Beranda Ide Korupsi dan “Irasionalitas” Manusia

Korupsi dan “Irasionalitas” Manusia

451
0
BERBAGI
sumbr gambar https://www.cartoonmovement.com/collection/46

Mari kita “sembelih hewan” kita, Dan kita “hidupkan Manusia” Kita (Gus Mus)

KPK kembali melakukan operasi tangkap tangan di lampung kemarin. Bukan 1 atau 2 orang, melainkan 19 orang, luar biasa bukan. penangkapan ini terkait dugaan suap yang melibatkan pihak eksekutif, legislatif dan swasta. Hal ini—sekali lagi—menunjukkan bahwa Jaringan mafia korupsi di indonesia sudah multidimensi dan melibatkan pengusaha dan birokrat.

Korupsi dalam konteks politik praktis kerap menemukan bentuknya berupa penyalahgunaan jabatan, wewenang dan atau kekuasaan dalam pemerintahan. Korupsi berdekatan sekali dengan kekuasaan, seorang abdi negara yang bermental korup memiliki kecenderungan untuk memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya agar agenda-agenda personalnya dapat berjalan mulus, mereka menjadikan institusi yang dipimpinnya ‘bak’ perusahaan, membangun jaringan semata untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.

Ada apa dengan manusia, hingga pada suatu kondisi dapat menjadi begitu rakus dan tamak ???

Manusia, Sebagaimana diutarakan oleh hannah Arendt dalam bukunya “The Human Condition”, adalah makhluk pekerja (Animal laborans), makhluk berkarya (homo faber) dan Mahluk politik (bios politikos).

Sebagai animal laborants, manusia mengerahkan segala daya upaya yang bisa dilakukannya agar kebutuhan dasar—tubuh dan biologis—hidupnya terpenuhi. Manusia sebagai Homo faber berusaha mengatasi keterbatasan tubuhnya yang hidup di—dan bersama—alam, dengan cara menguasainya lewat karya. Sedangkan sebagai Makhluk politik atau Bios politikos, manusia ber-tindak guna menunjukkan kemampuan bebas dalam menentukan beberapa pilihan-pilihan hidupnya kala berinteraksi dengan yang lain.

Masalah muncul saat individu dengan segenap kemungkinan dan kemampuan yang dimilikinya,  menjalani hidup berbekal kecenderungan animal laborants yang dominan dalam dirinya. Seseorang dengan kecenderungan ini berubah menjadi irasional, ia gelap mata, menabrak seluruh aturan, nilai, dan norma yang berlaku dalam masyarakat, untuk beberapa waktu nuraninya raib ditelan kalkulasi untung rugi yang menjadi satu-satunya parameter dirinya dalam berinteraksi.

Seorang koruptor pada hakikatnya adalah orang yang sedang mengalami keterasingan atau ‘alienasi’ oleh—dan dari—dirinya sendiri. Ia jadi berjarak dengan ke-siapa-annya, hal ini terjadi akibat ketidakmampuannya mengendalikan gelombang nafsu keduniawian yang mencengkram kesadarannya. Ia tercerabut dari dirinya sendiri dan berpolah laiknya binatang, yang menjadikan pemenuhan hasrat konsumsi dan seksual sebagai satu-satunya orientasi hidup.

Saya yakin, di dalam diri koruptor mesti tersemat rasa bersalah, dan ia tersiksa dengan kenyataan tersebut. Nurani sebagai suatu instansi moral di dalam diri manusia yang paling dalam, pada waktu-waktu tertentu akan bersuara—tanpa bisa dikontrol—tentang kenyataan patologis yang dilaluinya. Tapi sayangnya, para pelaku kejahatan korupsi sudah terjebak dan tidak kuasa menghentikan prilaku koruptifnya itu, mengapa ? karena korupsi seperti candu, ia akan terus memaksa seseorang untuk kembali mengulangi perbuatannya.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan tersebut, para koruptor akhirnya mencari cara guna mengurangi kegelisahan psikologisnya, yaitu dengan melakukan aktivitas-aktivitas sosial seperti beramal, bersedekah dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Di dalam alur pikir koruptor, kejahatan yang telah dilakukannya dapat dibersihkan lewat jalur-jalur suci tersebut.

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here