RATM : Band Kiri Paling Progresif Sedunia

Setiap gerakan Revolusi adalah gerakan yang didasari cinta. Semua lagu yang saya tulis berasal dari hasrat untuk menggunakan musik sebagai alat buat lebih memanusiakan manusia.  -Zack De La Rocha-

Rage Against The Machine (RATM) adalah Band beraliran politik haluan kiri yang paling berpengaruh sedunia. Nama Rage Against the Machine sendiri terilhami dari pidato Karl Marx. Kiprah mereka di panggung politik dan sosial terlihat ketika memainkan musik dengan lirik penuh kritik tajam pada penguasa globalisasi, juga keterlibatan mereka dalam demonstrasi menentang IMF.

Awalnya RATM beranggotakan Zack De La Rocha (vokalis), Tim Commerford (bass), Tom Morello (gitar), dan Brad Wilk (drum). Mereka telah menjual sekitar 12 juta keping seluruh dunia. Bahkan album pertama mereka disebut-sebut album terbaik sejagat versi majalah Rolling Stone (2010).

RATM langsung mencuri perhatian sejagat saat album pertama mereka menampilkan lagu Killing in The Name mempunyai sampul bergambar biksu membakar dirinya. Thich Quang Duc, biksu asal Vietnam ini membakar diri di Kota Saigon (sekarang Ho Chi Minh) sebagai protes atas rezim Ngo Dinh Diem pada tahun 1963.

“Tanpa politik, saya tidak akan pernah ada di band ini,” Itulah pernyataan Zack De La Rocha, vokalis Rage Against The Machine (RATM). Politik memang identik dengan band rap metal ini.

Sejak terbentuk mereka gencar melancarkan berbagai misi politik lewat musik. Misi tersebut kadang menjadi penyebab ketegangan di antara mereka sendiri, sehingga mereka memilih untuk vakum beberapa tahun sampai akhirnya merilis album baru di tahun ini.

Seperti dua album terdahulu, Rage Against The Machine (1992) dan Evil Empire (1996), album ketiga The Battle of Los Angeles mengusung misi yang sama yaitu politik, persamaan hak, dan anti rasisme.

Misi utama mereka ketika itu adalah mendukung pembebasan Mumia Abu-Jamal, seorang jurnalis dan mantan anggota perkumpulan Black Panther yang didakwa hukuman mati atas pembunuhan seorang polisi Philadelphia di tahun 1981. Secara eksplisit nama Mumia disebut Rocha di lagu Guerrilla.

Selain dukungan terhadap Mumia, Rage Against The Machine (RATM) juga mendukung perjuangan tentara pembebasan nasional Zapatista yang membela penduduk negara bagian Chiapas yang ditindas tentara Mexico.

Mereka juga mendukung perkumpulan Women Alive yang membela hak-hak wanita. Bahkan saat menggelar konser di Honolulu, Rocha sempat berhenti di tengah lagu dan membentak sekumpulan pria yang melakukan pelecehan pada sekelompok wanita.

Rocha juga terlibat langsung dalam beberapa demonstrasi rakyat Chiapas. Perjalanannya ke Chiapas pada tahun baru 1994 gerilyawan Zapatista menguasai Mexico untuk sehari.

Dalam kesempatan itu Rocha menulis lagu War Within The Breath. Lagu ini merujuk pada kekuatan petani dan buruh bersenjata batu dan kayu mengalahkan kekuatan tentara Meksiko dengan bantuan tentara Amerika Serikat bersenjata api, kendaraan lapis baja, Jet, dan sebagainya.

Bagi RATM sendiri lagu mempunyai peran dominan dalam mengungkapkan, mempertanyakan, mengkritik ketidak seimbangan di sekitar mereka. Musik mereka sering disebut dengan Hip Metal atau Rap Rock yakni ramuan musik Heavy Metal dikolaborasikan dengan Hip-Hop. Alasan mereka menggunakan aliran ini cukup rasional, dengan gaya musik semacam ini pada tengah-tengah lagu mereka bisa sambil pidato, orasi, kampanye dan semacamnya.

Dalam perjuangan mereka bergelut di dunia musik sekaligus kampanye kemanusiaan hasil royalti mereka terima sebagian untuk membantu para petani Meksiko.

Lirik-lirik Rocha juga dipengaruhi sejumlah penulis favoritnya, seperti penyair Cuba, Jose Marti, jurnalis dan penulis essay Uruguay, Eduardo Galeano, dan Amiri Baraka. Dia juga sering nongkrong di Nuyorican Poets Café cuma untuk berdiskusi dengan para penyair di sana.

Dia juga rela pergi ke Jenewa untuk memohon persidangan ulang bagi Mumia kepada Komisi Hak Asasi Manusia, PBB. Kini pihak Amnesti Internasional dan Parlemen Eropa mulai mempertanyakan kembali kasus Mumia.

“Sebetulnya sulit bagi saya untuk menyeimbangkan kegiatan menulis lagu dengan partisipasi dalam gerakan solidaritas di L.A”  ujar Rocha, 44 tahun. RATM juga aktif menggelar berbagai konser amal, seperti A Benefits for Abu-Jamal, Rock For Choice, dan Britain’s Anti-Nazi League.

“Jika kami hanya menyanyikan lagu tentang berkendaraan dengan atap mobil terbuka, band ini sudah lama pecah “ komentar Tom Morello, gitaris keturunan Afrika-Amerika yang menyandang gelar sarjana dari Harvard. Morello sendiri pernah ditahan polisi di tahun 1997 saat ikut berdemonstrasi memperjuangkan perbaikan kondisi rumah buruh pabrik Guess Jeans di Santa Monica.

Kegiatan politik para personil RATM tersebut membuat kelompok ini tidak seproduktif grup lain. Ketegangan yang mereka alami membuat mereka sulit berkomunikasi. Bahkan setelah merilis album pertama di tahun 1992, mereka tak punya satu pun materi untuk album kedua.

Di musim dingin antara tahun ’94-’95, pihak Epic Record akhirnya mengurung RATM di sebuah rumah di Atlanta agar bisa menulis lagu. Waktu itu mereka diancam untuk segera menulis lagu atau membubarkan diri.

Bagi para personil RATM, itulah masa yang paling sulit. “Saat itu sama sekali tak ada komunikasi, baik musikal maupun personal. Kami tak pernah sepakat dalam berbagai hal. Kami dikurung seperti dalam (MTV) Real World ke sepuluh,” kenang Morello.

Mereka akhirnya meninggalkan Atlanta tanpa sepotong lagu pun meski telah berlatih setiap hari. Padahal lagu-lagu di album pertama ditulis hanya dalam waktu sebulan. Akhirnya album kedua Evil Empire bisa rampung di bulan April 1996 dan mencetak hit Bulls On Parade.

Meski sama-sama menyukai politik, keempat personil RATM memiliki latar belakang keluarga yang beragam. Ayah Zack, Beto De La Rocha adalah seorang seniman grafis yang menjadikan karyanya sebagai media protes dan ibunya, Olivia De La Rocha seorang ahli antropologi.

Rocha telah berteman dengan Commerford yang asli California, sejak mereka masih duduk di sekolah dasar. Dari Rocha, Commerford mengenal lagu-lagu Sex Pistols dan belajar memainkannya dengan bas. Sementara Wilk yang lahir 46 tahun lalu di Portland, Oregon, adalah anak seorang pedagang perhiasan.

Tom Morello lahir di Harlem 50 tahun lalu, tempat yang ia sebut sebagai ‘gudangnya politik’. Ayahnya, Ngethe Njoroge, seorang mantan diplomat dan juga pemberontak. Dia pernah bergabung dengan gerakan gerilya Mau Mau yang berjuang membebaskan Kenya dari Inggris dan dia menjadi orang pertama yang mewakili Kenya di PBB setelah Kenya merdeka. Ibunya, Mary yang berkulit putih juga aktif di berbagai organisasi politik.

Dia mendirikan kelompok Axis of Justice, pegiat memperjuangkan hak-hak kaum imigran dan penghapusan hukuman mati. Sejak kecil Tom sangat menggemari band-band rock seperti Black Sabbath dan Alice Cooper.

Sejak kecil pula Tom dan Rocha akrab dengan perlakuan diskriminatif dari masyarakat. Gurauan seorang guru yang berbau rasisme saat Rocha SMA telah membuka matanya. Sejak saat itu Rocha bertekad untuk tidak tinggal diam terhadap berbagai perlakuan diskriminatif.

Lewat musik dan lirik lagu, Rocha dan Morello mengangkat semua isu politik dan anti rasisme, sementara Wilk dan Commerford secara perlahan tapi pasti mulai belajar soal politik.

“Setiap gerakan revolusi adalah gerakan yang didasari cinta. Semua lagu yang saya tulis berasal dari hasrat untuk menggunakan musik sebagai alat buat lebih memanusiakan manusia. Semua lagu yang saya tulis adalah lagu cinta”  tambah Rocha yang mengambil nama RATM dari lagu yang ia tulis.

Pada Oktober tahun itu juga,  Zack De La Rocha mengundurkan diri. Dia menilai anggota lain sudah tidak seiring sejalan pandangan politik dengannya. Selentingan mengatakan lelaki itu menjadi petani di wilayah Chiapas, Meksiko. De la Rocha juga dikenal dekat dengan subcomandate Marcos, pemimpin gerilyawan Zapatista Meksiko Selatan.

Dan kini RATM hidup lagi !!! Pada 29 April 2007, Zack de la Rocha Kembali tampil dalam acara Coachella, di California dan membawakan kembali lagu-lagu lama mereka. Hasta Victoria La Simpre !!!

*dari berbagai sumber

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: