Kiai Agus Sunyoto telah Berpulang

Berita duka pada pertengahan bulan Ramadan 1442 H, tepatnya 27 April 2021 telah sampai kepada kami, Keluarga Besar Kelompok Studi Kader (KLASIKA). Berita duka tersebut menyebutkan bahwa seorang Kiai, atau lebih tepatnya guru kami, K. Ng. H. Agus Sunyoto telah berpulang pagi tadi pukul 07.25 WIB. Beliau yang dikenal sebagai pengasuh Pesantren Global Tarbiyatul Arifin yang berada di Malang, Jawa Timur, begitu juga dikenal sebagai Ketua PP Lesbumi PBNU,  membuat kami merasa bersedih dan kehilangan. Beliau yang telah menjadi sosok guru bagi kami, tak sekedar membuka keluasan wawasannya terkait kebudayaan dan keagamaan dalam khazanah Nusantara, lebih lanjut, beliau juga turut memotivasi kami untuk terus belajar dan selalu berupaya menggali akar-akar identitas nusantara, baik dari segi historis maupun nilai-nilai yang telah bersemayam sejak dulu di tanah nusantara.

Biografi

Agus Sunyoto lahir pada 21 Agustus 1959 di Surabaya. Semasa muda, beliau tak hanya menjalani pendidikan formal saja, tetapi juga mengenyam pendidikan ilmu hikmah di bawah asuhan KH. M. Ghufron Arif di Pesantren Nurul Haq, Surabaya, yang kemudian berlanjut belajar dengan KH. Ali Rochmat di Wedung, Demak, Jawa Tengah. Setelah itu, beliau juga turut masuk Pesulukan Thariqah Agung (PETA) di bawah asuhan KH. Abdul Jalil Mustaqiim dan KH. Abdul Ghofur Mustaqiim di Kauman, Tulung Agung.

Ketika telah selesai menjalani pendidikan formal di tingkat menengah  akhir, beliau melanjutkan pendidikan tingginya di IKIP Surabaya pada Fakultas Keguruan Sastra dan Seni dengan fokus pada jurusan Seni Rupa, dan lulus pada 1985. Kemudian, dilanjutkan kembali pada pendidikan pasca sarjana di Fakultas Pasca Sarjana IKIP Malang, jurusan Pendidikan Luar Sekolah, dan lulus pada 1989.

Perjalanan beliau di bidang sastra telah dimulai saat masih menempuh pendidikan tinggi, beliau mengawalinya dengan menjadi kolumnis pada tahun 1984. Kemudian pada tahun 1986 hingga 1989 menjadi wartawan Jawa Pos. Setelah itu, beliau hanya menjadi wartawan freelance dan sering menulis novel serta artikel yang dikirimkan ke Jawa Pos, Surabaya Pos, Surya, Republika, dan Merdeka. Pada Tahun 1990-an, beliau mulai menggeluti penelitian-penelitian di bidang sosial dan sejarah. Dari hasil penelitiannya, kemudian beliau tuangkan dalam bentuk laporan ilmiah atau justru dalam bentuk novel.

Agus Sunyoto telah banyak menghasilkan banyak karya ilmiah, di antaranya, Sumo Bawuk (Jawa Pos, 1987), Sunan Ampel: Taktik dan Strategi Dakwah Islam di Jawa ( LPLI Sunan Ampel, 1990), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu Sosial dan Keagamaan (Kalimasahada, 1994), Banser Berjihad Melawan PKI (LKP GP Ansor Jatim, 1995), Darul Arqam: Gerakan Mesianik Melayu (Kalimasahada, 1996), Wisata Sejarah Kabupaten Malang (Lingkaran Studi Kebudayaan, 1999), Pesona Wisata Sejarah Kabupaten Malang (Pemkab Malang, 2001).

Selain itu, karya-karya fiksi juga banyak dipublikasikan dalam bentuk cerita bersambung, seperti di antaranya : Anak-Anak Tuhan (1985), Orang-Orang Bawah Tanah (1985), ki Ageng Badar Wonosobo (1986), Khatra (1987), Hizbul Khofi (1987), Khatraat (1987), Gembong Kertapati (1988), Vi Daevo Datom (1988), Angela (1989), Bait Al-Jauhar (1990), Angin Perubahan (1990). Di harian sore Surabaya Post: Sastra Hajendra Pangruwat Diyu (1989), Kabban Habbakuk (1990), Misteri di Snelius (1992), Kabut Kematian Nattayya (1994), Daeng Sekara (1994-1995): Sang Sarjana (1996), Jimat (1997). Di harian Surya: Dajjal (1993). Di Radar Kediri: Babad Janggala- Panjalu dengan episode: (1) RahuwhanaTattwa, (2) Ratu Niwatakawaca, (3) Ajisaka dan Dewata Cahangkara, (4) Titisan Darah Baruna. Di harian Bangsa: Suluk Abdul Jalil (2002).

Tak berhenti berkarya, Kiai Agus Sunyoto juga menerbitkan buku berjudul “Atlas Wali Songo” pada tahun 2012. “Buku pertama yang mengungkapkan Wali Songo sebagai fakta sejarah”, begitu yang tercantum pada sampul bukunya. Melalui buku “Atlas Wali Songo” tersebut, Kiai Agus Sunyoto tak sekedar menjelaskan rangkaian sejarah asal mula hadirnya penduduk di Nusantara, tetapi terus berlanjut pada perkembangan agama penduduk pribumi seperti animism dan dinamisme, hindu dan budha, hingga penyebaran agama Islam oleh Wali Songo yang keseluruhannya disertai dengan bukti-bukti ilmiah sehingga bernilai fakta sejarah.

Ngaji Sejarah Islam Nusantara

Pada awal tahun 2018, Kiai Agus Sunyoto pernah berkunjung ke Rumah Ideologi KLASIKA. Kelompok Studi Kader (KLASIKA) yang saat itu sedang melakukan kajian tentang Islam Nusantara kemudian memohon Beliau untuk dapat memberikan paparan terkait sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Pada pertemuan yang dilaksanakan pada 13 Januari 2018 di Rumah Ideologi KLASIKA tersebut, Beliau memulainya dengan menjelaskan penelitian yang beliau lakukan desa-desa guna mungukur imbas globalisasi yang pada dasarnya bertujuan menghapuskan identitas etnis, budaya, agama dan lain sebagainya.

Hasil dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa globalisasi telah berimbas besar pada masyarakat tradisional. Salah satunya telah mencabut identitas berupa nama-nama lokal pada anak yang digantikan dengan nama-nama barat ataupun arab. Pada anak-anak tersebut ditemukan pula bahwa anak-anak juga tidak lagi menggunakan penyebutan ibu, emak, atau pun embok pada orang tua perempuan mereka, namun telah berganti pada penyebutan mamah dan bagi orang tua laki-laki disebut dengan papah. Hal ini tentu saja menunjukan sebuah tanda bahwa imbas dari globalisasi sedikit banyaknya telah mencabut akar identitas masyarakat tradisional dan mengalihkan kebanggaan masyarakat  tidak lagi pada identitas lokal melainkan kepada identitas global.

Begitu pula hilangnya kebanggaan pada identitas kebudayaan, seperti wayang, lagu-lagu tradisi, juga bahasa yang perlahan tak lagi diminati oleh generasi muda. Bahkan imbas globalisasi telah merasuk pada mindset atau cara pandang pemuda, misal standar kecantikan pun telah teralihkan oleh bentuk kecantikan yang ideal adalah seperti perempuan eropa. Hal itu kemudian menempatkan bahwa identitas seperti bentuk kecantikan perempuan jawa ataupun sunda menjadi dianggap lebih rendah atau buruk.

 Lantas, dari sana muncul pertanyaan, bagaimana sikap kita menanggapi keadaan tersebut? Terdapat sebuah gerakan yang dinamai Islam Nusantara yaitu upaya kita sebagai masyarakat muslim untuk terus menjaga nilai-nilai tradisional yang masih baik dan membangunkaan kembali kebanggaan terhadap tradisi-tradisi dan kebudayaan yang ada di nusantara sebagai identitas bangsa. Gerakan tersebut menjadi langkah bagi kita untuk menghadang dampak-dampak negatif yang dihadirkan oleh globalisasi.

Pada akhir pemaparannya, beliau berpesan kepada generasi muda, khususnya pegiat KLASIKA yang hadir di Rumah Ideologi KLASIKA saat itu, “Di tengah arus globalisasi, sangat bijak jika kita kembali ke akar tradisi dan budaya Islam Nusantara.- Agus Sunyoto, 13 Januari 2018.” Berdasarkan pesan tersebut, beliau jelas menegaskan bahwa generasi muda sudah seyogianya tak lepas dari identitas khas yang menjadi tanda bagi peradaban bangsa. Oleh karena itu, identitas-identias lokal perlu kembali digali dan diterapkan dalam kehidupan kita di Nusantara.

Semoga pesan tersebut dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu tahu diri dan selalu bersyukur, bahwa kita yang lahir dan hidup di tanah dan peradaban nusantara, maka sudah selayaknya menjaga nilai-nilai yang tubuh di atas buminya.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: