Pendidikan di Tengah Wabah Corona

Mengingat masa darurat wabah corona yang menyebabkan pelaksanaan “belajar dari rumah” ini masih panjang (hingga akhir Mei 2020), maka mulailah dari sekarang—dan untuk seterusnya—pendalaman pada bidang yang benar-benar bisa memacu aktualisasi diri dan perkembangan potensi (bukan hanya terpaku pada kurikulum).

Oleh: Asep Sugiarto

Diperpanjangnya status keadaan tertentu darurat terkait bencana non-alam yang disebabkan oleh pandemi corona virus disease (COVID-19) mulai dari 29 Februari hingga 29 Mei 2020 (selama 91 hari), menjadi tanda bahwa situasi yang sedang melanda negeri ini bukanlah hal sepele dan bukan pula perkara mudah untuk diselesaikan. Dampak dari serangan virus corona ini juga tak hanya menyerang wilayah kesehatan masyarakat Indonesia semata, tapi juga punya efek samping di berbagai sektor, seperti sektor ekonomi, sektor pendidikan, dan sektor lainnya.

Dalam sektor pendidikan, meskipun pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerapkan berbagai kebijakan demi tetap berlangsungnya proses belajar mengajar (PBM), namun pada kenyataannya, hal itu masih belum berjalan efektif dan masih menemui beragam hambatan dan keterbatasan. Walau begitu, apakah pendidikan pantas ditinggalkan di tengah kondisi saat ini? Tentu saja tidak! Pendidikan harus terus melaju, dengan cara dan upaya apapun–yang paling mungkin bisa dilakukan.

Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Mulanya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang pencegahan corona virus disease (Covid-19) pada satuan pendidikan guna mencegah penyebaran virus corona di lingkungan sekolah. Sekolah tetap dilakukan seperti biasa, namun standar kesehatan ditingkatkan dengan menjaga kebersihan secara ketat, menyediakan tempat cuci tangan pakai sabun (CTPS), sterilisasi benda-benda yang sering disentuh dan digunakan banyak orang, serta melaporkan kepada Dinas Kesehatan jika terdapat warga satuan pendidikan yang menunjukan gejala-gejala terjangkit virus corona.

Karena kondisi penyebaran corona virus dinilai mulai genting. Bapak Nadiem pun menerbitkan Surat Edaran nomor 36962/MPK.A/HK/2020 guna menerapkan sistem “belajar dari rumah”. Tatap muka di sekolah tak lagi dilakukan. Guru mengajar dan siswa menyimak tak lagi di dalam ruang kelas, namun dari rumah masing-masing. Bagaimana pendidikan jarah jauh itu dimungkinan? Jawabnya adalah menggunakan teknologi dalam jaringan (online/daring).

Guna menunjang kebijakan tersebut, Pak Mendikbud juga melakukan serangkaian kerjasama dengan berbagai penyedia layanan pendidikan online, seperti Google Indonesia, Kelas Pintar, Microsoft, Quipper, Ruangguru, Sekolahmu, dan Zenius yang akan memberikan beragam konten-konten edukasi secara gratis. Beberapa penyedia layanan pendidikan online pun ramai-ramai menyusul untuk turut berpartisipsi menjaga terangnya cahaya  pendidikan. Dalam surat edaran itu, juga memberikan “keleluasaan” kepada para pimpinan sekolah (satuan pendidikan) untuk membuat pedoman pembelajaran berbasis jaringan yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

 

Gagap Pembelajaran via Online

Strategi Kemendikbud yang menerapkan pembelajaran  berbasis jaringan ini bisa dibilang sebagai sebuah terobosan yang brilian, namun langkah tersebut nyatanya harus tersendat karena terjadi gagap pembelajaran via online di kedua pihak—baik guru yang mengajar pun siswa yang belajar.

Gagap pembelajaran itu terjadi karena model dan cara pembelajaran yang “terpaksa” diubah. Tatap muka digantikan dengan menatap layar gadget. Suasana kondusif belajar di ruang kelas berganti dengan suasana rumah masing-masing—ada yang tenang, ada yang bising. Proses tanya jawab yang semula bisa langsung, kini harus melalui chat, voice note, pun video call di media sosial (misal: Whatsapp).

Semua pergantian itu mengandaikan adanya penghubung berupa peralatan canggih seperti smartphone android, laptop, ataupun komputer yang masih perlu didukung dengan koneksi internet, yang dapat aktif jika memiliki kuota. Masalahnya, tidak semua guru ataupun siswa punya peralatan canggih atau koneksi internet yang memadai guna kelancaran pembelajaran tersebut.

Belum lagi, penggunaan peralatan canggih tersebut nyatanya masih belum bisa diadaptasi oleh para pengajar. Beberapa siswa pun mulai mengeluh, merasa kelelahan, dan kebingunan, karena beberapa pengajar hanya memberikan tumpukan soal—via media sosial—kepada siswa dan harus diselesaikan dalam tenggang waktu terbatas—acapkali semakin bertumpuk karena soal tersebut diberikan pada waktu yang sama.  Walau tak semua pengajar demikian, beberapa guru pun ada yang melakukan inovasi-inovasi, seperti membuat video ceramah (presentasi pelajaran), lalu dikirimkan kepada siswa atau berbagai inovasi-inovasi lainnya.

Lalu Apakah dengan upaya tersebut tujuan pendidikan—seperti yang tercantum dalam Permendikbud No. 69 Tahun 2013, dimana satuan pendidikan bertugas membangun karakter peserta didik agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia—dapat terwujud?

Menemui keadaan para pengajar yang terbiasa dengan sistem pembelajaran tatap muka di kelas, namun kini harus mencapai tujuan mulia tersebut melalui pembelajaran via gadget. Tentu menjadi tantangan dan hambatan tersendiri. But, education must go on!

Pelaksanaan Pendidikan di Tengah Wabah

Pada akhirnya, di tengah kondisi yang tidak memungkinkan untuk menerapkan proses belajar mengajar seperti biasanya, Pak Nadiem pun meneritkan Surat Edaran No. 4 Tahun 2020 yang menghendaki UN tahun 2020 ditiadakan. Selanjutnya, aktivitas dan tugas pembelajaran “belajar dari rumah” pun dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah.

Dalam kondisi berbagai keterbatasan pelaksanaan pendidikan tersebut, kiranya kita bisa menaruh perhatian pada pemikiran seorang filsuf Austria, Ivan Illich yang menyatakan “disestablisment” atau “pembatasan peran sekolah” yang dimaksudkan janganlah menganggap sekolah sebagai institusi yang superior, kaku, dan otoriter, sehingga menjadi satu-satunya pusat untuk memperoleh pengetahuan.

Kemudian, dalam esainya yang berjudul The Ritualization of Progress, Illich mengatakan bahwa pendidikan yang perlu dijalankan—meskipun tidak mudah—adalah pendidikan yang universal, sehingga setiap siswa dapat mengubah setiap momen dalam hidupnya menjadi momen belajar berbagai pengetahuan dan peduli satu sama lain.

Illich pun menambahkan soal The Self-Educated yaitu orang-orang yang belajar secara mandiri (tidak terpaku hanya pada sekolah). Para siswa dapat belajar secara mandiri, karena pada hakikatnya mereka adalah mahluk yang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dan mengembangkan potensinya dengan memilih berbagai sarana atau lembaga yang tersedia.

Dengan demikian, kiranya keputusan Pak Nadiem dengan menerapkan pendidikan yang bervariasi antarsiswa sesuai minat dan kondisi masing-masing patut didukung dan diaplikasikan sebaik-baiknya hingga di tatanan sekolah baik di kota atau di desa, bahkan di pelosok sekalipun.

Mengingat masa darurat wabah corona yang menyebabkan pelaksanaan “belajar dari rumah” ini masih panjang (hingga akhir Mei), maka mulailah dari sekarang—dan untuk seterusnya—pendalaman pada bidang yang benar-benar bisa memacu aktualisasi diri dan perkembangan potensi (bukan hanya terpaku pada kurikulum).

Beragam pendalaman itu, bisa menari, bermusik, berpidato, menulis puisi atau cerpen, membaca novel, menggambar, melukis dan beragam kegiatan lainnya yang meningkatkan kualitas diri. Selain itu, hal yang menjadi penting adalah tetapkan sebuah target atau capaian, sehingga pada saatnya nanti, ketika kondisi negeri ini sudah mulai kondusif. Ketika para siswa telah kembali ke kelasnya masing-masing, mereka akan menyuguhkan capaian dirinya terseut melalui presentasi, pertunjukan atau pameran karya yang telah dibuat pada masa “belajar dari rumah” ini. Sebuah prestasi yang nantinya patut diapresiasi.

Jaga kesehatan, teruslah belajar, apapun kondisinya dan dimanapun diri berada.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: