Sains dan Virus Covid-19

Dalam pembahasan ini tidak akan mengurai rentang perjalanan panjang Sains atau Ilmu pengetahuan sebagai sebuah hukum berpikir pun penemuan-penemuan besar yang dihasilkanya, melainkan coba meniliknya dalam konteks yang berkelindan dengan Virus Covid-19.

Dengan demikian, sub pembahasan ini akan menguraikan keterhubungan Sains dengan virus Covid-19 atau virus Corona, yang memberikan penjelasan ilmiah, bagaimana Sains bisa membantu manusia mencegah penularan Virus Corona, dengan menunjukan perbedaan virus corona ini dengan virus atau wabah yang dahulu pernah dihadapi oleh manusia.

 

Virus Dahulu, Kini, dan Sains

Sebagaimana yang diketahui, Sains membawa banyak kemajuan bagi kehidupan manusia, salah satunya saat  menghadapi sebuah wabah. Namun darimanakah Sains berasal, di bawah sedikit ringkasanya.

Kemajuan sains adalah buah dari Pencerahan (Aufklärung) yang mempengaruhi dunia intelektual sehingga menemukan perkembangan baru dalam ilmu-ilmu alam, salah satunya melalui karya-karya Newton. Seperti yang diketahui melalui metode eksperimen, Newton mampu menjelaskan kompleksitas alam semesta dengan cara sederhana, yakni dengan hukum gravitasi: perputaran benda-benda langit dan pergerakan benda-benda padat disebabkan oleh gaya tarik-menarik antar benda; gaya tarik-menarik serupa juga terjadi antara matahari dan anggota tata surya lainnya. Prestasi cemerlang ilmu-ilmu alam dalam melakukan “reduksi kompleksitas” untuk menjelaskan fenomena yang kompleks ini menginspirasi banyak filsuf dan ilmuwan untuk menerapkan metode serupa ke ilmu-ilmu di luar ilmu alam.[1]

Ihwal metode eksperimen yang ditemukan oleh Newton tersebut, selanjutnya menjadi pendorong bagi para filsuf dan ilmuan sezaman atau sesudahnya untuk melakukan hal serupa. Mereka percaya, bahwa pikiran manusia juga dapat diobservasi secara ilmiah dan melalui obervasi itu juga, mereka akan menemukan metode universal yang dapat diterapkan pada ilmu-ilmu lainnya, sehingga menghasilkan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. 

Dengan semangat metode penelitian di atas, selain memperoleh kemajuan di berbagai lini, penemuan-penemuan yang diperoleh juga turut membawa dampak buruk. Seperti penemuan mesin yang memberikan kemajuan di bidang industri, di kemudian hari mendorong dikeruknya sumber daya alam secara habis-habisan, sehingga terjadi kerusakan lingkungan. Perusahaan-perusahaan besar dengan gedung-gedung dan segala pranatanya pun, turut menjadi penyebab bertambahnya kesenjangan antara yang miskin dan kaya. Begitulah sains yang digunakan sebagai panduan dengan segala kelebihan dan kekuranganya.

Lalu, bagaimanakah kelebihan sains dalam menghadapi wabah? Untuk menjawab itu, penulis menjadikan karya Yuval Noah Harrari yang berjudul “Dalam Perang Melawan Virus Corona Umat Manusia Kekurangan Kepemimpinan” sebagai panduan.

Melalui Karyanya, Yuval Noah Harrari menyinggung bagaimana peran informasi membantu manusia menghadapi Virus. Ia menuliskan Epidemi Virus membunuh berjuta-juta manusia sebelum era globalisasi. Pada abad ke-14, di mana tidak ada pesawat dan kapal pesiar, virus maut hitam (Black–Death) menyebar dari Asia Timur hingga Eropa Barat dalam waktu lebih dari seabad.

Wabah tersebut membunuh kira-kira 75 juta sampai 200 juta orang atau seperempat lebih populasi Eurasia. Di Inggris, 4 dari 10 orang meninggal karena wabah tersebut. Sementara pada Maret 1520, seorang pembawa cacar—Fransisco de Equia—tiba di Meksiko. Pada saat itu, Amerika Tengah tidak memiliki kereta api, bis, ataupun keledai. Namun pada Desember, seorang pembawa cacar menghancurkan seluruh Amerika Tengah, yang menurut beberapa perkiraan membunuh sepertiga dari populasi.[3]

Sedangkan pada tahun 1918, sebuah Flu yang sangat ganas berhasil menyebar ke ujung terjauh dunia hanya dalam beberapa bulan. Flu ganas tersebut menjangkiti setengah milyar manusia—lebih dari seperempat spesies manusia. Pandemi ini secara keseluruhan telah membunuh 10 juta manusia—dan barangkali mencapai angka 100 juta manusia dalam waktu kurang dari satu tahun. Kematian tersebut melebihi kematian yang disebabkan oleh brutalitas Perang Dunia I yang berlangsung selama 4 Tahun.

