Malam Minggu Malam Yang Panjang, Jangan Tunggu Kau di Habisi Tambang

Seorang sahabat kemarin bertanya, mengapa beberapa hari terakhir saya dkk di Klasika banyak menyoal isu pertambangan. Saya diam, bukan mengapa, sebab saya tahu pertanyaan ini bisa jadi juga menggelayut di benak sahabat-sahabat yang lain.

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, saya justru balik bertanya padanya. Mengapa selama ini kepala kita pada umumnya hanya disesaki oleh problem-problem seperti tak junjung harmonisnya hubungan agama dan negara, pelanggaran HAM, pilkada atau seperti yang baru-baru ini terkait isu perburuhan dalam UU Omnibus law.

Sebab memang itulah yang terjadi, jawabnya, disana sini kita bisa melihat bahwa masih saja terjadi gesekan yang cukup keras dari relasi agama dan negara, soal kasus ham yang tak kunjung terang, juga soal buruh dalam omnibus law, dan tentunya pilkada karena memang hari ini di banyak tempat sedang disibukkan suksesi kepemimpinan atau pilkada.

Yap itu benar, tetapi masih kurang tepat, tukasku. Mengapa? Karena fenomena-fenomena yang kau sebut tadi hanyalah realitas yang kau hasilkan dari pembacaanmu di dunia maya.

Lha memang kenapa ?

Lha ya itu, jawabku, banyak dari kita saat ini abai atau bahkan cenderung tak menyadari bahwa isi pikiran yang ada di kepala kita ini hampir 80 persen keberadaanya ditentukan oleh apa yang diperbincangkan di dunia maya, media sosial tepatnya.

Saat sedang ramai isu khilafah di medsos, maka serta merta kita juga ikut membincangnnya, atau setidaknya ikut memikirkannya. Begitupun soal-soal yang lain, bisa saja soal ham, pilkada, hoaks omnibus law atau seperti yang baru ini yaitu terkait penahanan nur sugik alias gus nur karena telah menghina NU.

Dulu kita mengenal istilah nalar mediatik, yaitu anggapan bahwa apa saja yang disajikan oleh media adalah kebenaran. Itu dulu, saat dunia digital belum begitu marak. Hari ini ketika media-media  sosial berhasil mengalahkan media konvensional, masyarakat menjadi liar, kita semua terprovokasi, kesadaran kita diombang ambingkan oleh kecepatan isu, opini dan pergunjingan-pergunjingan yang lalu lalang datang silih berganti di media sosial macam fb, twitter dan ig.

Akhirnya apa, akhirnya sampailah kita pada satu kesimpulan bahwa realitas yang tersaji di dunia maya tersebut adalah benar adanya, ia memang potret yang terjadi di dunia nyata, atau yang lebih parah bahkan, untuk sebagian orang, apa saja yang tidak tersaji di dunia maya adalah tiada, dengan kata lain tidak ada realitas lain diluar yang dibincang dalam dunia maya, yang ada di media-media sosial.

Nah, itulah yang terjadi pada isu pertambangan. Cerita soal kerakusan, ketamakan dan keculasan para oligark pertambangan yang nyata-nyata bukan saja telah menguras habis uang negara ini, tetapi juga telah menyanderanya, sama sekali di hidden, disembunyikan secara sistematis oleh mereka. Pemilik media-media mayor bahkan juga adalah bagian dari mesin besar propaganda yang keberadaannya terkoneksi baik langsung atau tidak langsung dengan para oligark tersebut.

Itulah mengapa media sosial kita hari ini melulu disesaki problem-problem klasik, seputar pki neo pki, khilafah, dan atau ujaran-ujaran kebencian yang terus datang silih berganti, sementara isu tambang hampir sama sekali tidak ada.

Para oligark tersebut sesungguhnya telah menggelontorkan uang cukup banyak pada buzzer-buzzer medsos mereka, hanya demi dan untuk memastikan kita (gw, elo dan kalian semua) tidak pernah memikirkan persoalan tambang apalagi membincangnya dengan kritis.

—————————-

Sabtu, 24 Oktober 2020

Chepry Hutabarat

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: