Munir: Inspirasi Pejuang HAM

Oleh: Yahya Irvandi

Keadilan, mungkin merupakan satu kata yang paling sensitif di telinga sebagian besar masyarakat di Indonesia dan masih eksis diperbincangkan hingga saat ini. Banyaknya masyarakat yang belum sempat merasakan dampak yang signifikan dari sebuah kosep hukum yang dinamakan keadilan, pada akhirnya membuat banyak golongan aktivis Hak Asasi Manusia bergerak memperjuang
-kan nasib rakyat.

Banyak upaya yang telah dilakukan untuk memperjuangkan keadilan, salah satunya melalui jalur independen dan cenderung konfrontasi terhadap pemerintah. Meskipun kematian menjadi ancaman yang nyata bagi setiap perjuangan yang dilakukan, seperti yang dialami oleh Munir Said Thalib. Munir merupakan pejuang Hak Asasi Manusia yang terkenal tajam dalam mengkritik kebijakan pemerintah, demi terciptannya keadilan dan kesejahteraan sosial.

Munir Said Thalib dibesarkan dalam keluarga muslim keturunan arab. Kakek moyangnya adalah imigran dari Hadramaut, Yaman. Latar belakang itulah yang pada akhirnya mendorong Munir untuk lebih memilih aktif dalam sebuah organisasi islam seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Al-Irsyad.

Sebagai Aktivis pejuang HAM, Munir meyakini bahwa Hak Asasi Manusia dalam konteks solidaritas telah menciptakan sebuah bahasa baru yang universal dan setara. Dalam  pandangan Munir, Hak Asasi Manusia harus dijadikan sebagai landasan terciptanya dialog, bagi setiap individu dari berbagai latar belakang sosial, budaya, dan ideologi. Melalui landasan itu pula, Munir masuk dan bergaul dengan aktivis-aktivis yang berbeda latar belakang, demi terwujudnya pengakuan dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia.

Jauh sebelum namanya mencuat di publik, sejak tahun 1998, pria kelahiran Malang, 08 Desember 1965 ini, telah banyak berkontribusi dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia. Kecerdasan, kesederhanaan, dan keberaniannya itulah yang membedakan Munir dengan aktivis dan kaum intelektual lainnya. Tatkala banyak intelektual yang memilih untuk berlabuh di kandang penguasa, Munir justru memilih memasuki area-area yang menakutkan; memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan serta melawan segala macam bentuk penindasan.

Kerja keras bersama rekan-rekannya di Kontras (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak kekerasan) yang ia dirikan, berhasil membongkar rangkaian peristiwa penculikan terhadap 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta (1997-1998). Ia dan kawan-kawan di Kontras juga berhasil mengungkap kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok (1984-1998).

Di luar itu, Munir juga menangani beberapa kasus keras lainnya seperti, kasus Timor-Timur pasca referendum 1999, kasus DOM di Aceh dan Papua, kerusuhan di Maluku, Kalimantan, dan Poso (Sulawesi Tengah). Hampir semua daftar kasus-kasus di atas bisa dikategorikan sebagai kasus “keras”, karena melibatkan kalangan perwira tinggi militer.

Selain itu, profesinya sebagai pekerja bantuan hukum di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) membuatnya semakin bersemangat untuk bersentuhan langsung dengan ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi di negara ini. Dalam kegalauannya melihat situasi Indonesia pada saat itu, Munir mendapat kesempatan untuk meneropong secara jelas problem demokrasi di Indonesia yang terbelenggu oleh berbagai macam perangkap, mulai dari politik hingga kekerasan yang secara struktur terus berkelindan dengan negara dan masyarakat. Sebuah lilitan kekuasaan telah berhasil menundukkan masyarakat sedemikian rupa, hingga meresap dalam pola pikir dan membentuk tingkah laku yang tunduk dan patuh terhadap peraturan negara.

Setelah bertahun-tahun menjalankan kerja-kerja kemanusiaan, Munir merasa perlu mengembangkan wawasannya. Ia memutuskan untuk melanjutkan studi master dalam bidang International Protection of Human Rights di Utrecht University, Belanda. Namun, belum sempat  mengenyam pendidikan di Belanda, pada tanggal 07 September 2004, Munir meninggal dunia karena diracun. Munir meninggal sebelum pesawat Garuda yang ditumpanginya mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda.

Sampai saat ini, aktor kematian Munir masih menjadi rahasia yang belum terkuak. Meskipun setiap tahunnya berbagai elemen Aktivis seperti Kontras, YLBH Indonesia, LBH Jakarta, Amnesty Internasional, Omah Munir dan Setara Institute serta lainnya mendesak pemerintah untuk menggungkap aktor di balik kematian Munir.

Melihat rekam jejak aktivitas Munir, tentu kita sepakat bahwa Munir memiliki banyak musuh politik. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya daftar nama-nama orang yang merasa terancam dan terusik dengan aktivitasnya dalam berpolitik yang sebagian besar terdiri dari kalangan militer.

Masa kini dan lampau, perjuangan kemanusiaan melalui jalan terjal dan perjuangannya masih panjang. Hingga kini, peristiwa dehumanisasi atau sikap merendahkan derajat kemanusiaan seseorang masih sering kita jumpai. Berbagai kekeresan dan tindakan pelanggaran HAM masih sering terjadi, tak sedikit pula yang berujung pada hilangnya nyawa sesorang. Hal tersebut tentunya memberikan PR bagi kita semua, sesama anak bangsa yang mencita-citakan kehidupan yang adil dan bermartabat bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kebenaran dan keyakinnanya akan kemanusiaan menjadikan kekuatan masyarakat yang sebenarnya dapat kita saksikan hingga kini, dan keyakinan tersebut menjadi spirit perjuangan kemanusiaan di Indonesia. Dalam buku “Api Dilawan Air, Sosok Pemikiran Munir”, Munir pernah menyebutkan, “Jika kita ingin dekat dan menemukan Tuhan, kita harus bersatu dengan orang-orang miskin”. Tampaknya, Ia melihat bahwa perjuangan kemanusiaan dan proses menemukan Tuhan ditempuh bersama masyarakat marjinal atau mereka yang terpinggirkan.

Munir melalui nilai dan tindakannya telah mewariskan pemikirannya yang humanis, sebuah sikap tegas dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan seseorang. Munir telah menjadikan HAM sebagai landasan yang tidak terbatas oleh otoritas dan kuasa politik atau segala bentuk kekuasaan lainnya.

Optimisme dalam warisan pemikirannya itu akhirnya melahirkan banyak aktivis dan pejuang HAM yang bermula dari akar rumput dan terinsiparasi perjuangannya. Sekalipun terjal dan penuh risiko, menjunjung tinggi kemanusiaan merupakan tanggung jawab semua anak bangsa, bukan hanya negara.

Refrensi:
Kontras.org

Tim Redaksi LP3ES, Api Dilawan Air, Sosok Pemikiran Munir, Jakarta: Pustaka LP3ES, 2007

Amalia Puri Handayani, Menulis Munir Merawat Kemanusiaan, Jakarta, 2017

One thought on “Munir: Inspirasi Pejuang HAM

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: