Komparasi Reflektif Sosialisme Muhammad-Karl Marx

Tak akan ada perubahan tanpa kesadaran. Kesadaran harus dimulai dari diri sendiri, sebab diri individu merupakan bagian dari masyarakatnya

Carpe Diem! Aforisme yang begitu gencar dikumandang para mujaddid di era renaisans dalam menstimulus dan memotivasi para ilmuwan yang lama tertidur. Sekecil apapun sebuah kesempatan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Lamban dalam bergerak, zaman akan melibasnya. Tak akan ada perubahan tanpa kesadaran. Kesadaran harus dimulai dari diri sendiri, sebab diri individu merupakan bagian dari masyarakatnya.

Untuk itu memang butuh perjuangan yang tak mudah supaya masyarakat betul-betul sadar dan menyadari akan adanya penindasan secara sistemik-struktural yang dilakukan oleh kalangan borjuis-birokratis yang feodal-otoritarian, begitu kuat mencengkram masyarakat. Tak ada ruang bergerak ‘sekedar’ untuk menikmati hidup layak. Masyarakat kebanyakan (kaum proletar) yang hidup dalam kondisi ekonomi tak menentu diperparah oleh sistem tersebut.

Kondisi masyarakat seperti itu, telah mengetuk hati nurani seorang Muhammad (571-634 M) dan Karl Marx (1818-1883 M), dua tokoh yang hadir dalam setting geografis dan masa berbeda – Arab dan Jerman — namun sama dalam kondisi sosial masyarakat yang dihadapinya, masyarakat tertindas (mustadh’afin). Hati keduanya tergugah untuk bangkit melakukan perlawanan terhadap penindasan yang terjadi.

Memang terlalu riskan untuk mengkomparasikan keduanya, sebab Muhammad adalah seorang Nabi yang bertanggungjawab secara spiritual sekaligus sosial dalam masyarakat yang landasan berpikirnya berdasarkan wahyu. Sedangkan Marx seorang filosof yang mendasarkan pikirannya terhadap sesuatu yang empiris-materialis yang terkesan malah menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai religi.

Terdorong rasa gelisah terhadap kondisi masyarakat yang semakin tertindas dan jauh terseret arus Kapitalisme, tak ada salahnya kalau kita mencoba lirik kembali konsep perjuangan Muhammad dan Marx yang tercecer di emperan ketaksadaran manusia akan lingkungan sosial yang kian parah. Dalam hal ini, kita posisikan keduanya dalam konteks kemanusiaan yang begitu gigih berjuang untuk membebaskan masyarakat dari segala bentuk penindasan dan ketakadilan, meski harus berhadapan dengan para konglomerat dan pedang penguasa. Itu konsekuensi logis dari sebuah perjuangan demi terciptanya perubahan masyarakat ke arah lebih baik, berkeadilan dan egaliter.

Classless Society; Muhammad dan Marx

Muhammad, hadir untuk membebaskan masyarakat dari segala bentuk penindasan dan ketakadilan, yang berpijak pada wahyu untuk membangun orde-orde sosial atas dasar kesamaan hak, persaudaraan dan keadilan. Wahyu, sebagai asas primer yang memuat konsep-konsep universal interaksi sosial di masyarakat, telah menginspirasi para pengikutnya tentang masyarakat ideal yang dicita-citakan Muhammad.

Sebut saja Ali Syari’ati yang menyatakan Islam agama protes, teologi pembebasannya Ashgar Ali Enginer, kiri Islamnya Hassan Hanafi, teologi transformatifnya Muslim Abdurrahman, teologi populisnya Masdar F Mas’udi, dan teologi sosialnya Amin Rais. Substansi dari semua itu beranggapan bahwa kesatuan manusia (unity of mankind) tak akan benar-benar terwujud tanpa terciptanya masyarakat tanpa kelas (classless society).

Sosialisme yang ditawarkan Muhammad, tak didasarkan atas perang modal dan perjuangan kelas. Tetapi dibangun atas dasar karakter dan moral yang tinggi yang akan menjamin adanya persamaan kelas, adanya kerja sama dan saling membantu atas dasar kebaikan dan kebaktian, nilai-nilai luhur yang mengatur tatanan sosial yang berdasarkan kesetaraan (social equality); yakni persaudaraan, keadilan sosial (social justice) (QS. Al Qashash: 5-6), kebenaran kejujuran, ketulusan, dan kasih sayang.

Bukan sosialisme dengan monopoli (ihtikar) satu kelas atas kelas lainnya. Inilah yang disebut masyarakat tauhidi, yang tak ada lagi kesenjangan sosial atas perbedaan secara kuantitatif (fisik), tetapi lebih kepada kualitas takwa (social spirituality). Sehingga tertanam rasa keyakinan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntunan hidup (unity of guidance), serta kesatuan tujuan hidup (unity of purpose of life), yang semua ini merupakan derivasi dari kesatuan ketuhanan/tauhid (unity of god). Dalam doktrin tauhid menolak segenap bentuk deskriminasi dalam bentuk ras, etnik, kasta pun kelas. Inilah konsep classless society ala Muhammad (QS. al Anbiya’: 92).

Hak kepemilikan dalam Islam didasarkan atas kerja (malkiyah al khos) dan kekayaan nasional (malkiyah al ’am). Dan pembebasan manusia dapat tercapai ketika kepemilikan harta didasarkan pada malkiyah al khos dan bukan pada paksaan dan penindasan (ikhmad). Muhammad menilai bahwa setiap individu mempunyai hak bekerja dan mendapat upah yang layak, bahkan upah pekerja harus diberikan sebelum keringat ditubuhnya kering. Orang yang lalai terhadap hal tersebut, oleh Muhammad dianggap musuhnya.

Sosialisme, sebagai ideologi dalam praktisnya tak sama dengan komunisme. Sosialisme sering dikonfrontasikan dengan doktrin pendewaan (sanctity) kepemilikan pribadi (property) yang merupakan ciri utama kapitalisme. Ide sosialisme Karl Marx dipengaruhi oleh pendahulunya; GWF Hegel, Adam Smith, dan Comte de Saint-Simon, yang mendasarkan pada klaim perjuangan terhadap nilai-nilai persamaan, kerjasama, kebebasan individu, keadilan sosial, nihilnya kepemilikan privat, dan kontrol negara atas barang-barang produksi.

Munculnya ide tersebut tak lepas dari kondisi pertentangan kelas di masyarakat, maka menurut Marx bahwa setiap kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat tercapai melalui revolusi sebagai perjuangan kelas tertindas melawan kelas penindas. Kaum proletar harus mengambil alih secara bertahap seluruh kapital dari tangan borjuasi. Inilah yang disebut Marx sebagai revolusi demokratik, yaitu revolusi sosialis harus didahului revolusi borjuasi dengan memanfaatkan kaum borjuis melakukan demokratisasi di segala bidang. Di sini tampak bahwa proletariat sebagai basis material dan revolusi dari Marx.

Antara Muhammad dan Marx mempunyai cita-cita yang sama, yaitu memperjuangkan kaum dhu’afa (proletar) ketaraf hidup yang lebih baik dan manusiawi. Walau sumber epistemologinya jelas-jelas berbeda, sumber epistemologi Muhammad adalah perpaduan antara bayani (teks wahyu/ agama) dan burhani (argumentasi empiris).

Sedangkan konsepsi epistemologi Marx bermula dari konsep dialektika, bahwa sesuatu yang terjadi di dunia ini memberikan suatu pemahaman bahwa pengetahuan manusia terbentuk karena adanya kenyataan objektif yang dipersepsi oleh panca indera (empirisme). Jadi, konsepsi dialektika Marx lebih mengarah terhadap materialisme, sehingga sesuatu yang metaempiris dianggap tak memiliki peran (dialectical materialism) dan cenderung menjauh dari nilai-nilai religi (Tuhan).

Terlihat bahwa perbedaan sosialisme Muhammad dan Marx terletak pada dalil epistem yang jadi pijakannya. Sudahkah cita-cita mulia tentang masyarakat ideal (civil society, masyarakat madani) terwujud?

Sumber : fb/Cak Re Zubairi

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: