Menilik Kesetaraan dan Spirit Emansipasi

Oleh: Sandika Wijaya

Tulisan ini semula dibuat sebagai syarat mengikuti pelatihan Advokasi Ham dan Kebebasan Sipil, dengan deretan tema yang ditawarkan, penulis mengambil tema “Hak Kebebasan dari Perbudakan dan Kerja Paksa”. Dengan tema demikian asosiasi berpikir ketika itu bagamaina menelisik masalah ketidaksetaraan atau perbudakan dimulai dari konteks historisnya.

Dengan melacak akar historis, manusia secara umum atau Indonesia secara khusus, penulis mendapatkan sebuah ilustrasi bagaimana masalah perbudakan ini timbul dan faktor-faktor yang hinggap diseputaranya, disisi lain bagaimana diskursus atau sikap menyoal perbudakan yang hadir sebagai kritik atau jalan keluar dari masalah ketidaksetaraan.

Berangkat dari ilustrasi diatas, penulis akan menguraikan kedalam beberapa bagian. 1) Bagaimana perbudakan atau ketidaksetaraan bisa timbul didalam hidup manusia, dalam hal ini penulis mengunakan pandangan Karl Marx, karena Marx salah satu pemikir yang memiliki konsepsi sejarah perkembangan manusia. 2) Adakah Kritik yang ditawarkan sebagai jalan keluar untuk mengatasi masalah ketidaksetaraan sekaligus sebuah upaya membebaskan perbudakan, dengan demikian penulis mengunakan pandangan Karl Marx dan Nabi Muhammad. 3) menelaah perbudakan sekaligus pergolakanya di Indonesia sebelum kemerdekaan.

 

Manusia Sebagai Kolektif

Sebagai kolektif manusia selalu menjumpai masalah ketidaksetaraan, baik secara struktur maupun kepemilikan material sekalipun. Hal itu bisa kita temukan di tengah-tengah kehidupan masyarakat daerah, kota, ataupun negara, baik di masa lalu maupun sekarang, kecuali dalam komunal primitif—jika mengacu dalam sejarah perkembangan manusia menurut Karl Marx.

Dalam pandangan Marx, komunal primitif adalah sebuah komunitas pertama dalam masyarakat yang menjalankan kehidupan dan dengan asas kebersamaan, bertempat tingal sama, semua alat produksi dimiliki bersama, melakukan perburuan bersama, sekaligus hasil yang diperoleh dibagi secara merata.[1] Kesetaraan dan kebersamaan tersebut di mungkinkan karena populasi masyarakat komunal masih ‘sedikit’ dan persedian makanan masih melimpah, ihwal ini mendorong-menyebabkan masyarakat komunal mengedepankan kebersamaan dalam pemenuhan kebutuhan.

Dengan pandangan di atas pernah suatu waktu di tengah kehidupan, manusia bekerja sama secara kelompok. Namun, seperti yang diungkap oleh Marx bahwa sejarah masyarakat adalah perubahan atau pertentangan kelas.[2] Komunal primitif yang semula hidup bersama dalam pemenuhan kebutuhan berubah menjadi sistem perbudakan.[3]

Ketika populasi masyarakat komunal sebelumnya semakin bertambah, mensaratkan pula kebutuhan pokok yang bertambah. Namun, terdapat sebuah masyarakat yang mengalami gagal panen, sehingga tidak ada lagi persediaan untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya. ihwal ini mendorong mereka mencari jalan keluar dan menemukan ladang atau stok makanan yang terdapat dikelompok komunal yang lain.

Dengan begitu tak ada pilihan lain selain merebut barang produksi tersebut, akan tetapi kelompok yang memiliki persediaan tidak membiarkan begitu saja, sehingga terjadilah pertikaian. nahasnya, kelompok yang menang bukan hanya menguasai persediaan makanan melainkan juga lahan, barang berharga sekaligus kelompok yang kalah dijadikan budak.

Sebagaimana diatas, bila di nalar lebih jauh benih ketidaksetaraan atau perbudakan diawali oleh ekploitasi kepala suku terhadap anggotanya kemudian penjarahan antar kelompok komunal hingga lahirlah sebuah hubungan kerja sepihak serta eksploitatif.

Selain perbudakan dalam pandangan sejarah perkembangan manusia, Marx menyebutkan sistem feodal dan kapitalisme. Dari kedua sistem tersebut juga bisa ditemukan hubungan yang tidak setara secara struktur maupun dalam proses pemenuhan kebutuhan–terdapat kelas pemisah antar raja-rakyat, borjuis-proletar, yang pada suatu titik ekstrim sangat eksploitatif dan menindas. Dengan demikian “motif dasar” eksploitasi atau menjadikan yang lain sebagai budak di zaman feodal dan kapitalisme masih terus terjadi, hanya saja pola dan sistemnya yang berubah dan berkembang, dengan kata lain berganti rupa.

Menyadari sejarah masyarakat terus berubah dan bertentangan, Karl Marx membangun sebuah kritik total yang menghancurkan tatanan sebelumnya dengan sebuah kebaruan, dari kritik tersebut lah sosialisme dibangun. Sosialisme yang dibangun Marx bukanlah hadir dari ruang hampa melainkan ada karena realitas sosial ketika itu. Sosialisme Marx bila dilihat mengunakan pendekatan Aktivis adalah semacam cita-cita untuk mengentaskan kemiskinan dan membangun fondasi “kebersamaan”, namun pada Marx kita akan menemukan kerangka gerakan yang konseptual dan  kokoh. kedekatan visi pembebasan semacam itu yang membuat sebagian aktivis mempelajari pemikiran Karl Marx dengan sunguh-sunguh.

Tak hanya Karl Marx yang melakukan kritik dan pengubahan atas “struktur” yang menindas, dalam pandangan Agama Islam, spirit pembebasan dari perbudakan juga pernah dan “selalu” digaungkan. Asghar Ali Engineer dalam Islam dan Teologi Pembebasan mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad SAW hadir di tengah kondisi sosial, politik, relijius, budaya, dan ekonomi di jazirah Arab pra-Islam sebagai seorang pembebas.[4]

Terlebih dahulu, Asghar mengambarkan kondisi Bangsa Arab sebelum datangnya Islam dan Nabi Muhammad dengan merujuk kondisi religius sebuah suku yang tidak mengakui konsep kemanusian di luar sukunya, sehingga eksistensi orang Arab terkungkung dalam batas-batas kesukuan.

Seturut dengan itu, juga digambarkan kondisi ekonomi yang dijalankan dengan motif keserakahan terhadap materi baik dalam sistem ekonomi kesukuan hingga bergeser pada oligarki perdagangan sehingga menyebabkan orang-orang miskin menderita dan menimbulkan perbudakan yang lebih banyak.

Sedangkan bagi mereka yang tidak menjadi budak (orang bebas) akan dijadikan buruh dengan upah yang murah. Kemudian dalam wilayah perpolitikan, masing-masing suku di jazirah Arab saling bermusuhan.[5]

Menyadari kondisi atau realitas seperti di atas, pada usia 25 tahun, Muhammad SAW rutin melakukan perenungan terhadap realitas sosial di gua Hira. Ketika usia 40 tahun, Beliau mengejutkan kota Mekkah dengan visi membebaskan masyarakat Mekkah dan umat manusia dari cengkraman penderitaan, penindasan, perbudakan, dan ketidakadilan. Dalam mewujudkan gerakan tersebut, Muhammad SAW bukan hanya memainkan peran sebagai “guru dan filsuf” tapi ia turut ke lapangan sebagai aktivis dan pejuang.[6]

 

Indonesia & Nalar Kemerdekaan

Perbudakan dan kerja paksa bukanlah hal yang asing dan baru bagi kehidupan manusia, baik secara menyeluruh maupun di kalangan umat Islam, seperti dua peryataan yang penulis singgung di atas. Bukankah juga, jauh sebelum Indonesia menjadi sebuah bangsa turut dihinggapi dengan suatu fase perbudakan atau dalam kata lain penjajahan.

Karl Marx dalam sebuah catatanya ihwal sejarah pemerintahan Kolonial Belanda, mengungkapkan bahwa pada abad XVII negara Belanda merupakan model tipikal bangsa kapitalis yang identik dengan penghianatan, penyuapan, pembantain, bahkan perbudakan.

Kolonial Belanda melakukan pencurian orang dari Celebes (Sulawesi) dan mendapatkan budak-budak dari pulau Jawa.[7] Beragam upaya dilakukan kolonial Belanda untuk melancarkan kepentinganya, salah satunya dengan melatih secara khusus agen penculik penduduk pribumi hingga membelinya dari para bangsawan pribumi. Para budak kemudian disembunyikan di penjara-penjara rahasia di Sulawesi untuk dijadikan pekerja paksa.

Tak hanya itu, kolonial Belanda kerap menggunakan taktik untuk menguasai Malaka dengan menyuap Gubernur Portugal yang berkuasa saat itu agar medapatkan akses masuk ke Malaka. Namun pada tahun 1641, Kolonial Belanda membunuh Gubernur dengan maksud mengambil alih kekuasaan. Setelah peristiwa itu, kemanapun langkah kaki kolonial belanda berpijak terjadi pemusnahan dan depopulasi. Sebagai contoh, kota banyuwangi yang terletak dipulau jawa pada tahun 1750 memiliki jumlah penduduk lebih dari 80 ribu orang, selang waktu 61 tahun atau pada tahun 1811 hanya tertinggal 18 ribu orang.[8]

Dengan catatan Marx di atas, setidak-tidaknya memberikan ilustrasi bagaimana kolonial Belanda masuk ke Indonesia dan tindak-tanduknya melakukan ekspansi di seluruh wilayah “Indonesia kini”.

Tak heran dan sepatutnya warga pribumi ketika itu melakukan segenap penolakan dan perlawanan, hal ihwal Belanda sudah terlalu lama-jauh mengobjektivasi masyarakat. Dengan semangat melepaskan diri dari keterkungkungan dan penindasan kolonial Belanda, banyak gerakan perlawanan yang dilakukan oleh warga pribumi yang pada puncaknya melahirkan kemerdekaan.

Dengan pandangan di atas Tentu, penulis tidak akan menuliskan secara sistematis dan menyeluruh ihwal gerakan perlawanan melepaskan diri dari penindasan dan perbudakan, hanya sebagian diantaranya yang dihadirkan sebagai refresentatif (subyektif) atau penegas bahwa, perjuangan melepaskan diri dari perbudakan menjadi ruh, sprit pergerakan ketika itu. Tanpa menafikan atau meniadakan para revolusioner dan organ gerakan lainya yang melawan kolonial.

Seperti di Agama Islam, kita akan mengenal Haji Misbach salah satu yang dengan kukuh melawan penjajahan dan perbudakan oleh kolonial. Dalam buku Karya Nor Hiqmah dengan judul “Pertarungan Islam & Komunisme melawan Kapitalisme, Teologi pembebasan Kyai Kiri Haji Misbach” menyebutkan Haji Misbach dianggap memiliki watak yang revolusioner dan gemar berorganisasi.

Dengan demikian ia terlibat dengan berbagai organisasi yang menentang kolonial di antaranya Inlandsche Journalisten Bond, Sarekat islam, Pemimpin PKI Vostenlanden, serta mendirikan PKI afdeeling surakarta. Sedangkan untuk melancarkan media propagandanya ia mendirikan medan moeslimin dan Islam bergerak.[9]Berangkat dari watak yang revolusioner itu dan pemahaman Agama yang progresif pada suatu titik Haji Misbach mengungkapkan Islam dan Komunisme memiliki tujuan yang sama, yaitu pembebasan manusia dari keterindasan.[10]

Dengan potret seperti yang termuat dalam buku diatas, bahwa agama selain sebagai petunjuk hidup untuk menjalankan berbagai kebaikan individual juga termuat dimensi emansipasi terhadap realitas sosial. Seperti yang dilakukan oleh Haji Misbach atau seperti yang disinggung sebelumnya tentang Nabi Muhammad yang juga berjuang mewujudkan emansipasi.

Sementara di jalur kebudayaan kita akan menemukan, salah satunya Mas Marco Kartodikromo yang bagi Pramoedaya Ananta Toer dalam bukunya “Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia” merupakan keluarbiasaan yang menarik dalam sejarah sastra Indonesia, Mas Marco memulai pergulatanya dengan mengarang novel.[11]

Dari salah satu Novelnya yang berjudul Rasa Merdika, Pram menunjukan ciri tertentu dalam sastra Mas Marco atau yang disebutnya Realisme-sosialis, diantaranya adalah moral pejuang dimana kebaktianya tertuju kepada rakyatnya.

Selain itu upaya Mas Marco adalah menjadikan pendidikan dan moral sosial dengan sasaran meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan wawasan politik. Bagi Pram, Mas Marco mengubah realitas kekikuan dan keterbelakangan rakyat jelata yang menderita udim kemakmuran, dengan uapaya itu ia mendorong setiap rakyat jelata agar berani serta bagi Pram mengadung sasaran pokok yakni memperlemah imperialisme-kolonialisme, dan disisi lain meningkatkan kekuatan kepada rakyat melalui pengetahuan.[12]

Lewat mengarang novel seperti yang disampaikan oleh Pram diatas menunjukan keberpihakanya terhadap warga pribumi yang terbelakang secara ekonomi, politik dan pengetahuan. Apa yang dilakukanya memuat tujuan agar warga meningkatkan kesadaran berpolitik dan pengetahuan, yang diwujudkan dengan berbagai varian diantaranya mengarang sejumlah novel dan mendorong setiap warga agar berani berbicara didepan umum.

Sedangkan diseberang lain, yakni gerakan politik menempatkanya pada bagian penting atas lahirnya kemerdekaan. Politik ketika itu adalah media menghimpun massa yang diperuntukan bagi warga pribumi baik muda ataupun tua bertukar informasi, saling menguatkan, merancang strategi gerakan dan menjalankanya, kendatipun banyak dinamika yang dihadapi.

Bila di nalar lebih jauh, Politik ketika itu semacam dapur yang dipergunakan untuk meracik ide atau mematangkan gagasan serta menyajikan taktik gerakan, sesudah di olah sedemikian rupa didapur barulah dihidangkan ke tamu undangan atau dalam hal ini kolonial. Tentu bukan semacam dapur sungguhan yang membuat penikmatnya kenyang tak tertulung, dapur politik ini justru dianggap kolonial membahayakan, pandanganya selalu tertuju tanpa berkedip. Maka tak asing ketika itu banyak pelaku politik dipenjarakan dan diasingkan hal itu dibutuhkan kolonial karena seseorang tersebut membahayakan keberlanjutan status quo kolonial.

Berangkat dari basis material semacam itu, kita akan menemukan ragam buah pikir dan upaya untuk memperlemah kolonial dan menguatkan warga pribumi. Seperti didirikanya organisasi kepemudaan, partai politik, sarekat islam dll yang dengan cepat melahirkan cabang masing-masing di sejumlah daerah.

Dengan memahami politik fungsional ketika itu yakni sebagai basis massa dan basis gerakan melawan kolonial, maka organisasi seperti Boedi Utomo, Perhimpunan Indonesia, Partai Nasionalis Indonesia dan sejumlah organisasi atau partai lainya disejumlah wilayah menjalankan politik sebagai alat memperlemah kolonial dan disisi selanjutnya menanamkan benih-benih kemerdekaan.

Hal demikian terus berlanjut dan berdialektika, hingga suatu waktu kekuasaan kolonial Belanda diambil alih oleh kekaisaran Jepang, dan dalam tempo yang singkat kekuatan jepang melemah dikarenakan konflik internasional ketika itu. Sehingga Indonesia mengalami kekosongan pemerintahan setelah jepang mengalami kekalahan perang dari Amerika Serikat. Kondisi ini di respon dengan cepat oleh berbagai organisasi kepemudaan, kemahasiswaan, organisasi keagamaan dan partai politik dan seterusnya, hingga di proklamirkanya Negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Tabik

Daftar Pustaka:

[1] Dr. Darsono P. SE. SF, MA, MM, Karl Marx, EkonomiPolitik Dan AksiRevolusi (Diadit Media), Hlm 96

[2] Ibid 63

[3] Ibid 98

[4] Asghar Ali Engineer,  Islam dan Teologi Pembebasan, ( Pustaka Pelajar) hlm 41

[5] Ibid 44

[6] Ibid 45

[7] Karl Marx, Kapital, SebuahKritikEkonomiPolitik, (Hasta Mitra), Buku I, hlm 844

[8] Ibid Hlm 846

[10] Nor Hiqmah, Pertarungan Islam dan Komunisme Melawan Kapitalisme, “Teologi Pembebasan Kyai Kiri Haji Misbach” (Madani)hlm54

[11] Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, ( LenteraLipantara) hlm64

[12] Ibid 69

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: