Beranda Ruang Melacak Leluhur Manusia II

Melacak Leluhur Manusia II

439
0
BERBAGI
ilustrasi evolusi manusia dari ikan bertulang sumber gambar; https://kanzunqalam.files.wordpress.com/2014/11/evolusi1.jpg

Ditulisan sebelumnya, dalam judul yang sama “Melacak Leluhur Manusia” saya mencoba menjawab pertanyaan: siapa leluhur manusia sesungguhnya. Dalam tulisan tersebut, saya merasa tak cukup puas (mungkin juga teman-teman) atas jawaban yang terhenti di kurun waktu 2,5 juta tahun silam. Ketika genus kera yang dinamakan Australopithecus menuju tahap evolusi ke Genus Homo. Sedangkan kita ketahui bersama, sesungguhnya usia bumi telah menginjak usia yang fantastis, yakni 4,5 miliar tahun.

Usia tersebut didasari para ilmuwan dengan mengukur umur batuan kerak Bumi, termasuk batuan di Bulan dan meteorit. Jadi, tatkala kita berhadapan dengan fakta bahwa usia bumi amat sangat tua, jawaban atas pertanyaan “siapa leluhur manusia sesungguhnya” yang terhenti pada kurun waktu 2,5 juta tahun silam menjadi tak memuaskan.

Tapi tak apa, sesuai dengan semangat ilmu pengetahuan, yang selalu tertantang atas seluruh pertanyaan yang belum mampu dijelaskan secara saintifik, tulisan kali ini akan mencoba mewarisis semangat tersebut dan mencoba mundur lebih jauh kebelakang. Untuk apa? untuk kembali menggali jawaban atas pertanyaan “siapa leluhur manusia sesungguhnya?”.

Merangkai Silsilah

Richard Dawkins, seorang professor di Oxford University punya cara yang mengasikan untuk menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Melalui buku “The Magic Of Reality” Ia mengajak siapa pun yang membaca karyanya untuk melakukan percobaan pikiran.

OXFORD, UNITED KINGDOM – MARCH 24: Richard Dawkins Author and evolutionary biologist, poses for a portrait at the Oxford Literary Festival, in Christ Church, on March 24, 2010 in Oxford, England. (Photo by David Levenson/Getty Images)

Percobaan pikiran ini tidaklah rumit, kita hanya perlu mengambil foto diri kita. Lalu foto ayah kita, kemudian foto ayahnya ayah kita, kakek kita dan seterusnya. Kemudian kita tumpuk atau jejerkan foto-foto tersebut.

Percobaan pikiran ini akan kita lakukan dengan membayangkan 185 juta wajah para moyang kita. Bila percobaan tersebut benar-benar kita lakukan, kita akan melihat tumpukan foto setinggi 4.900 meter dan jika  dijejerkan, kita akan melihat barisan foto yang mengular sejauh lima kilometer.

Nah, selanjutnya kita hanya perlu mengambil foto diri kita dan menyandingkannya dengan foto terjauh, foto di nomor urut ke 185 juta. Terakhir dari percobaan pikiran ini, kita harus menerka wajah moyang kita tersebut.

Seperti dugaan Richard Dawkins, percobaan semacam itu tentu sukar untuk dilakukan. Tetapi pikiran manusia mampu melakukannya (Yah… minimal gambaran kabur yang keliru). Tetapi jangan risau, Richard Dawkins punya jawaban yang lebih bagus untuk menelusuri leluhur manusia. Bahkan yang ke 185 juta tahun yang lalu. Melalui apa? Melalui fosil-fosil arkeologis.

Temuan arkeologi mutakhir cukup mengagetkan sekaligus mengguncang. Terutama bagi para agamawan dan para pengikutnya. Bagaimana tidak, para ilmuwan mempercayai bahwa leluhur manusia di masa silam (185 juta tahun lalu) adalah hewan yang mirip dengan ikan.

ilustrasi ikan Ligulalepis
sumber gambar: https://sains.kompas.com/read/2018/06/02/193400023/ahli-sebut-fosil-ikan-400-juta-tahun-ini-moyang-manusia-kok-bisa-

Sebagaimana artikel yang dimuat oleh kompas.co dengan judul “Ahli Sebut Fosil Ikan 400 Juta Tahun Ini Moyang Manusia, Kok Bisa?” menjelaskan. Bahwa  temuan para ahli paleontologi ihwal fosil ikan bertulang yang dinamai Ligulalepis berhubungan erat dengan moyang manusia.

Seperti yang dikatan oleh John Long, salah seorang peneliti yang ikut bergabung dalam penelitian tersebut. Bahwa penemuan kelompok ikan bertulang ini amat penting, karena melalui mereka, hewan darat seperti mamalia, reptil, dan ampibi berevolusi.

Masih mengutip dari artikel yang sama, John Long mengatakan bahwa tidak banyak yang mengira bahwa manusia mengembangkan bagian-bagian struktur tulang mereka dari ikan.

Sekitar 400 juta tahun silam, beberapa ikan canggih mengembangkan sirip di bagian depan yang pada akhirnya menjadi Humerus (lengan), Ulna (pergelangan tangan), dan jari-jari yang dikembangkan dari sirip mereka.

Proses evolusi ikan bertulang menuju manusia telah melalui proses yang amat-sangat lama dan perlahan. Seperti yang diungkapkan Charles Darwin, ihwal menjelaskan terjadinya proses evolusi: layaknya proses geologi bumi yang menghadrikan gunung-gunung dan lembah-lembah akibat perubahan-perubahan kecil alam. Proses ini terjadi seperti pepatah yang mengatakan “tetesan air dapat melubangi sebuah batu” kira-kira seperti itulah proses evolusi berlangsung.

Jadi, temuan para arkeolog mutakhir mempertajam sekaligus memperbaiki teori Charles Darwin. Pertama, bahwa teori evolusi masih menjadi konsepsi yang kokoh untuk menjelaskan asal usul manusia. Kedua, manusia –seperti dalam pandangan Darwin berevolusi dari kera- tetapi temuan mutakhir belakangan ini menunjukan fakta  baru bahwa sejak 185 juta tahun yang lalu manusia mula-mula berevolsui dari ikan.

Seperti yang saya singgung sebelumnya, bahwa temuan arkeologis di atas mengagetkan sekaligus mengguncang pemahaman selama ini. Terutama bagi para agamawan dan para pengikutnya, yang selama ini meyakini bahwa manusia berasal dari tanah yang diberi nama Adam oleh Tuhan. Maka tak ayal, teori evolusi menjadi teori yang mengundang kontroversi.

Namun, pandangan M. Quraish Shihab, seorang ahli tafsir dapat dijadikan cara pandang yang tepat untuk melihat ilmu pengetahuan dan agama. Sebagaimana yang ia sampaikan dalam program televisi Shihab & Shihab dengan judul “islam dan teknologi”.

Bahwa tidak wajar menolak teori Darwin atas nama Al-Quran, tapi silahkan tolak atas nama pengetahuan. Begitu juga jangan terima atas nama Al-Quran silahkan terima atas nama pengetahuan. Pendeknya, tolak lah ilmu atas nama ilmu dan terima pula ia atas nama ilmu.

Jadi, jangan cemas bila kemajuan ilmu pengetahuan tak sejalan dengan keimanan mu. Toh, bukankah ikan lebih baik ketimbang gerabah, genteng, dan batu bata (tanah liat).

 

*Penulis adalah mahasiswa fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung. Penyuka kajian Filsafat dan Humaniora yang sejak kecil tidak bisa lepas dari musik Dangdut dalam kesehariannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here