Rakyat Di Tengah Virus Corona

“Di tengah kendali pemilik modal yang memiliki motif meraup provit, rakyat pekerja harus terus memproduksi barang untuk tuannya atau pemilik perusahaan, tak peduli corona yang sudah memakan korban ribuan sekalipun”.

Oleh: Sandika Wijaya

Umat manusia kini tengah menghadapi tragedi yang mengancam nyawa setiap orang. Ilmuan China telah menemukan virus baru, yakni novel corona 2019. Virus yang disebut dengan Covid-19 itu pertama kali ditemukan di China pada Desember lalu dan kini telah menyebar ke 200 negara di dunia temasuk Indonesia. Dari total negara yang telah mengkonfirmasi, tercatat ada 664.924 orang positif terinfeksi Covid-19, 140.222 orang sembuh, dan 30.848 orang dinyatakan meninggal dunia.

Pada awal Maret, Presiden Joko Widodo secara resmi menyatakan virus corona telah masuk ke wilayah Indonesia. Sejak pengumuman itu, pasien terpapar corona terus mengalami peningkatan jumlah dan menyebar di sejumlah wilayah. Berdasarkan data Tim Gugus Tugas Covid-19 Nasional, hingga 29 Maret 2020 tercatat ada 1.285 pasien dinyatakan positif dan 64 di antaranya dinyatakan sembuh. Sedangkan jumlah orang yang meninggal mencapai 114 jiwa.

Menyikapi fenomena tersebut, berbagai negara sudah mengambil langkah untuk mencegah penularan, terlebih setelah virus tersebut ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO. Sejumlah negara di benua Eropa, seperti Spanyol, Prancis, Jerman, Belanda, dan Inggris telah menyatakan sikap untuk lockdown. Meski terlambat, hal serupa juga dilakukan oleh Italia. Di Asia, kebijakan tersebut dilakukan lebih dulu oleh China. Kemudian diikuti dengan negara-lainnya seperti Vietnam, Filiphina, Korea Selatan dan Malaysia.

Di Indonesia, hingga kini belum mengeluarkan kebijakan yang tegas sebagai upaya pencegahan penyebaran. Hingga korban mencapai angka ribuan, pemerintah pusat hanya mengeluarkan imbauan untuk physical distancing. Jauh panggang daripada api, bukannya melakukan lockdown pemerintah justru mencari kambing hitam.

Lockdown seperti beberapa negara di atas dinilai sebagai langkah yang paling efektif untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. alih-alih lockdown, nyatanya juga physical distancing tidak menjangkau pencegahan untuk seluruh warga negara, terkhusus masyarakat dengan golongan ekonomi menengah ke bawah. Dari semula tragedi ini masuk ke wilayah Indonesia berbagai kebijakan pemerintah tidak menunjukan keberpihakan pada rakyat miskin secara utuh.

Pada saat jumpa pers, Jumat 27 Maret 2020, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, “Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar, dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya. Ini menjadi kerja sama yang penting,” pernyataan yang menuai banyak kritik dan memunculkan perdebatan ini secara implisit menunjukan rakyat miskinlah sumber dari virus corona dan dihimbau untuk menjaga jarak terhadap orang kaya.

Fenomena di atas tidak menunjukan keberpihakan dan mengarahkan rakyat miskin bersalah. Padahal, masyarakat kelas bawah yang semestinya mendapatkan dukungan dan perhatian serius, sebab masyarakat miskin lebih sulit menghadapi corona daripada masyarakat kaya. Hal ini bisa kita jumpai di pasar-pasar tradisional, pedagang kaki lima, dan tukang ojek yang masih harus berjuang untuk mempertahankan hidupnya di tengah ancaman corona, terlebih menurunya tingkat pembeli, karena penerapan kebijakan Physical Distancing. Hal ini jelas menurunkan pendapatan rakyat kecil hingga menyebabkan ancaman baru, yakni tidak terpenuhinya kebutuhan pokok–di luar ancaman corona.

Ihwal di atas, dialami juga oleh pengusaha kecil dan pekerja-pekerja lainnya yang bekerja di pabrik, salah satunya buruh. Buruh memiliki hubungan produksi dengan pemilik modal sekaligus pemilik otoritas yang menentukan pekerjaan serta hasil yang didapat oleh buruh. Di tengah kendali pemilik modal yang memiliki motif meraup provit, rakyat pekerja harus terus memproduksi barang untuk tuannya atau pemilik perusahaan, tak peduli corona yang sudah memakan korban ribuan sekalipun.

Sebagaimana di atas serupa dengan yang diungkapkan oleh salah satu filsuf dan bapak Ekonomi, Karl Marx. Dalam buku Peta Pemikiran Karl Marx karya Andi Muawiyah Ramly menyebutkan, “Riwayat dari setiap masyarakat adalah sejarah pertentanggan kelas, kini pertentangan kelas di masyarakat antara kapitalisme atau borjuasi yang memiliki alat pribadi (mesin, perusahaan, modal, dan lain-lain) dengan kelas proletariat atau buruh dengan hanya kepemilikan tenaga.[1]

Karl Marx melihat inti dari kapitalisme adalah pencapaian keuntungan sebanyak-banyaknya, melalui analisanya, Marx melihat hubungan produksi antara borjuasi dan proletariat selalu menguntungkan pemilik modal melalui cara yang tidak lazim, yaitu penghisapan.[2] Kapitalisme yang hanya memiliki motif meraup keuntungan di tengah mewabahnya virus corona mengancam kehidupan kelas pekerja. Pekerja atau buruh harus terus bekerja untuk menafkahi dirinya dan keluarganya, di sisi lain pekerja membuka jalan untuk tertular corona karena masih berdesak-desakan ketika di tempat kerja, transportasi umum, dan ruang-ruang publik lainnya.

Inilah fakta pahit yang sedang dialami oleh kelas pekerja. Peran Negara masih dipertanyakan hingga kini, sebab (hingga tulisan ini dibuat) belum ada kebijakan yang tegas melindungi setiap warga negara terkhusus para pekerja atau masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada penghasilan harian. Di tengah selang sengkarut ihwal penanganan Covid-19 rakyat miskin masih berjibaku dengan tetesan keringat serta virus korona yang mengintai mereka.

Tabik.

[1] Andi Muawiyah Ramly, Peta Pemikiran Karl Marx (Materialisme Dialektika dan Materialisme Historis), Hal 156

[2] Ibid hal 162

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: