Beranda Jalan Pilpres: Kita “yang naif” di tengah Kapitalisme Global

Pilpres: Kita “yang naif” di tengah Kapitalisme Global

344
0
BERBAGI
Sumber gambar: www.bbc.com

Kalau saja kita mau sedikit menundukkan kepala, tahu diri, lalu membaca, sepertinya kita akan lebih mudah menerima, dan insyallah paham bahwa sebenarnya kita semua adalah korban. Ya, sama-sama korban. Korban dari apa? Dari kerasnya pertarungan dagang internasional yang sejak dulu sudah dan akan terus mengeksploitasi tanah Indonesia beserta isinya.

Negara kita adalah lahan subur, pemasok bahan mentah sekaligus pasar yang menjanjikan bagi negara-negara industri maju terbesar seperti Amerika dan China. Maka menjadi hal yang wajar, jika suksesi kepemimipinan macam pemillihan presiden (pilpres) saat ini kedua belah pihak ikut bermain (total). Kita sedang mengalami apa yang disebut dengan proxy war (perang cecunguk/boneka). Indonesia menjadi lapangan tempur model asimetris (non militer) bagi Cina maupun Amerika Serikat.

Lihat yang terjadi di Mahakam, Blok Cepu, Natuna dan banyak lagi wilayah di Republik ini. Atau coba sesekali cari tau apa itu exxonmobil, freeport mc morran, Chevron, petrochina, caltex pasific, british petroleum, international nickle, komerindo utama, alcatel dll. Tidakkah fakta-fakta tersebut harusnya membuat kita masygul, ketika mendapati betapa rakusnya perusahaan-perusahaan dagang tersebut. Baik yang swasta maupun plat merah, sama-sama merampok habis kandungan sumber daya alam (SDA) negeri ini.

Kemudian lihat betapa kerasnya Amerika menghalau program “one belt one road” atau jalur sutra modern milik China pimpinan Xi Jinping yang disinyalir melakukan ‘silent invasion’ dengan berusaha menghubungkan wilyah timur dan barat (usaha china menghegemoni perdagangan dunia yg sebelumnya dimonopoli barat) baik lewat jalur darat maupun laut.

jalur sutra modern abad 21
Sumber gambar: rofiudin23.files.wordpress.com

Jalur darat dimulai dari Cina melewati Eropa Timur lalu berakhir di Eropa Barat. Sedangkan jalur maritim akan melewati Vietnam, Malaysia, Indonesia, India, lalu masuk ke Afrika Timur menuju Kenya, Somalia, melewati Teluk Aden, dan Laut Merah dan berlanjut ke Afrika Utara melalui Terusan Suez dan menuju ke Italia, eropa.

Mereka (Amerika & China) adalah pemain utama dalam pilpres ini (dan di hampir tiap suksesi kepemimpinan di berbagai belahan negara dunia). Baik Amerika maupun China sebodo amat sama urusan cara kita berwudu, salat laki-perempuan satu saf sah atau tidak, sholat subuh pakai qunut apa kagak, apalagi tentang jika memilih presiden ini dianggap menyelamatkan aqidah, dan jika memilih yang itu dianggap nasionalis banget.

Mereka, sama-sama tidak peduli, dan justru menjadi otak dari begitu massifnya isu-isu identitas tersebut hadir dan dengan cepat berseliweran di depan muka serta kepala kita yang naif dan kekanak-kanakan ini. sementara kepala mereka hanya berisi berbagai modus operandi untuk menguasai aset SDA kita, khususnya sektor migas dan pertambangan dengan cara yg paling murah-mudah.

Kita semua korban, itu fakta. Oleh karena itu, Jika kita terus saja mengumbar kebencian dan saling kongek -wong sama-sama korban aja kok saling ejek, kan tolol-  atas pilihan politik masing-masing seperti yang dinginkan oleh para penjajah itu; Maka, kita akan kalah banyak!

kekalahan telak itulah yang sudah terjadi di Irak, Syiria, Libya dan daerah-daerah arab lainnya, yang hancur lebur diacak-acak oleh kapitalisme barat, yaitu Amerika. Maupun yg terjadi di maladewa, zimbabwe, angola, srilanka dan Negara-negara afrika lainnya yang dihabisi secara ekonomi oleh china sebagai perwakilan kapitalisme timur (ingat, china adalah negara dengan 2 sistem).

Jadi, memilihlah dengan rileks dan tak usah sok berat, karena kapan diajak ngobrol dan diskusi yg agak berat dikit, toh kagak sampe juga otak kita ini, bhahahaha.

Wallahul Muwafieq illa aqwamitharieq

Wassalamua’laikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

*sumber tulisan: laman Facebook Chepry Hutabarat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here