Beranda Ruang Melacak Leluhur Manusia

Melacak Leluhur Manusia

295
0
BERBAGI
Ilustrasi Evolusi Manusia Sumber gambar: http://rec.or.id/article_716_Penciptaan-Manusia-dan-Teori-Evolus

Ada yang menarik di salah satu dinding Rumah Ideologi Klasika. Bila setiap dinding Klasika umumnya dihiasi dengan pigura gambar tokoh-tokoh Nasional, dokumentasi kegiatan, rak buku, dan kliping dari berbagai media cetak, namun salah satu dinding tampak lain. Dinding ini terletak di ruang diskusi, dengan ukuran yang tak lebih dari satu meter.

Hanya ada dua hiasan di dinding itu, satu kaligrafi dan satu pigura yang nampak seperti bagan kompetisi sepakbola saat 17 Agustusan, hanya saja posisinya vertikal. Kaligrafi tentu menjadi pajangan yang amat umum di kediaman seorang muslim, tetapi pajangan yang sepintas mirip bagan kompetisi sepakbola, tentu menarik perhatian bagi siapa saja yang melihatnya.

Pigura tersebut ternyata berisi nama-nama leluhur pendiri Klasika, Chepry Chaeruman Hutabarat. Mulai dari si Raja Batak hingga ke dirinya yang bermarga Hutabarat. Saya tidak tahu pasti maksud sesungguhnya pajangan tersebut, hanya sekadar hiasan atau lebih dari itu.

Tapi terkaan saya, pigura tersebut menjadi salah satu jawaban dari sebuah pertanyaan filosofis, “siapa aku sesungguhnya?”. Dan merunut silsilah para leluhur menjadi salah satu jawaban. Yah… minimal menghindari jawaban klise dan gampangan, bahwa leluhur manusia adalah Adam dan Hawa yang diusir dari surga.

Lagi pula beberapa penemuan arkeologis telah membuka pintu bagi kita untuk mengetahui para leluhur terdahulu. Sebagaimana yang dicatat dalam buku “Homo Sapien” karya Yuval Noah Harari. Oleh sebab itu tak berlebihan rasanya menghadirkan pertanyaan “siapakah leluhur manusia sesungguhnya?”.

Jutaan Tahun Silam

Dahulu kita berpikir bahwa kita adalah satu-satunya spesies manusia di muka bumi ini. Padahal sedikitnya kita memiliki 6 saudara yang amat sangat mirip dengan kita. Meskipun hari ini, hanya spesies kita (Homo Sapien) yang masih hidup. Namun, temuan-temuan arkeologis menunjukan bukti lain, bahwa sekita 2,5 juta tahun yang lalu telah hidup beberapa spesies manusia (makna sejati dari kata ‘manusia’ adalah ‘binatang yang masuk dalam genus Homo’).

Sekitar 2,5 juta tahun lalu di dataran tinggi Afrika Tmur, binatang-binatang yang sangat mirip manusia modern hidup. Mereka melakukan aktivitas sebagaimana lazimnya yang dilakukan manusia sekarang: bermain, bercinta, menjalin pertemanan akrab, dan bersaing untuk status dan kekuasaan.

Ilustrasi kelompok keluarga Australopithecus
Sumber gambar: www.sciencephoto.com

Hingga pada kisaran 2,5 juta tahun silam, manusia untuk pertama kalinya menuju tahap evolusieoner, dari genus kera yang dinamakan Australopithecus menuju Genus Homo yang kita kenal sekarang. Pada tahun-tahun ini pula sebagian manusia-manusia kuno meninggalkan tanah air mereka di Afrika Timur untuk menjelajah dan menetap di berbagai daratan Afrika Utara, Eropa, dan Asia.

Namun, Karena setiap daerah yang mereka tinggali memiliki iklim yang berbeda-beda, setiap spesies manusia berevolusi ke arah yang berbeda pula. Spesies manusia yang mendiami daratan Eropa dan Asia Barat berevolusi menjadi Homo Neanderthalensis dengan tubuh gempal dan berotot untuk beradaptasi dengan iklim dingin Eurasia Barat pada Zaman Es. Manusia kuno yang bermigrasi ke arah timur wilayah asia dihuni oleh Homo Erectus (manusia tegak) yang bertahan hampir 2 juta tahun dan menjadi rekor sebagai spesies manusia paling awet.

Di Indonesia sendiri, dua spesies manusia ditemukan. Satu spesies ditemukan di Solo yang kita kenal dengan Homo Soloensis dan satu lagi di pulau Flores yang dinamakan Homo Floresiensis. Homo Soloensis beradaptasi dengan iklim wilayah Jawa yang tropis dengan sumber daya yang memadai, sehingga mereka memiliki ciri fisik dengan tinggi badan 130-210 cm.

Sedangkan Homo Floresiensi mengalami proses pengerdilan dengan tinggi hanya satu meter dengan berat yang tak lebih dari 25 kilogram. Proses penyusutan yang dialami oleh Homo Floresiensi disebabkan pulau flores saat itu miskin sumber daya. Sehingga tubuh yang menyusut diyakini sebagai respon tubuh terhadap tekanan alam. Tubuh yang lebih kecil tak butuh banyak kalori, lagi pula, apa gunanya mempertahankan ukuran tubuh besar jika tak mampu mempertahankan kelestarian spesies.

Perbandaingan Tengkorak Kepla Homo Floresiensi, Homo Neanderthalensis, dan Homo Sapiens
Sumber gambar: www.pinterest.com

Pada 2010 satu lagi spesies manusia ditemukan di Siberia, saat para ilmuwan mengekskavasi Gua Denisova. Hasil analisis genetik membuktikan bahwa fosil yang ditemukan merupakan milik spesies manusia yang telah dikenal sebelumnya, Homo Denisova. Beberapa temuan arkeologis di atas menunjukan bahwa sedikitnya ada 6 spesies manusia dalam rentang waktu 2 juta tahun  sampai 10.000 ribu tahun terakhir.

Berangkat dari beberapa temuan arkeologis di atas, Yauval Noah Harari menegasi pandangan umum yang selama ini mempercayai bahwa spesies-spesies manusia berasal dari dalam satu garis keturunan linier. Dari Homo Ergaster menurunkan Homo Erectus menurunkan Homo Neanderthal hingga berevolusi menjadi kita.

Bagi Harari, pandangan ini keliru, model linier semacam ini memberikan kesan bahwa dalam satu kurun waktu tertentu hanya ada satu spesies manusia yang menghuni bumi. Padahal sedikitnya terdapat 6 spesies manusia yang hidup berbarengan dengan kurun waktu yang sama. Sebagaimana yang dialami oleh rubah, beruang, dan harimau yang memiliki keragaman spesies.

Mengapa kita secara lancang menghapus nama para leluhur dan saudara-saudara kita dari daftar silsilah. Dan seakan-akan menarik garis pemisah bahwa kita sama sekali bebeda dengan mereka. Serta memberikan klaim bahwa kita berasal dari sesuatu yang adiluhung dan menyematkan nama pada diri kita sendiri, Homo Sapiens (Manusia Bijaksana).

Mengapa Hanya Tersisa Sapiens

Sejujurnya kita tidak mengetahui pasti dimana dan kapan binatang-binatang yang bisa diklasifikasi Homo Sapiens berevolusi. Tetapi para ilmuwan sepakat bahwa hingga 150.000 tahun lalu di daratan Afrika Timur telah dihuni oleh Sapiens yang tampak seperti kita. Selain itu, para ilmuwan juga sepakat bahwa sejak 70.000 tahun lalu para Sapiens dari Afrika Timur bermigrasi  ke Semenanjung Arabia dan segenap penjuru Eurasia.

Ketika Sapiens bermigrasi Ke Semenanjung Arabia dan Eurasia, sebagian daerah tersebut sudah dihuni oleh spesies manusia lain. Lantas apa yang terjadi dengan spesies manusia lain ketika Homo Sapiens bermigrasi? Terdapat dua teori yang saling bersebrangan atas pertanyaan ini. Pertama, telah terjadi perkawinan silang antara Homo Sapiens dengan spesies lain. Kedua, ketika para Sapiens bermigrasi dan menyebar ke seantero dunia, spesies manusia lain kalah dalam perebutan sumber daya. Dan yang lebih ekstrem dalam teori ini, Sapiens telah memusnahkan spesies manusia lainnya.

Peta penyebaran Homo Sapiens
Sumber gambar: https://singularination.blogspot.com/2018/08/sapiens-brief-history-of-humankind-2011_3.html

Mari kita lihat teori pertama. Dalam teori ini ketika Sapiens menjelajah keluar daratan Afrika Timur, mereka bersuah dengan spesies manusia lain. Dalam perjumpaan ini terjadi ketertarikan secara seksual dan terjadi proses pembauran.

Kita bisa ilustrasikan teori ini layaknya kisah sinetron, ketika Homo Sapiens berjumpa dengan Homo Neanderthal mereka saling jatuh hati bak sepasang remaja, sehingga mereka berkembang biak bersama dan memunculkan dua populasi. Begitu pun ketika Sapiens bertemu dengan spesies manusia lainnya mereka saling kawin-mawin. Jadi, jika benar demikian, Homo Sapiens sekarang tidak lah murni berasal dari satu garis keturunan. Tapi pencampuran dengan spesies manusia lainnya.

Mari kita lihat teori kedua. Teori penggantian. Teori ini menyuguhkan penjelasan yang amat berbeda dari teori pertama. Dalam teori penggantian, Homo Sapiens diasumsikan sebagai spesies manusia yang memiliki perbedaan secara anatomi dengan spesies manusia lainnya. Sehingga sangat mungkin mempunyai gaya berpasangan yang berbeda.

Oleh sebab itu, dalam teori ini menjadi tidak mungkin Homo Sapiens saling tertarik secara seksual dengan spesies manusia lainnya. Selain itu, jarak genetika kedua spesies sudah cukup jauh terbentang  dan tak mungkin untuk dijembatani. Jadi, dalam pandangan teori ini yang paling mungkin adalah, Homo Sapiens telah memusnahkan spesies manusia lainnya.

Lantas muncul pertanyaan selanjutnya atas teori ini, dengan cara apa Homo Sapiens memusnahkan spesies manusia laininnya? Pertama kita harus melihat bahwa Homo Sapiens adalah pemburu-penjelajah yang lebih cakap ketimbang spesies manusia lainnya. Jadi untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita bayangkan sebuah Savana luas yang dihuni Sapiens dan Genus Homo lainnya.

Dengan keterampilan berburu dan menjelajah yang lebih unggul membuat populasi Homo Sapiens semakin banyak dan tersebar luas. Sehingga  menyebabkan  spesies manusia lainnya semakin terdesak dan kesulitan untuk menghidupi diri. Jawaban kedua yang mungkin terjadi adalah meletusnya pertempuran terbuka antara Sapiens dengan spesies manusia lainnya yang berujung pada kampanye pemusnahan massal (genosida) karena perebutan sumber daya.

Mengingat, toleransi bukanlah kararteristik Homo Sapiens. Dalam abad modern saja kita dapat menyaksikan bersama,  ketika sekelompok Homo Sapiens mencoba memusnahkan kelompok lainnya hanya karena perbedaan warna kulit, agama, dan ideologi. Sebagaimana yang terjadi pada peristiwa mengerikan, Holocaust. Apakah Homo Sapiens terdahulu lebih toleran? Saya ragu untuk mengatakan, ya.

Dalam 10.000 tahun belakangan kita terlalu naif memposisikan diri sebagai satu-satunya spesies manusia. Namun, temuan arkeologis ihwal saudara-saudara kita: Homo Neanderthal, Homo Denisova, Homo Soloensis, Homo Floresiensis, Homo Erectus, dan Homo Ergaster, terlalu nyata untuk diabaikan.

Akhirnya kita menemukan dua jawaban baru, ihwal leluhur kita. Pertama, jutaan tahun silam kita memiliki leluhur yang sama, yang dahulu saling kawin-mawin. Kedua, kita benar-benar berasal dari satu keturunan murni Homo Sapiens yang dengan kejam menghabisi saudara-saudara kita. Itulah kita Homo Sapiens sang pemuncak rantai makanan yang mendaku cerdas lagi bijaksana.

Sumber Refrensi: Yuval Noah Harari, “Sapiens A Brief History of Humankind”
*Penulis adalah mahasiswa fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung. Penyuka kajian Filsafat dan Humaniora yang sejak kecil tidak bisa lepas dari musik Dangdut dalam kesehariannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here