Beranda Ide Agama KONTEKSTUALISASI MODERASI NU

KONTEKSTUALISASI MODERASI NU

Ichwan Adji Wibowo

157
0
BERBAGI

Konsep moderasi NU hari ini juga harus dioptimalkan untuk mengurai problematika ekonomi bangsa yang kian rumit. Kesenjangan yang melebar, pengangguran yang terus bertambah, praktik kapitalisme yang semkin tak terkendali

Konsepsi Islam washatiyah, selama ini dimaknai sebagai sikap atau prilaku keagamaan yang moderat, toleran, melindungi minoritas, menjaga perbedaan serta tidak ke kiri atau ke kanan, tetapi berada di tengah.

Peran NU melalui sikap utamanya tawashut (tengah tengah), tawazun (tidak ekstrim) dan tasamuh (toleran) telah terbukti melakukan penjagaan terhadap eksistensi negara yang berdiri berdasar konsensus bersama. Pemaknaan washatiyah sebagai poros pendulum dialektika kebangsaan bagi NU sudah sangat teruji.

Sebut saja ketika KH. Wahid Hasyim pada peristiwa sidang BPUPKI, saat situasi forum terbelah, nyaris sulit ditemukan solusi yang bisa diterima para pihak, maka kyai muda NU tersebut, berdiri di podium dan menguasai mikropon demi mepresentasikan solusi penyelesaian yang bersumber dari sikap washatiyah, dan itulah contoh moderasi ala NU yang dicatat sejarah.

Sikap kemasyarakatan ala aswaja annahdliyah (tawashut, tawazun dan tasamuh) yang lebih diarahkan pada doktrin keagamaan saja menjadi terlalu sempit, dan tidak longgar. Moderasi ala NU harus dikontektualisasikan sejalan atau linier dengan tugas eksistensi NU hari ini.

Moderasi atau sikap washatiyah harus juga diarahkan agar mampu mengatasi problem problem negara yang sangat mendasar dan utama, seperti ekonomi, sosial, hukum, budaya dan peradaban.

Moderasi NU harus juga dimaknai oleh setiap kader NU, untuk juga setidaknya memiliki keberanian dan keyakinan seperti keberanian dan keyakinan Hadratusyeh Mbah Hasyim ketika memproklamirkan resolusi jihad demi kecintaan kepada negeri, atau keberanian dan keyakinan Kyai muda Wahid Hasyim memberi jalan solusi demi perumusan pancasila, atau keberanian dan keyakinan Kyai Achmad Siddik dan Gusdur menerima final azas tunggal, dan seterusnya, maka kader NU kekinian juga harus mampu menunjukan keberanian untuk mempresentasikan sikap moderasi NU dalam berbagai konteks.

Moderasi NU juga harus diaktualisasikan untuk mengintrupsi setiap kebijakan publik yang tidak berkeadilan dengan sekaligus menawarkan solusi yang berkemaslahatan. Konsep moderasi NU hari ini juga harus dioptimalkan untuk mengurai problematika ekonomi bangsa yang kian rumit. Kesenjangan yang melebar, pengangguran yang terus bertambah, praktik kapitalisme yang semkin tak terkendali. Ini semua butuh kontekstualisasi konsep moderasi NU.

Bagaimana mengimplementasikan sikap tawashut, tawazun, dan tasamuh pada saat NU harus melakukan pendampingan dan pemberdayaan terhadap petani kita yang semakin kehilangan posisi tawar, atau pada saat NU harus hadir ketika terjadi gejolak harga sembako yang semakin menambah daftar panjang penderitaan kaum mustadaifin, atau pada problem problem sektor kehidupan lainnya. Oleh karenanya dibutuhkan kecerdasan dalam mengkontekstualisasikan moderasi ala NU hari ini.

Membaca dan mengamati adanya ‘trend’ atau arus kesadaran kolektif di tubuh NU hari ini, telah menawarkan dahaga peran NU diluar konteks keagamaan dan kebangsaan. Sebut saja upaya penguatan militansi idiologi NU yang terus dipompa melalui berbagai skema pengkaderan, setidaknya telah menyemai bibit kader yang memiliki semangat membangun kemandirian NU, maka peran peran NU di bidang pendidikan, ekonomi dan kesehatan setidaknya hari ini sedang memulai bergeliat.

Tentu peran peran tersebut harus tetap dicirikan sebagai represhentasi sikap moderasi NU.

Bishawab…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here