Manusia atau Monyet?

“Mengenai kesanggupan manusia untuk berpikir sehingga membedakan dengan jenisnya dari binatang….” Kalimat pembuka bab enam kitab muqadimah Ibnu Khaldun

Dari pernyataan tersebut, Ibnu Khaldun menyampaikan bahwa salah satu esensi manusia sebagai makhluk adalah ia bisa berpikir. Proses berpikir biasanya diidentikkan dengan proses belajar, belajar bisa dilakukan melalui proses pendidikan baik itu pendidikan formal ataupun non formal.

Salah satu tempat untuk mendapatkan pendidikan adalah perguruan tinggi. Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan formal terakhir.

Pada jenjang ini, sebagai  peserta didik (mahasiswa) kita akan menemui istilah-istilah baru dalam dunia pendidikan, seperti sumpah mahasiswa, presiden mahasiswa, Tri darma perguruan tinggi, dan yang lainnya.

Apa itu Tri darma perguruan tinggi. Tri Dharma  yang berasal dari bahasa Sansekerta memiliki arti, yaitu “Tri” artinya tiga, sedangkan “Dharma” bermakna kewajiban.

jadi makna Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah hal-hal dasar yang harus ada saat menjalani aktivitas akademik, Dasar dan tanggung jawab tersebut dilakukan secara terus-menerus dan dikembangkan secara beriringan.

Adapun Tiga kewajiban yang termaktub dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi meliputi :

  1. Pendidikan dan Pembelajaran
  2. Penelitian dan pengembangan
  3. Pengabdian masyarakat.

Ketiga point inilah yang menjadi titik tolak seluruh civitas akademik dalam mencipta iklim akademis  perguruan tinggi yang sarat dengan nuansa intelektual.

Dan pada kesempatan ini saya akan fokus pada poin pertama dari Tri Dharma tersebut, yaitu pendidikan dan pembelajaran. mengapa ? karena bagi saya poin awal inilah yang menjadi penentu kelangsungan poin-poin Tri Dharma berikutnya.

Pertanyaannya adalah pendidikan dan pembelajaran yang seperti apa yang harus dipenuhi ?

Namun, sebelum kita jauh bicara tentang pendidikan dan pembelajaran, terlebih dahulu saya ingin menyampaikan fakta tentang dunia pendidikan kita.

Berdasarkan data Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Senin (1/3/2011),

“indeks pembangunan pendidikan atau Education Development Index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia”

Saat ini Indonesia masih tertinggal dari Brunei Darussalam yang berada di peringkat ke-34. Brunei Darussalam masuk kelompok pencapaian tinggi bersama Jepang, yang mencapai posisi nomor satu Asia. Adapun Malaysia berada di peringkat ke-65 atau masih dalam kategori kelompok pencapaian medium seperti halnya Indonesia.

Pendidikan adalah salah satu faktor penentu kemajuan suatu bangsa. bagaimana arah kemajuan suatu Bangsa itu akan bisa diukur dari seberapa besar dan berkualitasnya sistem pendidikan yang diterapkan.

Baiknya segenap pihak mengaca bagaimana produk pendidikan yang sudah dihasilkanlembaga pendidikan di Republik ini, fakta bahwa banyaknya sarjana-sarjana baru yang dikeluarkan (secara kuantitas) setiap tahunnya ternyata tidak berbanding lurus dengan kualitas yang dihasilkannya, itu adalah kenyataan patologis yang tidak bisa kita elakkan.

banyak faktor yang menyebabkan kualitas sarjana jebolan perguruan tinggi kita dewasa ini kian merosot. salah satunya adalah sistem pendidikan yang diterapkan  terlalu positivis mekanistik, sehingga menjebak mahasiswa di kampus-kampus menjadi lembek dan berorientasi pada Ijazah semata, bukan Ilmu.

Kebiasaan “mahasiswa” saat ini yang hanya men-dewa-kan IPK tinggi tapi tidak diimbangi dengan minat dan proses belajar yang serius sudah lazim kita temui.

Selain itu ke-langka-an pola pendidikan kita yang menerapkan metode belajar yang merdeka atau membebaskan, juga merupakan faktor yang ikut memberikan sumbangsih besar dalam merosotnya kualitas para sarjana kita.

Melihat hal itu, marilah kita melakukan refleksi sejenak, mengenai pengertian atau makna pendidikan…

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik.

Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Selain itu, pengertian pendidikan dalam  UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003  adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Sementara itu, Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. (Wikipedia.com)

Dari dua definisi pendidikan dan pengertian pembelajaran diatas, dapatlah di ambil kesimpulan bahwa pendidikan adalah  Usaha yang dilakukan manusia atau individu untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan potensi yang dimilikinya.

Lalu timbullah pertanyaan baru, potensi apa yang dimiliki manusia sehingganya perlu di tingkatkan atau di optimalisasikan,?

Dalam hal ini, Ibnu khaldun membantu untuk menjawab pertanyaan ini, seperti yang saya kutip pada bagian awal tulisan saya, bahwa potensi itu adalah kesanggupan manusia untuk berpikir.

 “Ketahuilah bahwa Allah –Maha Suci Dia dan Maha Tinggi- membedakan manusia karena kesanggupannya berpikir, yang merupakan sumber dari segala kesempurnaan dan puncak segala kemuliaan dan ketinggian diatas mahluk lainnya.” (Kitab Muqadimah Bab Enam)

Pendidikan dan pembelajaran yang terjadi –terlebih di kampus- harus mampu memancing atawa men-stimulus kemampuan dan potensi yang dimiliki setiap peserta didik, apa itu, tak lain dan tak bukan adalah Cara berpikir atau menalar suatu pengetahuan yang didapatnya, baik pengetahuan yang didapat dari tenaga pendidik ataupun dari lingkungannya.

Proses pembelajaran dianggap gagal apabila tidak dapat memancing peserta didiknya  untuk berpikir atau menalar sesuatu terlebih untuk memecahkan suatu persoalan.

Pendidikan dan pembelajaran bukanlah hanya sekadar proses memindahkan pengetahuan dari seorang pendidik kepada peserta didik, tapi lebih dari itu. Proses itu penting adanya karena agar peserta didik terbiasa menggunakan akalnya (proses berpikir).

Ketika proses berpikir ‘dengan benar’ pada setiap peserta didik tidak terjadi dalam proses pembelajaran, maka sangat wajar angka pengangguran akan meningkat setiap terjadi prosesi wisuda, karena daya atau nalar kreatifitasnya sudah tumpul.

Seperti yang sudah disampaikan oleh ibnu khaldun, manusia adalah hewan yang berpikir, apabila proses berpikir tidak terjadi maka kita tak ubahnya hewan-hewan yang sedang mengantri untuk pemindahan tali toga atau kita  tak lebih dari hewan yang di beri label sarjana.

Bagaimana kita akan mampu secara baik dan benar melakukan penelitian dan pengembangan, terlebih melakukan pengabdian kepada masyarakat, kalau sedari awal kita sudah salah dalam mengamalkan dan memaknai proses belajar dalam diri kita.

Apabila kita gagal memaknai dan mengaktualisasi point pertama dalam tri darma perguruan tinggi, maka secara otomatis kita akan gagal juga dalam memahami dan mengimplemantasi point selanjutnya dari tri darma perguruan tinggi.

Bandarlampung, 19 Februari 2018

To be Continue….

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: