-lain de Beauvoir ini mengambil dari teori dialektisnya Tuan Budak Hegel, tuan dan budak sama-sama membutuhkan, tuan tidak bisa eksis tanpa ada budak begitupun sebaliknya, teori Tuan budak ini agak sedikit berbeda menurut de Beauvoir, laki-laki menindas perempuan tetapi Perempuan dalam hal ini tetap menganggap dirinya sebagai pemberi atau giver dan akan terus menurut dengan laki-laki.

Menjadi sadar adalah menjadi bebas menurut Sartre, namun bagi Simone de Beauvoir menjadi bebas akan hanya bisa dirasakan oleh kaum laki-laki, perempuan bukan makhluk yang bebas karena perempuan akan tetap menerima keperempuanannya sedari ia lahir.

Dengan segala kepelikan hidup menjadi seorang perempuan inilah maka wanita diposisikan menjadi nomor dua atau hanya menjadi peran pengganti di masyarakat.

Laki-laki ingin tetap menjadi subjek dan perempuan diposisikan sebagai objek, bagaimana perempuan bisa menjadi bebas kalau dirinya selalu dijadikan objek oleh kaum laki-laki? Masing-masing dari diri kita tidak akan pernah menjadi bebas apabila masih ada yang ingin menjadi subjek dan di jadikan objek.[2]

Kita harus sama-sama bebas !!!

[1] Dian Wahyu Nurvita, Simone de Beauvoir & Teorinya, 2010
[2] Simone de Beauvoir, “The Second Sex”
*Penulis adalah Perempuan biasa asal Lampung Barat yang terus berjuang menentukan ke-Diri-an dan ke-Siapa-annya, lewat tangannya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here