Beranda Ruang Cerpen Meki dan ‘Kemodernitasan’

Meki dan ‘Kemodernitasan’

230
0
BERBAGI

Mudah mengingat betapa diriku begitu gandrung akan sosok superhero yang ku tonton dilayar televisi. Setiap hari, mulai dari subuh yang ditandai dengan berangkatnya Abah Maksum ke mushola sampai waktunya berangkat sekolah.

Sambil memakai seragam merah putih dan sarapan nasi uduk yang dibeli dari warung makan teh siti, aku selalu menyempatkan untuk melirik kearah layar kaca.

Oh iya, kenalkan namaku meki… Itu panggilan yang diberikan teman-teman kepada diriku, sedikit aneh memang tapi aku yakin itu bukan panggilan hinaan kepada diriku.

Yahh itu hanya laqob (nama lapangan) kalau istilah anak-anak pesantren, bukan halnya seperti nama minke dinovel karya Pram, yang nama itu berkonotasi negatif yang diambil dari kata monkey.

Yahh waktu itu memasuki akhirtahun 90-an ketika Indonesia baru merasakan terlepas dari rezim orde baru, yang menurut buku sejarah dan penuturan orang tua ku memakan banyak korban. Dari talang sari, semanggi sampai tri sakti.

Yahh persoalan ini jelas sangat tidak menarik bagiku yang baru memasuki sekolah dasar, yang menarik bagiku saat itu adalah ketika Ultraman mampu mengalahkan para monster yang berupaya menghancurkan dunia, sama menariknya ketika Superman, Batman bertarung menghadapi musuh-musuhnya yang sangat jahat.

Pikirku waktu itu, sosok itulah yang ideal untuk dijadikan panutan. Bagaimana tidak, mereka menjadi sosok yang mengesankan dikepalaku dengan kehebatan, kegagahan, dan keberanian (menggambarkan sosok manusia yang diimpikan). Ditambah obrolan disekolah yang paling sering dibicarakan adalah hal-hal tersebut.

Sampai-sampai seluruh tampilan dan aksesoris bertemakan superhero tersebut. Mulai dari tas, kotak pensil, bahkan sampai celana kolor pun bergambar para superhero. Dan yang paling menarik saat itu, gayaku dan teman-teman pun mengikuti gaya mereka, kami berlaga bak pahlawan dengan mengeluarkan jurus-jurus yang kami adopsi dari para superhero.

Pertarungan-pertarungan yang kami mainkan pun mengadopsi bagaimana para superhero itu berkelahi, ohh ya… Ada lagi kejadian yang paling saya ingat, bahkan kami yang  waktu itu sangat lucu dan unyu berebut menjadi superhero, mulai dari warna sampai kejurus yang menjadi andalan ketika bertarung.

Mengapa ini semua terjadi? Saya sadar kerangka berpikir yang demikian bukanlah muncul secara tiba-tiba atau begitu saja terjadi, melainkan terbentuk secara sistematis oleh sebuah sistem yang memang menginginkan cara berpikir saya dan teman-teman seusia saya diarahkan demikian!

Ini semua terkait dengan perkembangan dunia modern yang menjangkiti anak-anak muda yang lahir di akhir tahun 90-an. Pertanyaannya, apakah para anak-anak muda yang lahir dibawah tahun 90-an tidak demikian? mari kita coba menelaahnya lebih jauh.

Tulisan ini mencoba menggali persoalan kesadaran manusia Indonesia  setelah mengalami penjajahan secara fisik dan mental selama berabad-abad oleh para penjajah, lah apa hubunganya dengan para  superhero tadi?

Jadi begini, menurut  Jacques Lacan seorang psikolog yang mengembangkan teori psikoanalisis dari  Sigmund Frued, bila Sigmund memakai teori psikoanalisis untuk para pasien rumah sakit jiwa maka Lacan mengembangkannya pada tataran yang lebih luas lagi yakni pada kelompok social masyarakat.

Menurut Lacan manusia tidak lagi mampu mengindetifikasi dirinya, pada tahap pertama yakni ‘fase cermin’ terjadi pada usia enam bulan, pada tahap ini manusia belum mampu mengidentifikasikan dirinya secara terpadu dengan kata lain manusia belum mampu mengerti dirinnya.

Maka untuk mengerti dirinya manusia menggunakan citra diluar dirinya,  dalam hal ini kata cermin bukan hanya dimaknai secara harfiah tetapi juga bersi fatmetaforis. Hal ini bisa dilihat ketika seorang berusaha untuk mengenal dirinya dengan menggunakan citra diluar dirinya seperti ‘refleksi-diri‘ di mata orang tua bisa ayah atau pun ibu. Maka ke-diri-an  didapatkan melalui eksterior di luar manusia itu sendiri.

Dan hal ini yang membuat cara pandang terhadap ke-diri-an terbelah antara diri dan citra diri dan pada tahap ini manusia melihat objek idealnya atau diri idealnya dalam cermin. Dan menurut Lacan pengertian pertama tentang diri ini adalah salah pengertian, bagi Lacan inilah keterasingan pertama manusia.

Apa hubungannya dengan manusia Indonesia? Dari persoalan tersebut maka Lacan mengatakan bahwa hasrat seorang manusia sesungguhnya adalah hasrat  yang-lain (bukan hasrat sesungguhnya dari dirinya) karena ke-diri-an sudah lenyap dikarenakan manusia melihat ke-aku-an nya melalui hasrat yang lain (objek yang dianggap ideal).

Nahh hal inilah yang menjangkiti jiwa dan raga manusia-manusia Indonesia, karena setelah dijajah berabad-abad, seluruh ke-khas-an dirinya lenyap sebagai seorang subjek (manusia secara utuh) karena sesungguhnya menjadi manusia berarti menjadi sadar bebas berimajinasi, bebas memilih dan mempertanggung jawabkan hidup.

Tetapi belakangan ini justru hal-hal tersebut tidak kita jumpai, sadarilah ada upaya tersistem yang berusaha mengarahkan kita untuk tidak menjadi subjek yang utuh.

Maka jangan heran jika kita sebagai anak bangsa menjadi tidak percaya diri, tidak mampu bersaing dihadapan bangsa lain, karena selama ini hasrat yang ada di kepala kita merupakan hasrat ‘yang lain’ setelah penjajahan secara fisik berakhir di tahun 45.

Kita cenderung diarahkan pada gaya berpikir, berpenampilan icak-icak  barat atau ‘kebarat-baratan’ maka kita berpikir kalau tidak tahu Justin Bieber tidak keren, kalau tidak makan di KFC tidak oke, kalau tidak ngopi di STARBUCK tidak kekinian. Karena selama ini kita menganggap diri kita sebagai objek yang tidak ideal! Untuk menjadi ideal maka kita harus seperti orang barat, pikiran anak muda zaman NOW, secara tidak sadar.

Nahh membangun kesadaran yang tidak kita sadari ini sudah dimulai sejak kita kecil, dengan tiap hari kita dicekoki oleh film-film superhero ala barat tadi, maka menurut Louis Althusser digunakanlah aparatur-aparatur negara baik aparatur represif (tni, polri dll) maupun ideologis!

Tetapi untuk meneguhkan ideologi Kapitalisme digunakanlah aparatur idelogis (sekolah, lembaga pendidkan, media dll) untuk membangun pola pikir masyarakat secara masif yang diarahakan untuk menjadi pribadi yang konsumtif, inferior, dengan kata lain tidak percaya diri! Yang seharusnya kita sebagai anak muda haruslah merasa percaya diri dengan duduk sama rata dan berdiri sama tinggi dimana pun dan kapan pun.

Maka seluruh kerangka berpikir yang demikian hanya semata-mata untuk memperteguh posisi negara-negara Kapitalis barat setelah runtuhnya Kolonialisme dan memasuki era baru Liberalisme maka strategi yang mereka gunakan tidak lagi penjajahan secara fisik namun secara mental yang tujuannya tetap sama semata-mata untuk mendapat keuntungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here