Apa yang bisa kita pelajari dari contoh di atas? kendati pun alat transportasi seperti pesawat, kapal laut, kereta api, bis pada zaman dahulu tidak ada, tidak juga menghentikan laju penularan virus. Lalu, bagaimana mungkin alat transportasi yang dulu tidak ada bisa menyebabkan korban kematian lebih banyak dan mengerikan dibanding abad ke-21. Sementara hari ini alat transfortasi dianggap sebagai salah satu media penularan.

Sebagaimana yang diterangkan lebih lanjut oleh Yuval, walaupun pada abad ke-21 virus mengerikan seperti AIDS dan Ebola membunuh lebih sedikit manusia dibanding masa-masa sebelumnya, hal ini dikarenakan Informasi. Sementara para dokter bergantung kepada analisis informasi ilmiah.

Seperti yang diketahui pada abad ke-21, berkat kemajuan teknologi dan informasi, manusia bisa mengetahui berbagai hal dengan cepat dan bisa dibuktikan kebenaranya. Sebagai contoh, manusia mengetahui langkah-langkah untuk mencegah penularan dan mengetahui bagaimana proses virus corona menular. Semisal, tidak berkerumun di publik, tidak menyentuh gagang pintu, tombol lift, menggunakan masker, memakai hand sanitizer, cuci tangan dan seterusnya. Informasi ini kita dapati dari dokter yang melakukan penelitian dengan analisis informasi ilmiah, sehingga temuan dokter ini dipercepat penyebaran informasinya melalui media; telivisi, online, cetak, internet, dan lain sebagainya.

Disinilah yang penulis maksudkan bahwa Sains memandu manusia menghadapi virus corona. Satu contoh lainya akan dituliskan di bawah untuk membuktikan bahwa Sains memandu manusia melawan wabah benar adanya.

Ketika Black Death terjadi pada abad ke-14, masyarakat pada saat itu tidak mengerti penyebabnya dan apa yang harus dilakukan untuk menghentikan wabah tersebut. Hingga awal era modern, manusia biasanya menyalahkan penyakit sebagai wujud kemarahan para dewa, iblis jahat, atau udara buruk dan bahkan tak mencurigai adanya bakteri dan virus.

Masyarakat saat itu percaya kepada para dewa dan orang-orang pintar, tetapi mereka tidak membayangkan bahwa setiap tetesan air mungkin bermuatan pasukan predator pembunuh. Oleh karena itu, ketika Black Death atau cacar mewabah, hal terbaik yang bisa dilakukan oleh otoritas ialah mengumpulkan massa untuk berdoa kepada para dewa. Namun, tindakan tersebut tidaklah membantu. Ketika orang berkumpul bersama untuk berdoa secara massal, justru tindakan tersebut akan mengakibatkan orang-orang terinfeksi.

Selama beberapa abad terakhir, ilmuan, dokter, dan perawat mengumpulkan informasi dari seluruh dunia dan bersama-sama berusaha memahami mekanisme di balik epidemi tersebut, dan pada akhirnya dapat menemukan cara untuk menghadapinya. Teori evolusi telah menjelaskan bagaimana penyakit baru muncul dari penyakit lama yang berubah menjadi lebih ganas. Ilmu genetika memungkinkan para ilmuan untuk meneliti manual instruksi pada patogen atau mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit.

Ketika orang-orang pada abad pertengahan tidak mampu menemukan penyebab dari Black Death, para ilmuan hari ini hanya butuh 2 minggu untuk mengindetifikasi virus corona, mengetahui urutan genomnya, dan mengembangkan alat yang lebih handal untuk mengindetifikasi orang yang terinfeksi.

Ketika para ilmuan berhasil memahami apa penyebab dari suatu epidemi, maka selanjutnya akan memudahkan dalam menghadapinya. Pemberian Vaksinasi, antibiotik, serta peningkatan kebersihan dan infrastruktur kesehatan dapat memungkinkan manusia untuk menang melawan predator yang tidak kelihatan ini.

Pada tahun 1967, penyakit cacar masih menularkan 15 juta orang dan menewaskan 2 juta orang. Pada dekade berikutnya, kampanye secara global untuk vaknisasi cacar berhasil dilakukan, tepatnya pada 1979 World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa kemanusian telah menang, dan penyakit cacar bisa dientaskan. Sementara pada 2019, tidak ada satupun orang terinfeksi ataupun terbunuh oleh penyakit cacar.

Apa yang bisa kita simpulkan dari uraian di atas? berkat ilmu pengetahuan itulah manusia bisa mengetahui penyebab dari virus corona hingga cara menghadapinya. Menjadi hal yang berbeda jika dibandingkan dengan masa terdahulu dimana manusia menghadapi wabah tanpa Sains.

 

[1] Silabus Kelas Mondok Angkatan VII, Kelompok Studi Kader (KLASIKA), hlm 43

[2] Ibid hlm 44

[3] Wabah, Sains Dan Politik, Yuval Noah Harrari, Penerbit Antinomi, Hlm 66, Juni 2020 (ebook)

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: