Beranda Ide Perempuan: Hak Atas Tubuh & Hidup

Perempuan: Hak Atas Tubuh & Hidup

528
0
BERBAGI
sumber gambar: voxpop.id

Perempuan, betapa pun digaungkan sebagai makhluk yang istimewa, selalu diposisikan sebagai makhluk kelas dua. Terlebih dalam sisitem masyarakat patriarki, sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama atas seluruh aspek kehidupan baik politik, moral, sosial dan penguasaan properti. Padaahal permpuan punya hak penuh atas tubuh dan hidupnya.

Dalam kelompok sosial yang terkecil, seperti keluarga, kita dapat melihat bagaimana sistem masyarakat patriarki ini bekerja dan merenggut hak atas tubuh dan hidup perempuan. Seorang ayah, dimana pun tempat selalu memiliki otoritas lebih terhadap anggota keluarga, baik kepada istri, anak,  dan harta benda yang mengatur jalannya kehidupan berkeluarga secara penuh.

Kehidupan seperti ini lah yang menempatkan perempuan pada relasi tuan-budak atas dominasi yang dilakukan laki-laki. Nahasnya, sistem ini telah mengkonstruk streotip pada perempuan sebatas mengurusi persoalan dapur, kasur, dan sumur. Tidak lebih.  Ihwal  inilah yang sekiranya mempersulit perempuan untuk dapat keluar dari sistem masyarakat patriarki. Terlebih, pemahaman tentang hal tersebut telah menjadi pandangan umum dan dianggap sudah semestinya terjadi (natural).

Padahal, sistem sosial yang memposisikan perempuan lebih rendah dari  laki-laki ternyata tidak serta merta ada beggitu saja (taken for granted). Beberapa penelitian arkeolog menunjukkan bukti bahwa dahulu, terdapat masyarakat yang menempatkan laki-laki dan perempuan benar-benar pada kedudukan yang setara. Sebagaimana yang berjalan pada suku-suku Schytia di Asia Tengah dan Suku Indian, Iroquis.

Dimana, pada masyarakat Schytia di Asia Tengah perempuan dapat di angkat menjadi prajurit dan pemimpin perang. Dan dalam tradisi Suku Indian, Iroquis, laki-laki dan perempuan dewasa pada suku ini otomatis menjadi anggota dari dewan suku, yang berhak memilih dan mencopot kedudukan kepala suku. Oleh sebab itu, sudah semestinya pandangan umum ihwal streotip perempuan yang lemah lembut dan tak berdaya sebagai makhluk kelas dua digugat, dan mencari akar sejarah bagaiamana sistem yang menindas ini  bermul serta mengembalikan hakperempuan atas hidup dan tubuhnya.

Awal Mula Budaya Patriarki

Terciptanya budaya patriarki di dasari oleh berubahnya keadaan lingkungan masyarakat dari yang berpindah-pindah (nomaden) kemudian menetap. Pada masa silam, manusia menggantungkan hidup pada alam, dengan berburu dan mengumpulkan makanan, kegiatan ini di lakukan oleh laki-laki, sementara perempuan tinggal dirumah. Kondisi tersebut menjadikan perempuan banyak memiliki waktu senggang, sehingga perempuan mengisi waktu dengan bercocok tanam, menanam umbi-umbian dan biji-bijian yang tidak jauh dari rumah atau tempat tinggalnya. Dikarenakan hal tersebut hanya untuk mengisi waktu senggang, maka tidak di anggap sebagai sesuatu yang penting untuk dapat di kerjakan oleh seluruh keluarga (Setiawan: 2012).

Seiring berkembangnya waktu, aktivitas  yang selama ini di lakukan oleh laki-laki, seperti  berburu dan mengumpulkan makanan sudah tidak cocok lagi di lakukan karena kondisi alam yang berubah. Hal itu membuat laki-laki mengambil alih kegiatan yang sebelumnya di lakukan oleh kaum perempuan, yakni bercocok tanam. Proses produksi yang mulanya di kerjakan bersama-sama oleh anggota suku, akhirnya dikerjakan secara individual. Sehingga proses komunal perlahan tergantikan oleh proses individual dan menghasilkan hasil produksi menjadi milik individu (Arif Budiman:1981). Berawal dari sinilah, sistem pertanian memperkenalkan kepemilikan pribadi pada umat manusia. Hal ini menjadi awal lahirnya sistem  patriarki.

Berkembanganya alat-alat pertanian membuat aktivitas produksi di bidang pertanian tertutup bagi perempuan. Sebagaimana temuan para arkeolog tentang luku atau bajak, yang hanya dioperasikan oleh laki-laki karena bajak merupakan alat yang berat sehingga tidak memungkinkan perempuan untuk mengendalikanya. Hal ini membuat perempuan tergeser dari pertanian, padahal bercocok tanam adalah aktivitas yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh mereka.. Dengan demkian pula, sistem masyarakat patriarki mulai tumbuh dan menjadikan perempuan tergeser dari pekerjaan-pekerjaan pertanian ke pekerjaan domestik: dapur, kasur, sumur. Menjijikan.

Awal Mula Feminisme

Feminismne merupakan sebuah gerakan yang menuntut kesetaraan dan keadilan hak antara permpuan dengan laki-laki, yang meliputi seluruh aspek kehidupan. Feminisme dapat dikatakan pula sebagai sebuah ideologi yang berusaha melakukan pembongkaran sistem patriarki yang menindas. Dimana laki-laki di anggap lebih unggul di bandingkan dengan perempuan haruslah dihapuskan.

Revolusi perancis 1787 adalah isyarat pertama lahirnya gerakan Feminisme. Pada tahun ini seorang pemikir pencerahan Marquis de Condorcet hadir sebagaio salah satupenggagas gerakan feminisme, dengan menerbitkan sebuah risalah mengenai hak kaum perempuan. Condorcet berpendapat, bahwa perempuan mempunyai hak alamiah yang sama dengan laki-laki. Risalah ini hadir sebagai bentuk protes atas hak warga negara yang hanya diperuntukan pada  laki-laki.

Ilustrasi Revolusi Perancis
Sumber Gambar: seniberpikir.com

Selain Marquis de Condorcet, terdapat salah satu pejuang Feminisme yang paling gigih membela hak asasi kaum perempuan selama bergulirnya Revolusi Perancis, yakni Olympe de Gouses. Pada tahun 1791 Olympe de Gouses menuntut seluruh hak yang sama bagi kaum perempuan sebagaimana yang di berikan kepada laki-laki. Sialnya, atas kegigihan dan keberanian yang dilakukan oleh Olympe de Gouses, dirinya dijatuhi hukuman mati,  kepalanya di penggal dan seluruh aktivitas politik permpuan dilarang.

Barulah pada abad ke 19 Feminisme benar-benar bergerak, tidak hanya di Perancis melainkan di seluruh Eropa. Hingga kini feminisme sangat ramai diperbincangkan, sehingga muncul beraneka macam aliran feminisme. Seperti Feminisme Liberal, Radikal, Marxist sampai Anarki yang dijadikan sebagai suatu pandangan politik demi mencita-citakan hapusnya sistem masyarakat patriaki.

Ketidak Berpihakan Perempuan Terhadap Perempuan

Kesetaraan antara permpuan dan laki-laki yang terus-menerus diperdebatkan sebenarnya bukan hanya karena laki-laki menjadikan perempuan sebagai objek dan memandangnya lebih rendah. Namun, karena perempuan pun memberi ruang untuk diperlakukan demikian. Kita (perempuan) seolah-olah meminta untuk diperlakukan secara istimewa. Padahal, tujuan hadirnya sistem masyarakat yang setara hanya dapat diwujudkan jika perempuan menanamkan pada dirinya, bahwa perempuan, hadir dimuka bumi sebagai makhluk yang setara, sejajar, sama dan pengistimewaan terhadapnya adalah penghambat cita-cita hidup yang adil dan setara.

Gerakan Permpuan di Indonesia
Sumber gambar: duniasenyap.blogspot.com

Di Indonesia sendiri, gerakan untuk menuntuk keadilan dan kesetaraan mendapat dukungan baik dari di masyarakat. Kita ambil contoh pendidikan, kini kaum perempuan dapat belajar dengan baik  serta leluas melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi. Dari segi politik, kaum perempuan juga sudah mendapatkan hak-nya untuk bersuara baik di pemilihan umum atau menduduki kursi-kursi strategis di pemerintahan. Dalam aspek payung hukum, berbagai UU dan aturan yang tegas berpihak pada perempuan telah memihak kaum perempuan. Misalnya saja UU Tenaga Kerja yang memberikan hak cuti hamil bagi perempuan. Tersedianya tempat bagi para perempuan hamil di transportasi umum, tersedianya tempat menyusui agar menjadi lebih nyaman, dan sebagainya.

Apa yang dirasakan sekarang merupakan buah perjuangan panjang yang telah dimulai jauh dari ratusan tahun silam. Meskipun masih banyak kekurangan yang dirasakan, namun melihat perkembangan yang begitu pesat, sudah sepatutnya kita syukuri, dan terus melanjutkan perjuangan. Agar apa? Agar perempuan mendapatkan kesetaraan yang dicita-citakan.

Namun, yang acapkali luput menjadi sumbatan adalah perempuan masih sering menempatkan dirinya pada dua standar atau standar ganda. Satu sisi berteriak atas nama kesetaraan namun disisi lain perempuan masih lalim terhadap dirinya sendiri atau dengan kata lain tak konsisten terhadap apa yang ia perjuangkan. Misalkan, perempuan ingin bebas namun masih takut dengan omongan orang lain, yang harusnya itu sudah selesai di pemahamannya. Perempuan ingin disetarakan dalam menjalani kehidupan sebagaimana yang dijalani laki-laki. Namun kepada pelacur atau perempuan perokok, perempuan masih asing dan sinis terhadapnya, padahal jelas, itu menjadi hak mereka. Ketidak konsistenan inilah yang kiranya membuat gerakan feminsme tersendat-sendat.

*Penulis adalah Perempuan biasa asal Lampung Barat yang terus berjuang menentukan ke-Diri-an dan ke-Siapa-annya, lewat tangannya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here