Beranda Ide Perspektif Paulo Freire Menuju Pendidikan Berkualitas

Perspektif Paulo Freire Menuju Pendidikan Berkualitas

Cecep

636
0
BERBAGI
sumber gambar: https://lapmikomfebi.wordpress.com

Pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang tidak hanya mampu mencetak peserta didik yang berkualitas tetapi juga harus mampu mencetak lembaga pendidikan dan tenaga pengajar yang berkualitas. Lalu, apakah dunia pendidikan di Indonesia sudah memiliki kualitas?

Dunia pendidikan Indonesia sekarang ini semakin ‘bobrok’. Hal ini terjadi karena  mayoritas sekolah-sekolah dan tenaga pengajar Indonesia masih mempraktikan pendidikan gaya ‘bank’. Di dalam sistem ini, pengajar menganggap murid-muridnya adalah sebuah ‘buku tabungan’, dimana pengajar hanya menstranfer ilmu-ilmunya kepada murid, namum mereka tidak mengajak muridnya  berpikir untuk melihat apakah teori-teori yang mereka ajarkan sesuai dengan realitas yang ada.

Yang paling parah adalah ketika mendidik muridnya, pengajar memiliki tujuan tertentu karena mereka menganggap muridnya tabungan, maka apa yang mereka tabung dapat diambil untuk dimanfatkan. Pendidikan pada akhirnya bersifat negatif karena digunakan untuk mencapai suatu kepentingan.

Salah satu ciri negatif dari pendidikan gaya bank adalah, teori-teori yang diajarkan oleh pengajar kepada muridnya, dianggap suatu kebenaran  mutlak yang dipaksakan pengajar agar dapat dihapal, dan diingat oleh murid.

Murid tidak diberi ruang berpikir untuk mengkritik dan mengkaji apakah yang diajarkan oleh pengajar sesuai dengan realita yang terjadi. Mereka mengindoktrinasi murid bahwa yang  meraka ajarkan adalah kenenaran yang mutlak.

Ini terjadi hampir di semua sistem pendidikan negara Indonesia, dan sistem ini bisa kita rasakan mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Bahkan sistem pendidikan seperti ini sudah menjadi tradisi atau budaya yang mengakar.

Menurut Paulo Freire, sistem pendidikan gaya bank adalah sistem pendidikan yang bersifat ‘menindas’. Guru memposisikan dirinya sebagai subjek tunggal yang memandang muridnya hanya sebagai objek didik-an, hingga murid tidak lagi memiliki kebebasan bertindak dan berfikir dan menghilangkan proses dialektik.

Selain itu menurut Freire dalam sistem pendidikan gaya bank guru selalu melakukan beberapa tindakan untuk menunjukkan ke-subjek-an dirinya, yaitu;

  1. Guru mengajar, murid belajar
  2. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa
  3. Guru berpikir, murid dipikirkan
  4. Guru bicara, murid mendengarkan
  5. Guru mengatur, murid diatur
  6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti
  7. Guru bertindak, murid mengikuti
  8. Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri
  9. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid-murid
  10. Guru adalah subjek proses belajar, murid objeknya

Tindakan-tindakan tersebut, dilakukan untuk menunjukan ke-superior-an mereka. Pada akhirnya si murid akan menjadikan gurunya sebagai ‘objek ideal’ (the big other) yang setiap ajaran dan tindakan sang guru harus ditiru dan dijadikan sebagai tauladan bagi mereka, terlepas benar salahnya sang guru, murid tidak lagi memikirkan hal tersebut.

Kemudian  yang paling parah adalah ketika murid yang nantinya menjadi seorang guru, secara sadar atau pun tidak dia akan meneruskan praktik pendidikan gaya seperti yang ia terima. Sebab ia telah menjadi gurunya sebagai ‘objek ideal’ dan akhirnya mem-budaya.

Kasus-kasus murid dan guru yang sering terjadi merupakan salah satu akibat dari pendidikan gaya bank. Salah satunya adalah kasus yang baru-baru ini terjadi di SMAN 1 Torjun Sampang, Madura, yaitu kasus pemukulan yang dilakukan oleh murid kepada gurunya sehingga menyebabkan sang guru meninggal dunia karena luka di kepala.

Menurut kaca mata Freire, murid tersebut tidak sepenuhnya salah. Di luar factor lingkungan, moral dan agama pendidikan gaya bank juga menjadi salah satu faktor terjadinya peristiwa semacam ini. Mengapa demikian?

Karena sistem pendidikan kita membuat murid tidak lagi memiliki kebebasan dalam berpikir maupun bertindak sesuai keinginannya, semua yg mereka lakukan sudah diatur oleh lembaga pendidikan dan guru-guru.

Di lingkungan sekolah kesubjekan mereka seolah-olah terpenjara, karena hanya diperlakukan sebagai objek dan untuk menunjukan kesubjekannya mereka dalam bentuk kenakalan-kenakalan. Sikap itu merupakan salah satu wujud pemberontakan sang murid dalam menunjukan subjektivitas mereka tidak tersalurkan.

Kemudian contoh lain akibat sistem pendidikan gaya bank adalah, sang guru selalu menjadikan kesuksesan muridnya sebagai tolak ukur keberhasilan pola ia mengajar.yang kemudai diceritakan pada generasi selajutnya dengan mengatakan hakikat belajar adalah mencapai kesuksesan.

Yang kemudian perkataan dari sang guru tersebut dijadikan bentuk kehidupan ideal oleh sang murid. Pada akhirnya mereka menganggap hakikat belajar di sekolah adalah untuk bekerja dan mencapai kesuksesan. Mereka akan merasa terasing jika mereka tidak bisa mencapai kesuksesan tersebut.

Fungsi lembaga pendidikan akhirnya bergeser menjadi pabrik untuk mencetak tenaga-tenaga kerja yang nantinya akan dipekerjakan kepada perusahan-perusahan (Kapital) yang membutuhkan. Hal ini mempertegas teori Althhusser tentang lembaga pendidikan yang digunakan pemerintah sebagai tempat menanamkan ideologi-ideologi kapitalis.

Selain itu tolak ukur dari kesuksesan guru dalam mengajar adalah nilai, mereka dikatakan berhasil hanya jika murid memiliki berprestasi dalam hal akademik. Ini juga salah satu masalah dalam dunia pendidikan kita hari ini, karena dunia pendidikan pada hari ini sangat positivis. Pintar atau bodohnya seseorang dapat dinilai dari nilai akademiknya.

Lalu apakah ada cara untuk merubah sistem pendidikan di Indonesia? Jika ada, pendidikan seperti apakah yang harus diterapkan di Indonesia?

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah konsep pendidikan ideal yang di ajarkan oleh Paulo Friere. Menurut Paulo Friere konsep pendidikan yang harus diterapkan saat ini adalah Pendidikan Pembebasan. Dalam sistem pendidikan ini pengajar tidak lagi menganggap murid sebagai objek, tapi juga menjadi subjek. Bahwa murid adalah manusia yang memiliki fikiran dan kebebasan berfikir.

Dalam sistem pendidikan pembebasan murid diajak untuk berdiskusi melihat realitas (objek), di sini terjadi dialektika antara guru dan murid dalam proses belajar, guru tidak lagi menjadi kebenaran mutlak yang tak boleh dibantah. Dengan demikian penindasan dan eksploitasi murid tidak akan terjadi lagi karena pengajar menganggap muridnya sebagai makhluk yang setara, manusia.

Guru tidak lagi merasa dirinya superior dan memiliki kekuasaan atas murid-muridnya. Hasil lain dari sistem pendidikan ini jika diterapkan di Negara kita adalah, lembaga pendidikan kita akan mencetak manusia-manusia berkualitas yang memiliki pemikiran-pemikiran yang kritis dalam melihat realitas yang terjadi di Indonesia.

Jadi masihkah kita tetap mempertahankan sistem pendidikan kita saat ini, yang sangat terasa  unsur penindasan dan eksploitasinya?

Kita harus melakukan revolusi di dunia pendidikan Indonesia, agar kita bisa terbebas dari penindasan dan eksploitasi yang dilakukan oleh guru maupun lembaga pendidikan, yang membuat kualitas dunia pendidikan kita menjadi ‘bobrok’. Untuk mewujudkan itu semua maka sistem pendidikan gaya bank yang saat ini diterapkan harus diganti dengan sistem Pendidikan Pembebasan.

*Penulis merupakan alumni pondoKlasika angkatan III. saat ini masih terdaftar sebagai Mahasiswa aktif di kampus STIE Muhammadiyah Kalianda angkatan 2017. Pembaca dan Traveler gawat. mottonya: Cinta ini Membunuhku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here