Beranda Ide Pemuda, Demensia, dan Sejarah Kemerdekaan

Pemuda, Demensia, dan Sejarah Kemerdekaan

119
0
BERBAGI
sumber gambar: http://mediaindonesia.com/read/detail/62108-pemuda-kemerdekaan-dan-perubahan

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia telah memasuki usia ke-73, usia yang cukup tua bila diukur dengan usia seorang manusia. Cobalah sejenak kita bayangkan manusia dengan usia yang sesenja itu, pastilah kita dapati kerutan di wajah, rambut putih di kepala, dengan tubuh yang sudah tidak lagi tegap. Selain itu, penyakit lupa atau pikun menjadi gejala umum yang menghinggapi  manusia yang telah menginjak usia tersebut, atau dapat dikatakan fungsi otak telah menurun dan kehilangan daya ingat, yang dalam istilah medis disebut penyakit demensia.

Sayangnya, Indonesia bukanlah manusia yang secara person menjalani hidup, melainkan sebuah negara bangsa yang digerakan oleh banyak orang dan diperuntukan kepada banyak orang, salah satunya pemuda. Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk mendedah secara mendetail sejarah bangsa Indonesia yang terbentang jauh dibelakang.

Namun saya mencoba mengajak, atau setidaknya memantik pembaca untuk kembali mendiskusikan sejarah bangsa Indonesia yang dipelopori para pemuda. Karena melihat usia negara kita yang semakin menua dan telah diisi oleh generasi penerus yang rentan terserang “penyakit” demensia, terutama para generasi muda yang secara angkuh berkomentar “apa pentingnya masa lalu, bukankah lebih penting menatap masa depan” sembari memandang sejarah sebatas mata pelajaran yang membosankan. Atau berlagak sombong ingin merubah dasar negara (lihat: Alvara reaserch center 23,5%  mahasiswa setuju negara islam dan 16,3% pemuda setuju negara islam).

Komentar diatas memang tak sepenuhnya salah, tetapi jika kita mengabaikan sejarah dan sinis terhadapnya, sudah tentu akan mencerabut tujuan berdirinya bangsa ini. Padahal, lewat sejarahlah kita dapat mengambil pelajaran dan menjadikannya sebagai referensi untuk menata masa depan. Selain itu, menjadi salah satu cara untuk menghargai jasa para pahlawan yang dengan keberaniaan dan kecintaan terhadap tanah air berjuang demi cita-cita besar, yakni mewujudkan kemerdekaan. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa perjuangan itu tak sedikit pula menelan banyak korban jiwa.

Ihwal di atas, Buya Hamka mengungkapkan dengan cara yang indah, “demi kebahagian tanah airnya; padahal sebelum cita-citanya sampai, dia menutup mata, dia tewas, namun yang datang dibelakang tidak juga jera-jeranya. Ia merasa puas dengan kematian itu, moga-moga pengorbanan yang diberikannya menambah seuntai kalung yang akan digantung pada leher ibu pertiwi, menambah kekayaan pada sejarahnya yang gilang gemilang. Cinta tanah air menimbulkan riwayat-riwayat besar, menimbulkan pikiran yang mulia dan syair yang indah-indah (Hamka:2016). Oleh kerena itu membincang kembali perjalan bangsa Indonesia menjadi penting, terutama dikalangan pemuda milenial yang sudah mulai lupa dengan sejarah bangsanya sendiri.

Pemuda Sebagai Motor Gerakan

sumber gambar: https://mpn.kominfo.go.id/index.php/2012/07/19/penerbitan-pers-di-masa-penjajahan-dan-awal-kemerdekaan-indonesia/

Saya memulai dengan kutipan dari majalah  “Indonesia Merdeka” yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda, sebuah organisasi kepemudaan yang didirikan oleh para kaum muda terpelajar di Negeri kincir angin. Dalam kata pengatar majalah tersebut ditulis “Kita memasuki tahun baru dengan pakaian baru dan nama baru”. Perhimpuanan ini mulanya menggunakan nama indische Vereegening sebagaimana para pemuda Pribumi menggunakan nama Hindia dalam perkumpulannya (1908)  kemudian diubah menjadi Indonesische Vereegening. Dan Kata Hindia diubah dengan kata Indonesia begitu pun dengan majalah yang mereka terbitkan, semula diberi nama “hindia poetra” diganti menjadi “Indonesia Merdeka”.

Peristiwa pergantian nama tersebut menjadi cikal bakal lahirnya identitas Indonesia sebagai sebuah bangsa. J. Th. Petrus Blumburger (1931) mencatat, bahwa ditahun-tahun berikutnya telah banyak organisasi yang berorientasi nasionalis memakai nama Indonesia dan memberikan isi ketatanegaraan ke dalam kata tersebut. Pemakaian nama Indonesia sendiri menjamur, seperti dalam surat kabar, organisasi, judul-judul karangan dan sebagainya. Salah satunya pidato yang disampaikan oleh Nazar Datuk Pamuntjak, sebagai wakil Pelajar Indonesia (PI) dalam Liga Anti Penindasan dan Kolonialisme di Brussel pada 10-15 Februari 1927  dengan judul pidato “Indonesia dan Perjuangan Kemerdekaan”.

Meskipun asal usul kata “Indonesia” sendiri diperdebatkan sumbernya, namun semangat kemerdekaan terus digelorakan oleh kaum muda terpelajar. Seorang penulis dari Het Kolonial Weekblad adalah yang pertama  mempersoalkan masalah ini, dalam catatan ensiklopedia pada waktu itu mencatat bahwa A. Bastian sebagai pencipta nama Indonesia. Namun, dalam temuannya pada tahun 1805 seorang pegawai pemerintahan Inggris di Penang bernama J. R. Logan telah menggunakan kata tersebut lebih dahulu dalam karangannya yang berjudul Journal of Archipelago and Asia untuk mengusulkan nama Indonesia dalam menunjuk kepulauan yang dikuasai oleh Belanda.

Namun, bagi saya, perdebatan asal usul nama Indonesia menjadi persoalan lain yang dapat dibincang lebih mendalam di lain waktu. Tetapi bahwa nama Indonesia yang membawa spirit kemerdekaan begitu terasa memberikan dampak magis bagi para pemuda pribumi untuk dapat mewujudkan visi besar kemerdekaan tentu tak dapat kita elak. Oleh karena itu, nama Indonesia  mewakili perjuangan yang secara politis bergerak untuk keluar dari cengkraman kolonialisme.

Segenap keberanian dikumpulkan untuk mendirikan sebuah organisasi kepemudaan untuk menggolakan semangat perlawanan. Dan hal ini didasari oleh kesadaran yang tumbuh dari dalam diri pemuda Indonesia saat memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan, paska pihak Belanda menerapkan politik etis. Selain itu, kemenangan jepang pada perang melawan Rusia pada tahun 1905 terdengar hingga ke Hindia Belanda. Informasi ini menambah keyakinan bangsa-bangsa asia terjajah –tak terkecuali Indonesia- untuk dapat bangkit dan melakukan perlawanan terhadap Kolonialisme.

Lewat organisasi, para pemuda Indonesia bergerak. Pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri organisasi kepemudaan Budi Utomo yang dipelopori oleh pemuda, murid beberapa sekolah menengah, diantaranya R. Sutomo, dan R. Gunawan Mangunkusumo. Dalam organisasi ini pulalah cikal bakal kemerdekaan dapat kita jumpai. Melalui semangat persatuan Budi Utomo melakukan permusyawaratan dengan menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya.

sumber gambar: http://www.mikirbae.com/2016/07/menuju-sumpah-pemuda.html

Bukan hanya Budi Utomo, berbagai organisasi kepemudaan mulai bermunculan seperti jamur dimusim penghujan. Pada tanggal 7 Maret 1915 berdiri organisasi Tri Koro Dharmo di jakarta, dengan tujuan untuk mencapai jawa raya dengan jalan memperkukuh rasa persatuan antar pemuda jawa, bali, madura, dan lombok. Namun karena sifatnya yang jawasentris, Tri Koro Dharmo mengubah nama organisasi menjadi Jong Java.

Di berbagai daerah Hindia Belanda lainnya berdiri pula organisasi yang dipelopori oleh para pemuda, di sumatera berdiri Jong Sumatranen Bond yang didirikan oleh murid-murid sekolah yang berasal dari sumatera. Diantara para pemuda yang tergabung di Jong Sumatranen Bond terdapat nama tokoh-tokoh besar yang terlibat aktif dalam dunia pergerakan Indonesia seperti Moh. Hatta, Moh. Yamin dan Sutan Syahrir.

Pada tahun 1918 lahir Jong Minahasa yang didirikan oleh para pemuda dan pelajar yang berasal dari Minahasa, di sulawesi lahir organisasi kepemudaan dengan nama Jong Celebes, di ambon lahir Jong Ambon, Jong Pasundan di tanah sunda.

Kebangkitan nasional telah dirintis oleh para pemuda untuk mencapai kesadaran kebangsaan (nasionalisme) sebagai upaya menuju kemerdekaan. Perlawanan fisik yang dilakukan oleh angkatan tua menambah keyakinan angkatan muda untuk menentukan arah juang alternatif untuk menuju kemerdekaan. Maka, pilihan perjuangan selanjutnya dilakukan dengan wujud pendidikan dan organisasi untuk menuju negara merdeka dan tercapainya masyarakat adil dan makmur.

Pada perjalanan selanjutnya, semangat para pemuda mencapai puncaknya di Kongres Pemuda ke-II yang dilaksanakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Dalam kongres pemuda ke-II ini semakin memperteguh semangat kolektif para pemuda, dengan hadirnya “Sumpah Pemuda” sebagai “wadah” berdirinya suatu bangsa yang mendiami tanah air yang sama dengan bahasa persatuan yang mengikatnya. Selanjutnya hasil keputusaan ini menjadi kebulatan tekad para pemuda untuk mewujudkan kemerdekaan.

Ilustrasi sumpah pemuda
semuber gambar: https://news.detik.com/berita/d-4276368/dari-bioskop-ke-kos-kosan-sie-kok-liong-jadilah-sumpah-pemuda

Sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan jiwa pemersatu bangsa, semangat dan ruh yang menjiwai perjuangan. Namun, melihat sejarah perjalanan bangsa yang panjang dan melelahkan ini, realitas sosial hari ini menunjukan sisi yang bertolak belakang dengan semangat para pemuda di era 1920-an. Ketika para pemuda yang terhimpun dalam berbagai organisasi kedaerahan merelakan kepentingan faksionalnya demi kepentingan kolektif dan cita-cita kemerdekaan. Saling bergotong-royong melakukan perlawanan dengan membangun kesadaran kebangsaan melalui jalur pendidikan dan organisasi. Namun hari ini semangat para pemuda justru berbanding terbalik,  perjalanan panjang nan melelahkan tersebut perlahan dilupakan. sebagaimana yang menjangkiti para mahasiswa dan pemuda yang menyetujui berdirinya Negara Islam di Republik ini. Tak berlebihan rasanya menyebut mereka kaum muda yang terserang penyakit demensia.

Kisaran tahun 1920-an merupakan “zaman bergerak” yang harusnya menjadi bahan diskursus bagi para pemuda hari ini. Serta mengambil hikmah dari perjalanan panjang sejarah Indonesia. Dimana para intelektual muda terus-menerus membawa gagasan progresif ke dalam dunia pergerakan dan mengalirkannya ke kesadaran rakyat untuk melepaskan diri dari cengkraman kolonialisme. Lewat beberapa aksi yang variatif semacam; surat kabar, diskusi, rapat akbar, pemogokan, pendirian berbagai organisasi, serikat, dan partai yang hari ini jarang kita temui. Selain itu, para pemuda melibatkan rakyat secara aktif untuk memperjuangkan kemerdekaan. Berbagai pikira-pikiran progresif dan revolusioner dipelajari, marxisme, dan sosialisme diantaranya sebagai pijakan untuk melakukan berbagai aksi untuk mewujudkan kemerdekaan.

Dengan keyakinan bahwa ilmu yang mereka dapat seutuhnya diperuntukan pada rakyat walaupun dihadapkan oleh ancaman pengasingan bahkan pembunuhan sekalipun, para pemuda tetap bulat pada keputusan yang termaktub dalam isi sumpah pemuda. Bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa yang satu, bahasa Indonesia. Hingga puncaknya pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 lahir sebuah negara bangsa yang diusahakan oleh seluruh elemen rakyat, salah satunya pemuda. Semoga kita semua terhindar dari penyakit demensia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here