Beranda Ide Filsafat Menjadi Manusia yang manusiawi (tinjauan filsafat Eksistensialisme Kierkegaard)

Menjadi Manusia yang manusiawi (tinjauan filsafat Eksistensialisme Kierkegaard)

Che al-kemilingi

293
0
BERBAGI

Tuhan tak perlu dibela, Dia sudah maha segalanya, belalah mereka yang diperlakukan secara tidak adil. Kata-kata Almarhum Gus Dur ini rasanya kian relevan kita senandungkan, kita gali dan maknai sekali lagi demi benar-benar tercipta keharmonisan kehidupan berbangsa di Republik ini.

Dewasa ini, kondisi kehidupan berbangsa kita kian memprihatinkan. Beberapa bulan yang lalu, jutaan manusia menggelar aksi di Jakarta, atas nama Agama. Seminggu yang lewat terjadi pengeboman di sebuah taman di kota Bandung. 3 hari yang lalu,  sebuah pengajian di sidoarjo, ‘digugat’ , karena penceramahnya dianggap telah menista Rasul dan ajarannya.

Fakta-fakta tersebut seharusnya mampu membuat kita mempertanyakan kembali tentang hakikat kita dalam beragama. Ada apa dengan  Agama? sehinga pada satu titik justru dapat menggiring  para pemeluknya kearah prilaku-prilaku intoleran.

Ada apa dengan kesadaran kita dalam memahami Agama?  Yang karenanya mampu membuat kita menutup mata dan telinga atas keberadaan ruang lain, tafsir lain, dan atau tata nilai lain di luar pemaknaan kita sendiri atas sebuah teks yang diyakini.

Dalam tulisan ini saya tidak berniat membahas atau menggugat metode tiap individu/kelompok dalam menafsir sebuah teks. Hal tersebut mungkin penting, karena salah satu pemicu dalam praktek-praktek intoleransi di masyarakat bermula  dari perbedaan pendekatan dalam melakukan tafsir atas sebuah teks. tetapi pada kesempatan ini saya ingin menjauh dari kenyataan tersebut.

Bagi saya, bagaimanapun sebuah teks ditafsirkan, yang mula-mula harus dilakukan adalah melacak jejak kesadaran seorang manusia secara epistemis di pikirannya.

Dengan pelacakan itu akhirnya seorang individu bisa sadar bahwa apa yang ada dalam struktur pikiran, struktur keyakinan atau dengan kata lain struktur kesadaran yang dimilikinya itu, adalah suatu hal yang terkondisikan dari luar dirinya.

Bukan serta merta ada dengan dengan sendirinya. Hal mendasar ini kiranya yang menurut penulis menjadi penting untuk diketahui setiap individu yang tergabung dalam sebuah kelompok yang mengusung sebuah sistem nilai tertentu dalam masyarakat

Bias Informasi dalam Pikiran.

Hampir dari seluruh informasi yang masuk dalam pikiraan –yang akhirnya mengkonstruksi cara berpikir kita—kesemua itu berasal dari luar diri kita. informasi ini bisa berasal dari bacaan, tontonan, maupun hasil interaksi kita dengan orang lain.

Fakta ini menarik, sebab banyak dari kita yang masih saja naif, dengan menganggap bahwa apa yang ada dalam pikiran, kemudian merupa sikap dalam keseharian, itu adalah murni produk pikirannya sendiri. Padahal, jika masing-masing individu dalam masyarakat mau melakukan refleksi mendalam terkait kesadaran yang dimilikinya, masing-masing dari kita akan mendapati kenyataan bahwa kita sudah tidak otentik lagi.

lihatlah bagaimana pikiran kita dirampok habis-habisan oleh iklan-iklan di media, di indoktrinasi berbagai nilai dari orang-orang yang kita tuakan, dari buku-buku, atau bahkan dari isme-isme dan agama di lingkungan sekitar kita.

Kita tidak pernah menjadi diri kita sendiri, kita memasyarakat, oleh karenanya kita juga adalah bagian dari kesadaran orang lain; bagian dari pikiran, harapan dan –mungkin– juga bagian dari sebuah cita-cita yang diperjuangkan oleh sebuah kelompok tertentu  dalam masyarakat.

Hal ini terlihat dari bagaimana selera kita sangat bergantung erat dengan selera orang lain. Perbincangan kita, topik-topik yang mengisi struktur pikiran kita, ternyata juga adalah topik yang sedang ramai dibahas di media-media.

Lantas timbul pertanyaan, mengapa fenomena ini bisa terjadi ?
mampukah kita sebagai individu memiliki kebebasan sendiri, tanpa terdistorsi sistem nilai yang berasal dari luar, atau menjadi Individu yang otentik.

Jawabannya mungkin agak sulit, bahkan mengarah pada kemustahilan. Manusia –seperti yang diungkap  sosiolog asal Jerman, Herman Broch– pada hakikatnya adalah mahkluk Irasional, atau tepatnya, sisi irasionalitas di dalam diri manusia cenderung lebih dominan ketimbang sisi rasionalitas yang dimilikinya. irasionalitas dalam diri itulah yang menyebabkan kita cenderung lebih suka bersama-sama dan melakukan kompromi dengan yang lain dalam menyikapi sesuatu. kita tidak pernah sepenuhnya sadar dan mengada dengan kesadarannya sendiri.

Kesadaran diri

kecenderungan purba untuk berkerumun di diri manusia hadir karena di dalam diri kita selalu tertanam keragu-raguan dan rasa takut.  manusia tidak dibekali kematangan kepribadian yang utuh saat di lahirkan ke dunia.

Seiring waktu, manusia akan ‘sadar’ bahwa ada begitu banyak pertanyaan, ada begitu banyak ketidak pastian yang mengepung keberadaannya. dan kehadiran sistem nilai yang ditawarkan Ideologi, Sains dan Agama semata berguna sebagai peta atau petunjuk arah untuk menjawab kecemasan-kecemasan eksistensial dalam diri manusia tersebut.

Suatu hari Nietzsche pernah berkata,  pada dasarnya Kehendak dalam diri manusia itu terserak, ia tidak utuh. manusia membutuhkan pegangan, sesuatu yang ia percaya sebagai tempat bersandar yang berasal dari luar dirinya.

Pegangan-pegangan yang mewujud dalam sistem nilai inilah yang diharapkan mampu menyatukan keterserakan dari kehendak dalam diri manusia tersebut. semakin kualitas kehendak seseorang itu terserak atau cacat, maka kebutuhan untuk percaya atau pegangan di luar dirinya akan semakin besar.

Sayangnya, saat kita masuk dalam sebuah sistem nilai tertentu, hal ini justru mengakibatkan tercerabutnya kebebasan individu kita. Aku-Subjek menjadi samar, kita tak lagi otentik. karena tiap sistem nilai memuat klaim kebenaran dan keselamatan yang harus diikuti dan dijalankan oleh pengikutnya bersama-sama.

Kondisi ini pada akhirnya memaksa terjadinya peleburan identitas. Aku lambat laun berubah menjadi kita , ke-Aku-an Individu bermetamorfosis menjadi ke-Aku-an Kelompok.

Masalah akan muncul pada Saat sebuah kelompok memperlakukan nilai yang dianutnya sebagai sebuah sistem tertutup. kelompok ini akan mudah sekali terjebak pada keyakinan yang sangat dogmatis, yaitu menganggap bahwa nilai-nilai yang dianut kelompok mereka identik dengan realitas, bukan sebaliknya, yaitu sebagai bagian dari Realitas.

hal ini kiranya yang akan memicu terjadinya gesekan horizontal yang tajam  di tengah masyarakat. Sebuah sistem tertutup cenderung  mereduksi seluruh kenyataan dalam bingkai nilai-nilai yang ada di dalam dirinya.

Aku-Subjek

Untuk mengatasi seorang individu agar tidak terjebak—terlalu lama—dalam sebuah sistem nilai tertutup diatas. Baik kiranya kita menyimak pemikiran seorang filsuf asal jerman, yang sekaligus penganut Kristus yang taat, yaitu Soren Kierkegaard.

Berbeda dengan Nietzsche yang atheis, Soren Kierkegaard­­ mendasarkan pendekatan filsafat eksistensialisnya pada kenyataan bahwa tiap manusia membutuhkan Tuhan dalam kehidupan. Baginya sangat penting  seorang individu harus sampai pada tahapan religius  dalam beragama. Karena dengan itulah manusia baru dapat  hidup lebih selaras dengan alam lingkungan sekitarnya.

Kierkegaard memandang bahwa untuk sampai pada tahapan religius tersebut, manusia harus melewati beberapa tahapan sebelumnya, yaitu: Tahapan Estetis dan Tahapan Etis. Setelah dua tahapan ini dilalui oleh seseorang, baru dia akan sampai pada fase pemaknaan atas Tuhan dalam Agama yang lebih subtantif, atau yang dia sebut sebagai tahapan Religius.

Tahapan Estetis, menurut Kierkegaard ditandai oleh gejala dimana seorang individu hanya menghabiskan aktivitas kesehariannya lewat kesenangan-kesenangan duniawi. Baginya, tiap individu yang berada di tahapan awal ini, pada satu titik akan mengalami kebosanan, dia tidak akan selamanya merasa nyaman dengan tipuan-tipuan duniawi.

Saat itulah seorang individu akan mulai menyelaraskan kehidupannya dengan aturan-aturan dan norma yang ada di masyarakat, kondisi penyelarasan ego pribadi ke dalam nilai dalam masyarakat inilah yang disebut Kierkegaard sebagai Tahapan etis.

Di Tahapan Etis, dengan aktivitas keseharian yang digeluti di lingkungannya, seorang individu akan melihat bahwa begitu banyak terjadi penyelewengan nilai-nilai dalam masyarakat. Hidup yang terlalu mekanis dan positivistis di era modernitas yang cair ini, kondisi tersebut menimbulkan perasaan hampa yang akut dalam diri seseorang.

Di titik ini ia mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dalam kehidupan bathin dirinya, maupun kehidupan masyarakat di sekitarnya. Perenungan mendalam ini, disebut Kierkegaard sebagai penanda bahwa individu mengalami kemajuan iman atau masuk ke tahapan  Religius.

Di tahapan Religius, tiap individu mulai menyadari bahwa dirinya otentik, dia berbeda dengan yang lain, bahkan sampai pada kesimpulan bahwa masing-masing individu itu unik atau tidak sama satu dengan yang lain.

Keinsyafan bahwa tiap pribadi memiliki kekhasan ini kiranya yang mampu membuat manusia terbangun dan menyadari bahwa usaha-usaha penyeragaman yang dilakukan lembaga-lembaga Agama, isme-isme, atau otoritas manapun sebagai pemegang sistem nilai lainnya adalah suatu perbuatan yang sia-sia bahkan justru melawan ke-Maha Besar-an dari Tuhan sendiri.  Di fase ini, Aku-Subjek mulai menemukan ke-Diri-annya kembali.

Paparan diatas menunjukkan bahwa ada yang unik dari cara kita mengolah informasi, terlebih nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah isme atau Agama. Keunikan inilah sebenarnya yang mampu membawa kita untuk lebih dewasa dalam menyikapi keberagaman.

Ada yang naif dari cara kita memandang realitas. Karena manusia pada hakikatnya adalah mahkluk sosial, maka ia tidak akan bisa lepas dari interaksi sosial, tapi di sisi lain, pengalaman-pengalaman individual yang sangat subjektif lah justru yang mampu memperkaya khasanah tata sikap tiap individu dalam mengarungi kehidupan.

Bangsa Indonesia hari ini, harus  belajar memaknai ulang tiap babakan sejarah yang telah di laluinya. Republik ini didirikan oleh banyak orang, banyak suku dan banyak Agama, hal tersebut adalah fakta tak terbantahkan.

Sudah cukup banyak korban berjatuhan akibat pertarungan yang meng-atas-nama-kan Agama dan isme-isme di Republik ini. Proses desakralisasi Tuhan (Agama) terjadi kian massif. Kenyataan bahwa Bangsa ini sangat beragam, bahkan bahwa Manusia itu sendiri di dalam dirinya adalah majemuk, seolah-olah ditolak mentah-mentah.

Tuhan Tak perlu dibela, belalah mereka yang diperlakukan tidak adil. Belalah para petani yang dirampas tanahnya, di gusur rumahnya, seperti yang terjadi di Pegunungan kendeng, Tulang bawang, dan atau di banyak tempat lainnya di Republik ini. merekalah yang pantas kita bela dengan sungguh-sungguh, apapun Suku dan Agamanya.

Kita kerap memperlakukan Agama sedemikian rendah, demi sebuah ambisi kekuasaan, demi kepentingan politik tertentu, tanpa sadar kita telah memperkosa Agama secara berulang-ulang. Naudzubillah

Tabik

Referensi :

  • Palmer, Donald D  Kierkegaard untuk pemula. Yogyakarta: Kanisius
  • Martin, Vincent. 2003. Filsafat Eksistensialisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Palmer, Donald D. 2007. Sartre untuk pemula. Yogyakarta : Kanisius
  • Weber, Max. 2012. Sosiologi Agama ‘a Handbook’. Yogyakarta: Ircisod
  • Giddens,Anthony. 2009. Konsekuensi-konsekuensi modernitas. Yogyakarta : Kreasi wacana
  • Vardy, Peter. 2005. Kierkegaard. Yogyakarta: Kanisius
  • Kencana, Inu. 2010. Pengantar Filsafat.  Bandung: Refika Aditama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here