Beranda Ruang Manusia Atau Ayam ?

Manusia Atau Ayam ?

386
0
BERBAGI

Filsuf Yunani kuno sekaliber Sokrates tidak menulis hasil buah pikirnya, beruntunglah ia memiliki murid yang mengabadikan buah pikirnya, jika tidak! siapa yang mengetahui Sokrates?

Aku memulai sesuatu yang sudah dimulai sebelum Aku lahir, bahkan sebelum dunia sepraktis sekarang ini. jauh berabad-abad dahulu ketika nenek moyang Bangsa Kita sibuk berlayar di samudera, sudah banyak kitab-kitab fenomenal nan berpengaruh bagi peradaban Manusia.

Sebut saja karya dari sahabat Kita yang satu ini “republik” karya dari Plato murid sang filsuf Sokrates tentang teori politik, ditulis pada tahun 360 SM.

Adapula karya Aristoteles dengan metafisikanya dan masih banyak karya orang-orang terdahulu yang kebanyakan dari Kita malah tertinggal dari mereka sekarang ini, dalam hal apa? Karya!.

“Karya” ohh Siapa yang tak mau hidupnya dikenang, diabadikan hingga berpengaruh dan menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan bagi umat manusia ?

“Saya rasa hanya Manusia berkesadaran hewan saja yang menginginkan hidupnya dalam  kondisi “adem ayem tentrem”  tanpa tantangan. Bagaimana tak disebut seperti hewan jika prinsip hidupnya kurang lebih seperti ini “yang penting bisa hidup, melanjutkan keturunan dan hidup bahagia” sangat utopis dan terkesan putus asa, ini tentu mengingkari keberadaan akal yang sudah diberikan Tuhan pada dirinya”.

Jika prinsip hidup ini terus dipertahankan oleh Manusia yang hampir hilang akalnya tersebut, lalu ditularkan pada Manusia  lainnya, tentunya hal ini sangat berbahaya! Sebab Kita akan sulit membedakan antara seekor ayam dan seorang Manusia bila seperti itu kejadiannya.

Untuk melihatnya jauh lebih dalam lagi, mari Kita perhatikan hidup seorang Manusia dan seekor ayam dipekarangan rumah Kita, atau bila Kita tidak memelihara ayam setidaknya Kita bisa mengamati ayam tetangga Kita, asal jangan mengamati disekitaran kampus karena dikhawatirkan itu bukanlah ayam yang ingin Kita amati.

Pertama Manusia dikaruniai bahasa untuk mengkomunikasikan informasi-informasi dan alur pikir yang melatar belakangi informasi tersebut. Seekor ayam bisa saja menginformasikan kepada ayam-ayam lainnya bahwa ada musang yang ingin memangsa telur-telur mereka, namun bagaimana  bahasa si ayam berkembang? Ia tak mampu mengkomunikasikan kepada ayam-ayam yang lain, jalan pikiran analitis tak mereka punya terkait gejala tersebut.

Maka tepatlah kiranya bila dalam sebuah karya drama Shakespeare yang dikutip Bertrand Russell, tak ada seekor anjing pun berkata kepada temannya “ayah ku miskin namun jujur” dan tak ada seekor anjing pun sambung Adam Smith yang secara sadar tukar-menukar tulang dengan temannya. Nah, Apa sudah paham bagaimana manusia berpikir dan harusnya berprinsip? Jika belum mari Kita sambung kesebab selanjutnya.

Sebab yang kedua ialah manusia adalah makhluk hidup yang mampu secara cepat dan mantap untuk mengembangkan pengetahuan dengan berpikir menurut alur kerangka berpikir tertentu, dan hal ini disebut penalaran.

Binatang tidak mampu bernalar, namun insting hewan jauh lebih peka dari insting seorang insinyur geologi, Mereka sudah jauh-jauh berlindung ketempat yang aman sebelum gunung meletus. Namun hewan tak mampu menalar gejala tersebut, mengapa gunung meletus, faktor apa yang menyebabkannya dan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah semua itu terjadi.

Dua hal inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya, yakni bahasa yang bersifat komunikatif dan pikiran yang mampu menalar. Manusia bukan semata-mata makhluk yang berpikir, namun manusia juga mengindera dan merasa. Totalitas dari ketiganya-lah pengetahuan manusia berasal.

Tentunya, sebagian dari pembaca akan tidak sepakat tentang paparan yang saya berikan di atas. Diam-diam dalam hati ada sebuah sangkalan, bahwa ada  pengetahuan yang didapat tanpa menggunakan totalitas panca indera, seperti para Nabi misalnya. Mendapat pengetahuan langsung dari Tuhan via Malaikat Jibril, namun penjelasan logis tentang peristiwa  itu tak pernah ada dengan pasti!.

Seperti kata Tan Malaka, kebanyakan kerangka berpikir Manusia Indonesia didominasi oleh logika mistika, Dogma-dogma sangat hidup dalam kehidupan masyarakat Indonesia. hal ini membawa pada situasi kegalauan luar biasa, di satu sisi dogma-dogma mewujud jadi nilai-nilai yang harus diyakini dan dipercaya membawa pada kebaikan, di sisi lainnya dogma-dogma tersebut justru menjadi alat untuk menipu dan memanipulasi, karena cara kerjanya yang irasional.

Tapi, selama dogma-dogma agama  berjalan beriringan dengan tujuan manusia,  yaitu untuk mencapai maksud kebaikan tanpa didasari untuk menipu mereka, maka! monggo jalan terus, sembari  ayam-ayam itu berobat jalan.

Teringat sebuah hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Ini bukan soal dikenang, diabadikan apalagi berpengaruh seperti awal-awal penulis paparkan. Namun lebih besar lagi, yakni bermanfaat bagi orang lain.

“Tak ada seekor ayam yang saat sedang makan memikirkan apakah ayam yang lainnya juga makan seperti dirinya”

Aku mau hidup seribu tahun lagi sekali berarti sudah itu mati !

Dan sebelum mati, Aku ingin berarti. mari mulai berkarya dimulai dengan hal sederhana; membaca, menulis dan berdiskusi, jika dirimu tak mau disamakan dengan seekor ayam apalagi anjing tentunya.

Terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here