Kiri Jalan Terus

Seperti sebuah rambu-rambu lalu lintas yang tertulis tepat dibawah lampu merah (traffic light), “kiri jalan terus” sesungguhnya bukan hanya sebatas rambu-rambu untuk menunjukan keteraturan dan ketertiban berlalu-lintas. Apabila kita telisik lebih dalam tentang “kiri jalan terus” maka kita dapat menghubungkan  sebuah peristiwa sejarah besar dan terobosan cara berpikir yang progresif, radikal dan revolusioner, dan itu lekat dengan istilah “kiri”.

Maka ketika berkendara dan berhenti di traffic light saya sarankan jangan hanya fokus ke warna-warna lampu saja, apa lagi mencari-cari pak polisi, apa dia ada di pos atau tidak, hanya untuk menerobos lampu merah. Selain berbahaya kadang pak polisi seperti buaya berkamuflase di tengah kemacetan atau di tikungan selanjutnya.

Mari kita telisik lebih jauh, kenapa istilah “kiri” bukan hanya sebatas untuk menunjukan posisi, letak dan arah saja.

Seperti yang kita ketahui sejak terjadinya Revolusi Perancis, kelompok radikal mengambil sisi kiri dari kursi Ketua Kongres Nasional. Maka sejak saat itu, istilah “kiri” bukan hanya sebatas untuk menunjukan posisi, letak dan arah saja, tetapi juga mewakili sebuah terminologi politik yang mencitrakan kelompok yang Radikal, Sosialis “Anarkis”, Reformis dan Progresif.

Lalu kenapa di Indonesia istilah “kiri” berkonotasi negatif? Tentunya ini tidak terlepas dari peristiwa sejarah bangsa Indonesia, dimana istilah kiri selalu di-asosiasi-kan pada Partai Komunis, yang dalam catatan sejarah Indonesia dianggap sebagai biang keladi dari berbagai tindakan pemberontakan, dari Pemberontakan Madiun sampai yang paling membekas dibenak masyarakat Indonesia peristiwa 30 September kelabu.

Maka tak heran apabila banyak orang-orang Indonesia yang begitu phobia terhadap istilah “kiri” selain peristiwa sejarah tersebut, rezim yang berkuasa juga menakut-nakuti masyarakat. “Kiri” dianggap sebagai momok yang begitu menakutkan, menyeramkan dan membahayakan. Dengan kata lain “kiri” adalah hantu yang harus dijauhkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara, yang tidak memiliki kontribusi apapun bagi sejarah bangsa Indonesia, dan celakanya hal ini  terus dirawat sampai saat ini.

Maka sudah seharusnya masyarakat Indonesia bijaksana dalam melihat peristiwa sejarah di masa lalu, bahwa setiap elemen masyarakat juga memiliki kontribusi baik dalam gerakan melawan penjajah maupun gagasan tentang kenegaraan. Dan hal ini haruslah diakui sebagai sebuah khazanah pergerakan dan pemikiran dari bangsa Indonesia.

“Kiri Jalan Terus”, kita seharusnya belajar dari Hassan Hanafi, seorang Filsuf Hukum Islam, Pemikir, sekaligus Guru Besar pada Fakultas Filsafat di Universitas Kairo, Mesir. Yang konsen dalam mewujudkan dunia Islam yang bergerak menuju pencerahan secara menyeluruh, dengan gagasannya tentang Revolusi Tauhid demi menantang peradaban barat yang sudah “kebablasan” yang diterbitkan dalam Jurnal Kiri Islam (Al-Yasar al-islami).

Hassan Hanafi, melihat kenyataan menyedihkan dari umat Islam yang dikepung oleh Kolonialisme, Kapitalisme dan Zionisme serta kemiskinan, penindasan, keterbelakangan yang terjadi di dunia Islam. Maka umat Islam haruslah merekonstruksi kembali pandangan mengenai tauhid.

Menurut Hassan Hanafi pemahaman tentang Islam dan tauhid tidak hanya sebatas pada Tuhan dan mental saja. Maka, jalan terbaik untuk memahami Tuhan adalah mengartikannya sebagai “penyatuan”. Yakni sebagai sebuah totalitas dari bidang-bidang keduniawian, mental, sekaligus Tuhan.

Maka, dalam Rukun Islam menurut Hassan Hanafi tidak hanya sebatas kewajiban yang bersifat spiritual saja. Bahwa persoalan yang spritual juga bersifat materiil, aksi yang duniawi adalah juga bersifat Agamawi, Individual sekaligus Sosial. Maka titik pijak tauhid haruslah didasari pada totalitas keduniawian, mental sekaligus Tuhan. Maka sebagai teologi, Islam tidak hanya berisi tauhid, namun juga berisi sebuah sistem keyakinan yang dianut masyarakat tertindas, sehingga melahirkan motivasi dan etos kerja.

Tak kalah penting, tauhid juga harus mampu menyadarkan masyarakat dari praktik-praktik yang menindas dan eksploitatif, dan masyarakat juga harus disadarkan untuk ikut berpartisipasi didalamnya. Sehingga rakyat dapat membebaskan diri mereka dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan ketidakadilan. Bukan malah ditidurkan dengan ceramah-ceramah tentang surga dan kehidupan ukhrawi saja, yang senyata-nyata tidak merubah apapun dari kehidupan masyarakat tertindas, bahkan ini hanya meneguhkan praktik-praktik kekuasaan yang menindas.

Maka untuk menjawab tantangan barat, terutama para orientalis yang menjalin hubungan relasional antara pengetahuan dan kekuasaan, menurut Hassan Hanafi umat Islam harus mengimbangi hegemoni yang dilakukan barat (orientalis) dengan pemikiran tandingan yang disebut olehnya Oksidentalisme walaupun kerangka (prototype) keilmuan barat tapi ini semata-mata untuk mengetahui peradaban barat baik kekuatan dan kelemahannya.

Dari hal itu umat Islam harus mampu menciptakan tatanan sosial baru, tentunya tanpa kehilangan identitas bangsa. Bahkan dengan paradigma kritis dari kelompok kiri sekalipun, Hassan Hanafi mencoba membangkitkan ghiroh umat Islam tanpa sensitifitas bahwa paradigma ini bukan berasal dari umat Muslim.

Sudah saatnya melakukan perubahan besar didunia Islam, sebagai wujud nyata bahwa Islam merupakan agama rahmatan lil alamin dan phobia terhadap istilah kiri harus segera diatasi dengan melihat ada hal yang bermanfaat dari hal yang selama ini kita anggap buruk sekalipun.

(Shimogaki Kazuo, Kiri Islam, LKiS, Yogyakarta, 2004)

*Penulis adalah mahasiswa semester 8 fakultas Syari’ah UIN Lampung. Penyuka kajian Filsafat dan Humaniora yang sejak kecil tidak bisa lepas dari musik Dangdut dalam kesehariannya.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: