Menolak Lupa : Tragedi Trisakti 12 Mei

25 April lalu, Poro Dukka seorang pria asal desa Patiala Bawa, NTB, tewas ditembak. Lambungnya tertembus peluru milik salah satu BRIMOB yang mengawal PT. Sutera Marosi yang sedang melakukan peninjauan sepihak tujuh bidang tanah di kawasan pantai di pesisir Marosi, sebelah barat Pulau Sumba yang diklaim mereka. Peristiwa ini dipicu karena masyarakat yang tidak terima pelakuan itu. Kericuhan pun terjadi di lokasi hingga polisi melepaskan tembakan yang mengenai perut Dukka. Ia tewas di tanahnya sendiri.

Peristiwa itu sontak mengingatkan kita tragedi 12 Mei 20 tahun lalu. Empat orang mahasiswa kehilangan nyawa di kampusnya sendiri. Kejadian ini yang menjadi cikal bakal memuncaknya kemarahan mahasiswa saat itu. Terkenal dengan Tragedi Trisakti, Selasa, 12 Mei 1998.

Saat itu ribuan mahasiswa tumpah ruah di wilayah Jakarta melakukan aksi massa untuk menuntut presiden Soeharto mundur dari jabatannya, termasuk mahasiswa Trisakti.  Aksi ini sudah dimulai sejak pukul 10.30 wib di lingkungan kampus. Para mahasiswa yang dipimpin oleh Senat Mahasiswa Universitas Trisakti (SMUT) menggelar mimbar bebas untuk mengawali aksi turun ke jalan.

Pada aksi kali ini SMUT dan para mahasiswa mendapat dukungan penuh dari pimpinan universitas dan guru-guru besar. Bahkan Ketua Yayasan dan Rektor Universitas Trisakti ikut menyampaikan orasi dalam mimbar bebas dalam kampus. Aksi dalam kampus ini juga di ikuti oleh semua civitas akamika kampus termasuk dosen dan karyawan.

Menjelang tengah hari massa memulai long macrh-nya untuk menggelar aksi damai di komplek DPR/MPR. Massa aksi pada saat itu diperkirakan mencapai 6000 mahasiswa berjalalan menuju senayan.

Namun ditengah perjalanan terjadi hal tak terduga. Rombongan dihadang aparat keamanan tepat di depan kantor bupati Jakarta Barat. Para demonstran terhadang oleh polisi berseragam lengkap dengan dengan tameng dan pukulannya, hal ini sempat membuat panas para demonstran. Terjadi aksi dorong-mendorong antar aparat dan mahasiswa yang ingin terus maju.

Kemudian ketua SMUT melakukan negosiasi dengan pihak aparat untuk melanjutkan long march. Selama negosiasi massa aksi tetap memaksa menerobos barisan keamanan. Kemudian tim negosiasi kembali tanpa hasil, demonstran tetap dilarang melanjutkan perjalanan dengan alasan akan menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Kemudian massa aksi kembali menggelar mimbar bebas di hadapan aparat yang menghentikannya. Aksi spontan ini dibarengi dengan pembagian bunga kepada aparat oleh para mahasiswi, sebagai simbol kekecewaan mereka karena merasa aksi mereka akan berjalan damai. Aksi berjalan lancar tanpa kericuhan.

Menjelang sore sambil berjalan mimbar bebas massa aksi hanya duduk sambil meneriakan yel-yel dan nyanyian-nyanyian. Perlahan massa mulai berkurang dan kembali ke kampus. Bersamaan dengan ini negosiasi terus dilakukan oleh wakil mahasiswa.

sore hari sekitar pukul 16.45 wib wakil mahasiswa mengumkan hasil negosiasi yaitu mahasiswa dan aparat sama-sama mundur. Sempat terjadi penolakan atas hasil tersebut, namun demonstran berhasil dibujuk oleh dekan FE, FH Usakti dan ketua SMUT massa aksi akhirnya bergerak mundur kembali ke kampus secara tertib.

Saat massa mulai bergerak mundur tiba-tiba seorang oknum pria yang mengaku sebagai alumni (sebenarnya tidak tamat) berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor ke arah massa. Peristiwa ini sempat menimbulkan ketegangan kembali, namun Ketua SMUT dapat meredam massa untuk kembali ke kampus dan menyampaikan agar tidak mudah terprovokasi.

Ketika massa bergerak untuk mundur kembali ke dalam kampus, di antara barisan aparat ada yang meledek dan menetertawakan serta mengucapkan kata-kata kotor pada mahasiswa sehingga sebagian massa mahasiswa kembali berbalik arah. Tiga orang mahasiswa sempat terpancing dan bermaksud menyerang aparat keamanan tetapi dapat diredam oleh satgas mahasiswa Usakti.

Pada saat yang bersamaan barisan dari aparat langsung menyerang massa mahasiswa dengan tembakan dan pelemparan gas air mata sehingga massa mahasiswa panik dan berlarian menuju kampus. Pada saat kepanikan tersebut terjadi, aparat melakukan penembakan yang membabi buta, pelemparan gas air mata dihampir setiap sisi jalan, pemukulan, penendangan dan penginjakkan, serta pelecehan seksual terhadap para mahasiswi. Termasuk Ketua SMUT yang berada di antara aparat dan massa mahasiswa tertembak oleh dua peluru karet dipinggang sebelah kanan.

Kemudian datang pasukan bermotor dengan memakai perlengkapan rompi yang bertuliskan URC mengejar mahasiswa sampai ke pintu gerbang kampus dan sebagian naik ke jembatan layang Grogol. Sementara aparat yang lainnya sambil lari mengejar massa mahasiswa, juga menangkap dan menganiaya beberapa mahasiswa dan mahasiswi lalu membiarkan begitu saja mahasiswa dan mahasiswi tergeletak di tengah jalan.

Aksi penyerbuan aparat terus dilakukan dengan melepaskan tembakkan yang terarah ke depan gerbang Trisakti. Sementara aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan tembakannya ke arah mahasiswa yang berlarian di dalam kampus.

Lalu sebagian aparat yang ada di bawah menyerbu dan merapat ke pintu gerbang dan membuat formasi siap menembak dua baris (jongkok dan berdiri) lalu menembak ke arah mahasiswa yang ada di dalam kampus. Dengan tembakan yang terarah tersebut mengakibatkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal dunia.

Yang meninggal dunia seketika di dalam kampus tiga orang dan satu orang lainnya di rumah sakit beberapa orang dalam kondisi kritis. Sementara korban luka-luka dan jatuh akibat tembakan ada lima belas orang. Yang luka tersebut memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

Aparat terus menembaki dari luar. Puluhan gas air mata juga dilemparkan ke dalam kampus.

Selepas maghrib pukul 18.20 tembakan aparat baru mereda. Namun mekipun begitu masih banyak aparat polisi berpakaian gelap berkeliaran di lingkungan kampus.

Kemudian dekan FE melakukan negosiasi dengan Kol. Pol. Arthur Damanik. Negosiasi ini menghasilkan bahwa mahasiswa diperbolehkan pulang dengan keluar berangsur per lima orang, dan dijamin akan pulang dengan selamat.

Dalam tragedi ini empat orang mahasiswa meregang nyawa, mereka adalah Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur), Hafidhin Royan (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil), Hery Hartanto (Fakultas Teknologi Industri), dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi).

Peristiwa ini hanya salah satu gambaran betapa otoriternya rezim pada saat itu dan masih banyak lagi. Hingga terjadi penembakan Poro Dukka di plosok timur Indonesia belum ada kejelasan atas kasus tersebut.

 

Tulisan diatas dibuat pada 12 Mei 2018

sumber :
https://tirto.id/mengenang-kembali-tragedi-trisakti-coAk
http://s-kisah.blogspot.co.id/2012/03/kronologis-peristiwa-tragedi-trisakti.html
https://tirto.id/misteri-penembakan-mahasiswa-trisakti-12-mei-1998-cKaw

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: