Pembebasan ala Sosialisme

Maha Adil Allah yang telah menciptakan bumi untuk kelangsungan hidup semua makhluk hidup di dalamnya. Tanpa terkecuali!

Sejak dahulu kala manusia hidup di bumi dengan apa adanya, berbagi dan saling melengkapi. namun, perlahan manusia  akhirnya saling membunuh demi menguasai wilayah yang lain, demi memperluas wilayah kekuasaannya.

Sejarah telah menguak banyak invansi demi invansi, pertempuran demi pertempuran dilakukan guna menguasai wilayah yang lain, demi mengambil keuntungan. liberalis, kapitalis dan anak cucu nya mulai subur beranak pinak.

Sepanjang sejarah pula segala jenis hukum ekonomi sengaja diciptakan. Mulai dari Pasar bebas, hukum penawaran dan permintaan, sampai modal sedikit namun untung banyak.

Semua itu untuk membelenggu manusia agar tidak lepas dari para kapitali (kelompok modal ). Para ‘agen-agen’ sengaja disebar melalui jalur pendidikan yang diharapkan dapat memuluskan perbudakan.

Sejak awal peradaban manusia, mereka bisa hidup dengan berdampingan, saling berbagi. Namun lambat laun sesama manusia saling membunuh hanya untuk sebuah kekuasaan. Suku A menguasai suku B, suku A menguasai suku C, suku D mengusai suku suku A beserta B dan C, dan seterusnya.

Mereka menguasai suatu wilayah, membangun ini, itu, bla bla bla yang katanya demi “modernitas”. Mereka menyingkirkan manusia yang lemah, merampas tanahnya dan menjadikannya budak.

Apakah itu yang dinamakan dengan manusia? Memperbudak manusia yang lainnya?.

Bahkan banyak diantara kita yang memuji kapitalis, membela kapitalis. Padahal mereka tetap saja budak, mereka tetap saja sebagai jongos kapitalis. Hidup mereka berkutat “dari kapitalis dan untuk kapitalis.”

Mereka bekerja kepada kapitalis, menghasilkan uang, menggunakan uang tersebut untuk membeli atau mengangsur produk dari kapitalis. “dari kapitalis, untuk kapitalis”.

Sedangkan mereka mencaci dan memandang sebelah mata sosialis. Katanya sosialis merupakan sistem yang gagal, katanya sosialis akan melahirkan kediktatoran, katanya sosialis akan membawa kemunduran.

Jelas sudah bahwa semua itu hanya kebohongan yang diciptakan oleh para kapitalis agar mereka tetap berjaya. Termasuk berjaya dalam memperbudak.

Kita semua tahu bahwa sosialis sesungguhnya merupakan sistem ekonomi di mana kepemilikan diatur oleh negara? Siapa yang berkata bahwa sosialis akan berakhir pada kediktatoran?

Bukankah bapak sosialis “Karl Marx ” yang pernah berpikiran bahwa sosialisme akan berakhir dengan diktator proletariat, mendapat banyak bantahan oleh filsuf lain.

Nah, itulah kenapa ada yang disebut “sosialis utopis”. Nasakom-nya Bung Karno, Juiche-nya Kim Il Sung, Revolusi Sosial-nya Hugo Chavez, dan Republik Sosialis ala Fidel Castro.

Di Indonesia sendiri, sayap militer yang dipimpin Soeharto sayangnya berhasil mengkudeta Bung Karno. Jujur saja, saya sampai dengan detik menulis ini masih memiliki keyakinan dengan Nasakom yang akan membawa Negeri ini sampai kepada keadilan dan kemakmuran seperti halnya Cuba dan Venezuela di era Chavez maupun Fidel Castro.

Mereka yang berkata bahwa sosialis merupakan sistem yang gagal adalah mereka yang tidak sanggup untuk jadi ‘miskin’, kehilangan budak dan kehilangan kekayaan karena apa yang mereka miliki akan diambil alih oleh negara.

Bayangkan saja jika sumber daya alam dikuasai oleh negara, perusahaan asing dinasionalisasikan. Pasti masyarakat kita akan sejahtera, tidak ada lagi ketimpangan sosial.

Lalu ketika pemimpin yang membawa negara ini kepada kemakmuran telah tutup usia, siapakah yang akan menggantikannya?
Apakah dari kalangan keluarganya?

Jika iya, itu sama saja dengan era orde baru di mana banyak kolega Soeharto yang berada di pemerintahan dan tentunya bisa memonopoli kekayaan negara.

Tentu saja tidak!

Coba saja lihat Cuba setelah kematian Fidel Castro yang digantikan oleh Raul Castro, adiknya sendiri. Apakah Cuba masih tetap dengan sosialisnya? Tidak! Justru di bawah kepemimpinan Raul, Cuba menjadi negara yang terbuka bagi kapitalis.

Sesungguhnya Bung Karno telah mempersiapkan calon penerusnya ketika Bung Karno tutup usia kelak. Yaitu antara Jenderal Ahmad Yani atau D.N Aidit. Bung Karno tidak memilih anaknya sebagai penerus, karena Bung Karno menyadari bahwa anak-anaknya belum cukup berkompeten dan berpeluang untuk disusupkan paham kapitalis.

Sosialis yang akan berakhir dengan kediktatoran hanya bualan belaka. Pemimpin sosialis tentu akan memilih calon pengganti sesuai dengan paham yang ia anut sehingga bisa meneruskan warisannya dan wasiatnya untuk mensejahterakan rakyat.

Ah, seandainya saja waktu itu Bung Karno tidak dikudeta oleh Soeharto, pastilah negara ini akan makmur, disegani oleh negara lain, harga diri bangsa masih tetap bersih tidak ternoda.

Sosialisme merupakan sebuah jalan untuk menumpas perbudakan, untuk menghentikan langkah para pemilik modal. Sosialisme merupakan jalan yang diinginkan dan dipilih oleh Bung Karno melalui Nasakom-nya, ia menginginkan kaum Marhaean bisa hidup sejahtera tanpa perlu cemas tanahnya akan diambil, rumahnya akan digusur bahkan nyawanya akan hilang.

Sosialisme merupakan sebuah jalan menuju pembebasan, di mana tidak ada lagi budak dan orang yang dirugikan, pun tanah yang dirampas.

Dan akhirnya, dengan sosialisme semua elemen masyarakat bisa saling berbaur tanpa ada rasa canggung karena jabatan, bisa saling membantu dan berbagi tanpa ada batasan dan tentunya berbagi “rasa” dan membagi “rata” atas apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Wallahul hadi ila shiratin mustaqim.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: