Mamak Lawok; Legenda Hidup Sastra Lisan Lampung Yang Ter(di)lupakan.

“Dalam setiap upaya pelestariaan budaya yang dilakukan oleh pemerintah kerap kali tidak juga memperhatikan para pelaku budaya tersebut, seperti Mamak Lawok”.

 

Oleh Yan Barusal

Mamak Lawok, seniman tradisi yang cukup ternama di Pesisir Barat. Mamak Lawok merupakan nama panggilan, nama asli beliau adalah Musni Marsudin. Mamak Lawok lahir pada tanggal 5 maret 1952 di Pekon Way Napal, Krui, Lampung. Beliau adalah buah cinta dari pasangan bapak Marsudin dan ibu Murkiyah. Ia ahli dalam seni tradisi lisan Hahiwang dan Muayak.

Mamak Lawok dikenal sebagai pelaku seni sastra lisan Hahiwang. Hahiwang adalah syair yang berisi nasihat-nasihat yang berkenaan dengan agama. Dulu hahiwang difungsikan untuk pengembangan atau penyebaran agama Islam. Hahiwang merupakan suatu bentuk sastra lisan Lampung berupa lantunan syair yang menyiratkan kesedihan. Biasanya dibawakan dalam acara adat atau pernikahan sebagai suatu nasihat atau suatu pelajaran bagi orang yang mau menjalani hidup.

Menurut beberapa sumber dikatakan bahwa beliau mulai belajar tentang hahiwang pertama kali ketika masih menempuh Sekolah Dasar. Beliau diperkenalkan hahiwang dari sang Ibu. Selain belajar kepada orang tuannya, mamak lawok juga sering melihat dan mendengar orang-orang tua di kampungnya yang ber-hahiwang.

Pada tahun 1984, Mamak Lawok mulai aktif mempertunjukan kemampuan hahiwangnya di pesta-pesta pernikahan atau pesta adat di sekitar kampung halamannya. Pada tahun 1984 inilah beliau mulai dikenal dengan sebutan Mamak Lawok. Mamak Lawok secara harfiah berarti “Mamak artinya paman, dan Lawok berarti laut”, sebutan itu didaptnya karena beliau berasal dari daerah pesisir.

Kemudian setelah itu, Mamak Lawok terus melanjutkan aktifitasnnya dalam  melestarikan tradisi sastra lisan tersebut. Pada tahun 1985, setiap satu atau dua minggu sekali beliau mengisi program acara Manjau di Bingi (Berkunjung di Tengah Malam) di Radio Republik Indonesia (RRI) Tanjung Karang, Kota Bandar Lampung. Beliau juga pernah diminta untuk mengajarkan seni penciptaan Hahiwang dan Muayak kepada mahasiswa-mahasiswa di Universitas Lampung (UNILA) pada tahun 1998. Selain di Provinsi Lampung, Mamak Lawok beberapa kali mempertunjukan keahliannya tersebut dibanyak tempat di luar Lampung, seperti Jakarta, Sulawesi dan Jawa Barat.

Sudah banyak hasil karya Mamak Lawok dalam bidang Hahiwang dan Muayak, diantarannya berjudul, ‘Sesol Mak Mena’ yang artinya penyesalan tidak ada yang dari awal, selalu di ahir, ‘Darussalamah’ yang menceritakan tentang nikmatnya di surga dan sakitnya di neraka, ‘Bintang Lunik, artinya bintang kecil yang menceritakan mi’raj nabi, dan masih banyak lainnya.

Meski popularitas telah ia raih, baginya seni Hahiwang dan Muayak tidak dianggapnya sebagai mata pencaharian karena ia berprinsip harus iklas “Jangan pernah kita meminta sesuatu dengan orang yang mengharapkan kita”, jadi selama ia diminta untuk mempertunjukan keahliannya melantunkan hahiwang dalam acara pernikahan dan acara lainnya, beliau tidak pernah memasang tarif bayaran.

Mamak  Lawok sudah menjadi rujukan bagi para peneliti budaya lampung, baik lokal, nasional bahkan Internasional. Tidak jarang orang datang ke kediamannya untuk melakukan penelitian terkait sastra lampung khususnya Hahiwang dan Muayak. Tetapi ditengah upaya mengenalkan sastra lampung, miris sekali melihat kondisi hidup mamak lawok di masa tuanya.

Mamak Lawok dan Masa Tuannya

dokumentasi Arman hz

Melestarikan seni budaya tradisional atau udaya lokal merupkan kewajiban kita bersama, tidak hanya Pemerintah, baik pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah, tetapi juga semua lapisan masyarakat. Tetapi dalam setiap upaya pelestariaan budaya yang dilakukan oleh pemerintah kerap kali tidak juga memperhatikan para pelaku budaya tersebut, seperti Mamak Lawok.

Arman Az, salah satu budayawan Lampung yang pernah bersilaturahim kekediaman beliau, dalam laman Facebook pribadinya mengatakan ,“Mamak Lawok, seniman sastra lisan Hahiwang. Beliau tinggal di Pesisir Barat, Lampung. Terakhir bersua beliau, awal Februari lalu (2020). Jalannya tertatih, habis kecelakaan. Menonton video yang dibuat Novry Rahman ini, saya teringat rumahnya yang di pelosok, berdinding papan, dan dilapisi koran itu.”.

Berdasarkan kisah yang disampikan oleh Arman Az, ketika beliau berkunjung ke kediaman Mamak Lawok tahun 2017 lalu, kondisinya begitu memprihatikan, mulai dari tempat tinggal hingga keseharian beliau. Saat ini mamak lawok menempati rumah berdinding papan yang Ia bangun sendiri diatas tanah orang lain, atau bisa disebut beliau menumpang diatas tanah orang. Mamak Lawok menjalani rutinitas kesehariannya dengan mengurusi masjid di dekat rumah beliau. Sementara istrinya bekerja di kebun orang lain, dengan penghasilan yang tidak menentu.

Satu hal yang membuat penulis begitu bersedih adalah ketika mamak lawok pernah meminta kepada Arman Az untuk membantunya menjual manuskrip kuno yang berisi Hahiwang yang dituliskan diatas kulit kayu. Mamak Lawok berencana menggunakan uang hasil penjualan manuskrip kuno tersebut untuk melakukan renovasi masjid yang beliau urus.

Mendengar kisah yang disampaikan oleh Arman Az tentunya mengundang keprihatinan dan kesedihan bagi kita. Betapa tidak, beliau (Mamak Lawok) salah satu orang yang berjasa dalam upaya melestarikan, menjaga dan mengembangkan tradisi sastra lisan Lampung,  hahiwang menjalani hidup dimasa tuanya serba kekurangan. Tidak hanya tenaga dan pikiran yang beliau baktikan, tetapi juga seluruh hidupnya beliau baktikan untuk melestarikan Hahiwang.

Meski menjalani hidup dengan masa sulit, mamak lawok tidak pernah mengeluh bahkan beliau nampak tak terlalu mengkhawatirkan kehidupannya, justru yang beliau khawatirkan adalah kelangsungan Sastra Lisan Lampung, Hahiwang di tengah ancaman kepunahan. “seni hahiwang semakin hari kian menghilang dari tengah masyarakat, semua larut dengan budaya modern yang dianggap sebagai budaya yang pantas berkembang di zaman sekarang” kata Mamak Lawok.

Terakhir, melalui catatan singkat ini, penulis berharap kepada para pemimpin daerah, Raja-raja Jukkuan, atau Pangeran-pangeran di Lampung, bisa memberikan perhatian khusus kepada Mamak Lawok seperti menyediakan  tempat tinggal dengan layak dan memberikan fasilitas tempat bagi beliau untuk mengajarkan sastra lampung, agar sastra tetap eksis dan tidak hilang ditelan zaman. Selanjutnya penulis berharap kepada pemerintah Daerah melalui lembaga pendidikan atau dinas terkait untuk bisa memberi  materi wajib terkait sastra lampung di sekolah-sekolah formal, dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah atas  demi terjaganya budaya Lampung. Sehingga bisa melahirkan Mamak Lawok-Mamak Lawok yang lain, yang membawa Budaya Lampung lebih dikenal di kancah Nasional maupun Internasional.

 

Penulis adalah penggiat KLASIKA yang merupakan menghanai asli Lampung kelahiran Pekon Awi Desa Kegeringan Kec. Batu Brak Lampung Barat. Selain aktif berkegiatan di KLASIKA, penulis juga sedang tahap menyelesaikan Studi S1 Jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung. Salah satu motivasinya mengambil jurusan hukum adalah untuk menegakan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan bagi pribadi-pribadi yang telah berjasa besar bagi tanah Lampung

Tulisan diambil dari beberapa sumber terkait.

 

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: