Beranda Ide Pemimpin Ideal Model Pesantren

Pemimpin Ideal Model Pesantren

KH. Ahmad Baso

174
0
BERBAGI
sumber gambar www.nu.or.id

Michel Foucault pernah menulis tentang nalar politik cah angon. Abed al-Jabiri juga mengutip tulisan Foucault ini untuk membaca nalar politik Arab yang berbasis pada al-‘aqidah (ideologi populis) yang berseberangan dengan nalar qabilah atau ghanimah.

Intinya sebagai berikut. Pertama, penggembala menjalankan kekuasaannya atas gembalaan, bukan atas tanah. Pemimpin sebagai penggembala tidak mengklaim diri sebagai pemilik tanah, dan setelah itu, berkuasa atas rakyatnya. Dalam konstruksi feodalis, kekuasaan dijalankan atas tanah karena Tuhan-lah sebagai pemilik tanah, yang kemudian diberikan kepada raja pertama keturunan dewa untuk mengklaim tanah tersebut atas rakyatnya. Sementara dalam ide pemimpin sebagai penggembala, Tuhan memberikan atau menjanjikan tanah kepada hamba-hamba-Nya – seperti yang kita lihat dalam kisah Nabi Musa alaihissalam.

Bandingkan hal ini dalam membaca perbedaan antara model kepemimpinan pesantren yang dijadikan kiblat oleh Kiai Maja dengan kepemimpinan raja-raja model Sultan Agung yang dijadikan rujukan oleh Pangeran Diponegoro. Sultan Agung menyatakan dirinya sebagai pemilik tanah, dan rakyatnya hanya penggarap. Pangeran Diponegoro mengobarkan perang gara-gara tersinggung karena tanahnya diserobot oleh Patih Danurejo bersama pasukan Kompeni. Sementara Kiai Maja mengkritik Diponegoro karena mengidealkan terlalu bernafsu menjadi penguasa absolut, yakni seperti model Sultan Agung yang ingin menguasai empat ranah kekuasaan: legislatif (wali), yudikatif (ulama atau pandita), eksekutif (ratu), dan masyarakat sipil (mu’min).

Kedua, penggembala mengumpulkan, mengarahkan, dan menuntun gembalaan. Artinya, pemimpin harus membuat rukun rakyat dan bisa menyelesaikan ketegangan di antara mereka. Kalau rakyat tercerai-berai atau berpencar-pencar, sang pemimpin harus segera menyatukan mereka. Seperti penggembala yang mengumpulkan hewan gembalaan yang tercerai-berai dalam hitungan suara pluit atau sejenis.

Dalam pandangan orang-orang pesantren, setiap orang harus menjadi pemimpin, dan dalam sebuah perkumpulan masyarakat atau jamaah, harus ada pemimpin. “The shepherd’s immediate presence and direct action cause the flock to exist,” kata Foucault. Tidak ada pemimpin berarti chaos atau anarki, seperti gembalaan akan tercerai-berai kalau penggembala meninggalkan mereka.

Ketiga, penggembala menjamin keselamatan gembalaan. Ia harus memperhatikan satu per satu gembalaan, apakah tidak ada yang tertinggal di belakang, tidak ada yang kehausan, atau ada yang sakit. Ia harus menjamin tidak ada bahaya yang mengintai gembalaan dan segenap kebutuhan gembalaan tercukupi. Dan itu harus dilakukan secara terus-menerus, tiada henti. Kalau perlu 24 jam.

Keempat, perhatian seorang penggembala terhadap gembalaan didasari atas sikap ikhlas, yakni sepi ing pamrih (tanpa pamrih). al-Jabiri menerjemahkan istilah “devotedness”-nya Foucault dengan kata “ikhlash”. Segenap perhatian penggembala ditujukan demi kemaslahatan gembalaannya. “Everything the shepherd does is geared to the good of his flock,” tulis Foucault.

Bandingkan ungkapan ini dengan kaidah politik kaum santri yang seirng dikutip oleh Gus Dur, “Tasharrufu-l-imami ala-r-ra’iyyati manuthun bi-l-mashlahah” (kebijakan dan perhatian seorang pemimpin senantiasa diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan kemaslahatan rakyatnya). ”Jadi orientasi kemaslahatan rakyat dimotivasi dari motif keikhlasan ini. Pemaknaan seperti itu pula yang dipakai Serat Centhini, “Ki Sèh Bayi Panurta; sabar tur lila ing donya.”

Dalam pemahaman seperti ini, ketika hewan-hewan gembalaan tertidur, sang penggembala tetap harus terjaga di malam hari – jangan sampai misalnya ada binatang buas mengintai mereka dari balik semak-semak. Ini yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab yang selalu keliling kota hampir tiap malam untuk mengecek kehidupan warganya.

Demikian pula yang ditegaskan dalam teks Tuhfatu-n-Nafis, seperti diungkap di atas dan tema “keeping watch” (bahasa al-Jabiri, as-sahar; bahasa kita, jaga malam atau ronda) ini yang menarik perhatian Foucault. Itu dinilai sebagai tanda keikhlasan.

Ia merunut ciri-ciri pemimpin-penggembala yang ikhlas. Pertama, ia menjalankan tugas atau amanah memberi makan gembalaannya, untuk kepentingan gembalaannya yang ia jaga, kendati yang dijaga itu sedang tertidur pulas. Kedua, ia menjaganya siang-malam, tanpa kenal lelah, memberi perhatian dan segenap perlindungan dan kebutuhan semuanya, tanpa terkecuali. Ketiga, untuk bisa menjaga semuanya, tanpa satu pun yang tertinggal, ia harus mengetahui segenap situasi dan kondisi gembalaannya, satu per satu, tanpa kekurangan satu pun.

Ia juga harus tahu tempat-tempat subur yang pas untuk jadi tempat gembalaan. Harus tahu musim dan perubahan iklim, serta segenap kebutuhan masing-masing hewan gembalaannya. Bandingkan pengertian ini dengan ide kaum santri tentang seorang ulama atau sosok kiai sebagai faqihun fi mashalihi-l-khalqi. al-Maghfur-lah KH Sahal Mahfudh, suka sekali mengangkat peran kepemimpinan kiai seperti ini, terutama dalam menjawab persoalan-persoalan sosial-politik yang dihadapi bangsa kita.

Jadi, seperti inilah posisi Kiai Bayi Panurta sebagai bapak. Dan itu diperjelas lagi oleh Serat Centhini, yang tegas-tegas menunjukkan karakter pemimpin-penggembala. Oleh karena itu desa ini semakin makmur, dan sudah terkenal di pelosok negeri.

Orang-orang yang datang dari jauh, tinggal menetap di sini. Mereka sama-sama merasakan dan menikmati kemanfaatan berkah Kiai Bayi Panurta. Sang kiai ini betul-betul menyebar kemanfaatan karena sabar, suka mengayomi dan mengasuh orang-orang, suka menolong yang papa, serta memberi apapun kepada fakir-miskin. Dan seluruh penduduk desa dianggap saudara sendiri yang dikasihi dan yang dihormati (kinulawisudha).

Beliau tidak pernah merasa kecewa atau sakit hati; ramah dan dermawan, penuh semangat membantu, serta suka memberi pelajaran dan nasehat, baik kepada anak-anak maupun kepada orang dewasa. Semua orang suka mencari petunjuk dan pelajaran kepada beliau. Kepada orang-orang yang menimba ilmu, beliau tidak membeda-bedakan. Oleh karena itu orang-orang sedesa hormat dan segan kepada beliau. Mereka menganggap sang kiai sebagai ambapa-biyang, orang tua sendiri yang dipercaya dan dihormati.

sumber – https://lautanopini.wordpress.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here