Paulus dan Redefinisi Keselamatan Kristen

Paulus adalah seorang rasul besar dalam agama nasrani yang sangat banyak berkontribusi dalam pemikiran Kristen hingga hari ini. melihat latar belakang kehidupannya, Paulus adalah pribadi yang sangat unik. Ia adalah seorang farisi, Yahudi katam, dan pencabut nyawa para pengikut Kristus. namun, perjumpaan spiritual Paulus dengan Sang Ilahi saat dirinya berjalan menuju kota damaskus merubah total hidupnya![1]

Paulus lebih dikenal sebagai seorang rasul yang banyak mendirikan jemaat diberbagai kota, bahkan negara. kisah hidupnya mengalahkan Kisah Para Rasul yang lain. keahliannya sebagai seorang farisi memampukan Paulus untuk berkata-kata (mengajar &berdebat) dan menulis dengan baik. bahkan, dengan kecerdasannya yang matang Paulus berhasil membangun teori-teori tentang keselamatan sebagai solusi dari kegelisahan, ketakutan, dan keputusasaan umat untuk tetap berjuang sampai akhir hidupnya sebagai murid Kristus yang setia. Meskipun banyak perdebatan dari berbagai aliran kekristenan, konsep keselamatan Paulus tetap menjadi dasar dari banyaknya perbedaan itu.

Konsep keselamatan hari ini

Dari awal kekristenan berdiri sampai saat ini Masih menjadi perdebatan yang tak berujung bagi dua kelompok kekristenan, yaitu kelompok Calvinis dan Armenian. Masing-masing memiliki argumentasi logis untuk saling mengkritisi, bahkan menyakiti demi sebuah kebenaran yang mereka yakini. “Bagai moralis, merasa yang paling baik macam yang paling etis, awas jatuh menukik, cupet dan sesat pikir!”[2]

Calvinis, selalu menekankan kedaulatan Allah dalam kaitannya dengan keselamatan. Lima pokok Calvnis, TULIP:

  • Total Dipravity (Kerusakan Total)
  • Unconditional Election (Pemilihan tanpa syarat)
  • Limited Atonement (Penebusan terbatas)
  • Irresistible Grace (Anugerah yang tidak dapat ditolak)
  • Perseverance Of the Saint (ketekunan orang-orang kudus)

Sistem teologi calvin ini mengajarkan bahwa keselamatan hanya diberikan kepada sebagian orang saja, yaitu mereka yang beruntung dipilih oleh Allah. Rusaknya citra Allah dalam diri manusia oleh dosa (kejatuhan) menyebabkan manusia terpisah dari Yang Maha Kudus. Keterpisahan ini menjadikan manusia cenderung untuk melakukan kesalahan. Sepanjang hidupnya manusia hanya mampu melakukan sedikit kebaikan saja. Oleh sebab itu dibutuhkan anugerah Allah agar manusia dapat diselamatkan.[3] Ketika anugerah ini diberikan kepada orang pilihanNya manusia tidak dapat menolaknya. Siapa saja orang-orang yang diselamatkan? Tidak pernah ada yang tahu, karena hanya Allah saja yang tahu didalam kedaulatanNya. Namun, dapat terlihat dari perbuatannya. Perbuatan menunjukkan imannya.

Armenian, keselamatan berlaku bagi semua orang yang mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Jadi, jika seseorang tidak mengaku percaya kepada Yesus maka orang tersebut tidaklah diselamatkan. Pengakuan ini menjadi ucapan syahadat bagi orang yang ingin diselamatkan. Dan, orang yang sudah mengucapkan pengakuan ini harus diiringi dengan perbuatan baik sebagai bukti pertobatannya. Anugerah Allah plus perbuatan baik adalah ciri khas dari teologi keselamatan kelompok ini.

Berikut ini adalah perbandingan pandangan dari 3 aliran Protestan mengenai keselamatan.[4]

 
Topik Lutheranisme Calvinisme Arminianisme
Kehendak manusia/
Kehendak bebas
Kerusakan total tanpa memiliki kehendak bebas Kerusakan total tanpa memiliki kehendak bebas Manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih yang baik dan yang jahat
Doktrin pemilihan/
Predestinasi
Pemilihan tanpa syarat hanya untuk keselamatan Pemilihan tanpa syarat baik untuk keselamatan maupun untuk penghukuman Pemilihan dengan syarat didasarkan pada iman dan perbuatan baik manusia yang sudah diketahui Allah sebelumnya.
Pembenaran/Penebusan Penebusan untuk semua orang telah selesai ketika Kristus mati. Penebusan terbatas hanya pada umat pilihan Allah, telah selesai ketika Kristus mati. Pembenaran dimungkinkan untuk semua orang (penebusan universal), namun hanya terjadi ketika seseorang memanfaatkannya/menentukan pilihan yang didasarkan oleh imannya. Semua umat manusia mempunyai kemungkinan untuk dapat ditebus sebagai akibat dari pekerjaan Kristus di kayu salib.
Pekerjaan Roh Kudus/
Anugerah keselamatan
Melalui cara-cara menerima anugerah Allah, keselamatan dapat ditolak Tanpa melalui cara apa pun, keselamatan tidak dapat ditolak Menyangkut anugerah kehendak bebas dan oleh karena itu dapat ditolak; pekerjaan Roh Kudus terbatas, sebab Ia memanggil manusia untuk bebas memilih bertobat dan manusia dapat menolaknya.
Perlindungan Orang percaya dapat jatuh, namun Allah memberi jaminan preservasi Ketekunan orang-orang kudus, sekali diselamatkan, akan tetap selamat Orang percaya dilindungi imannya oleh Allah namun memiliki kemungkinan kehilangan anugerah Allah tersebut.

Konsep Keselamatan Paulus (menurut Akang)

            Paulus hidup pada masa hukum taurat dijunjung tinggi oleh orang yahudi sebagai syarat masuk ke dalam kerajaan sorga. Karena orang yahudi pada masa itu meyakini bahwa hukum taurat adalah solusi dari masalah dosa yang mereka hadapi. Padahal tidak, hukum taurat itu diberikan Allah kepada umat-Nya agar mereka mengenal dosa.[5] Karena tidak ada seorangpun yang mampu menjalankannya dengan sempurna. Jika hukum taurat menjadi solusi, maka terbuktilah bahwa taurat telah gagal menyelamatkan umat-Nya.

Dalam sejarah bangsa Israel hukum taurat diberikan sebenarnya untuk mengikat perjanjian antara bangsa Israel dengan Allah. dimana Hukum Taurat adalah penanda atau bukti bahwa Allah berkuasa atas bangsa Israel. Ketika hukum taurat itu diberikan maka bangsa Israel memiliki identitas baru yaitu bangsa/ umat pilihan Allah. sebelumnya mereka adalah bangsa yang dijajah/budak mesir.

Paulus meyakini bahwa keselamatan hanya oleh Anugerah Allah bukan hasil usaha manusia. Melalui Yesus Kristus manusia diselamatkan dari kuasa yang memperbudaknya sebagai hamba dosa. Melalui penebusan Yesus Kristus kuasa itu telah dikalahkan, oleh karena itu orang percaya disebut sebagai umat pemenang. Dosa tidak lagi berkuasa atas hidup umatNya, kini Kristus beserta umatNya bekerjasama untuk menegakkan pilar-pilar Kerajaan Allah agar semua manusia dapat menikmati damai sorgawi.

Penutup

            Memaknai keselamatan seharusnya bukan dengan getol berdebat, apalagi terlalu agamis. Semangat keselamatan adalah damai sorgawi bagi dunia. siapapun berhak untuk menikmatinya, Karena Allah yang saya yakini adalah adil. Tidak ada kebenaran yang dipaksakan, dan tidak ada kebenaran yang diperdebatkan. Karena kebenaran itu seharusnya berpihak kepada semua orang untuk memberikan kedamaian

 

[1] “Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita (Kis. 22:3).

[2] lirik efek rumah kaca

[3] Efesus 2:8 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,”

[4] Wikipedia, Table drawn from, though not copied, from Lange, Lyle W. God So Loved the Word: A Study of Christian Doctrine. Milwaukee: Northwestern Publishing House, 2006. p. 448

[5] Roma 3:20 “sebab tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh Hukum Taurat orang mengenal dosa.”

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: