KH Gholib, Kiai Kampung Penggerak Pemuda

BANDAR LAMPUNG, pojoklasika.com — Indonesia kembali memperingati hari pahlawan yang jatuh setiap 10 November. Banyak cara yang dilakukan berbagai kalangan untuk memperingati perayaan tersebut. Salah satunya yang turut menggelar acara peringatan adalah Komunitas Dongeng Dakocan.

Komunitas yang dikomandoi oleh Iin Mutmainah itu memperingati hari pahlawan dengan menggelar pameran foto sejarah kepahlawanan KH Gholib. Pameran foto dipilih agar lebih menarik bagi kalangan muda. Hal itu sesuai dengan target kegiatan, yakni mengenalkan Kiai Bambu Seribu itu pada anak muda.

Koordinator acara, Ivan Sumantri Bonang mengungkapkan, kegiatan sengaja digelar untuk mengenalkan pahlawan nasional asal pringsewu itu pada khalayak luas. Karena selama ini K.H. Gholib hanya dikenal sebagai pahlawan lokal.

“Khalayak harus tahu khusus para anak muda dan mbah Gholib dapat dianugerahi sebagai pahlawan nasional, karena ia turut berjuang dalam mengusir penjajah bahkan ia meninggal ditangan penjajah pada agresi militer Belanda II” ujar Ivan.

Selain pameran foto, Komunitas Dongeng Dakocan juga menggelar sejumlah rangkaian acara yang dekat dengan dunia milenial. Antara lain lomba karya tulis dan dongeng K.H. Gholib.

Farida Ariyani, salah satu cucu K.H. Gholib mengatakan sejarah kepahlawanan sang kakek harus diketahui oleh anak muda. Menurutnya, sejarah perjuangan Kiai Gholib bisa menjadi motivasi bagi para pemuda.

“Kiai Haji Gholib ikut turut berjuang pada masa penjajahan Jepang hingga Belanda dengan mengkoordinir kaum muda, yakni para santrinya di pesantren,” tuturnya.

Dalam memerangi penjajahan, sang kakek membentuk Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Kedua laskar tersebut kemudian turut bergabung dan berjuang bersama Tentara Rakyat.

Sejarah K.H. Gholib

K.H. Gholib dilahirkan di Desa Mojosantren, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoerjo, Jawa Timur pada tahun 1899 dan wafat pada tanggal 6 November 1949. Beliau adalah anak tunggal dari pasanan Kiai Rohani bin Nursihan dan Mursiti.

K.H. Gholib datang ke Lampung pada tahun 1927, pada usianya yang ke-45 tahun. Mulanya  beliau menumpang di rumah warga bernama M. Anwar Sanprawiro di Pagelaran, tiga tahun berselang, K.H. Gholib selanjutnya mendirikan sebuah pondok pesantren dan mulai menyiarkan Islam. Dari sinilah beliau mulai mendapatkan simpati masyarakat Pringsewu dan memiliki banyak pengikut. Selain itu, beliau juga membentuk Laskar Hizbullah dengan merekrut para santrinya, sebagai upaya untuk memerangi para penjajah.

Perjuangan K.H Gholib dalam melakukan perlawanan tersebut dinilai sangat merepotkan dan menjadi perhatian serius dari pihak Belanda. Beliau pun ditetapkan sebagai target penangkapan, namun upaya beliau tak pernah patah, sekali pun karena perjuangannya melawan penjajah tersebut mengakibatkan dirinya harus rela keluar-masuk penjara.

Pada tahun 1948, Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (dalam bahasa belanda: Operatie Kraai) dilancarkan. Serangan Belanda kali ini tak hanya terpusat di pulau jawa, namun hampir di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Lampung. Pada tanggal 1 Januari 1949, Belanda berhasil mendaratkan pasukannya di Lampung dan langsung menyerang Tanjung Karang dan sekitarnya–yang pada saat itu menjadi pusat Keresidenan Lampung—akhirnya, Belanda mampu menguasai Tanjung Karang dan sekitarnya, serta terus memperluas serangannya sampai ke Pringsewu.

Mendengar berita tersebut, K.H Gholib yang memiliki semangat Nasionalisme yang tinggi, tergerak hatinya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. K.H. Gholib dengan pasukan tempurnya–Laskar Hizbullah–ikut berjuang bersama-sama dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda yang ingin menguasai Indonesia. Karena gabungan kekuatan besar tersebut, Pringsewu dapat bertahan dan tak mudah ditundukan oleh Belanda.

Belanda pun berambisi untuk menangkap K.H Gholib. Beliau dianggap sebagai musuh besar Belanda, karena keberhasilan–berserta para pejuang lainnya–merebut kembali Gedong Tataan dari tangan Belanda pada 15 Januari 1949. Ditambah lagi, beliau memiliki pengaruh yang amat besar bagi Masyarakat Pringsewu dan sekitarnya. Hal tersebut, lantas membuat Belanda semakin geram dan semakin gencar melakukan berbagai upaya agar dapat menangkap dan mengadili K.H. Gholib.

Pada tanggal 11 Maret 1949, Belanda mendaratkan pasukannya di Kota Agung. Usaha-usaha merebut Pringsewu terus dilakukan oleh pihak Belanda, hingga akhirnya setelah melalui pertempuran-pertempuran sengit, Pringsewu pun jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 13 Maret 1949. Setelah didudukinya Pringsewu oleh pasukan Belanda, para pejuang terpaksa harus mundur dan bersembunyi. Selama berada di Pringsewu, Belanda menjadikan Komplek Pastoran Gereja Khatolik sebagai markasnya.

Pengejaran Belanda untuk menangkap K.H. Gholib terus dilancarkan. Mendengar bahwa situasi tidak aman lagi, K.H. Gholib dan para pasukannya memutuskan untuk menyeberangi Sungai Way Sekampung, mencari tempat persembunyian. Dalam masa pengejaran tersebut, beliau tinggal berpindah-pindah dari desa ke desa. Hampir setiap hari Belanda mendatangi persembunyian K.H. Gholib untuk menangkap beliau, namun tak juga berhasil.

K.H. Gholib terus mengungsi dan hidup berpindah-pindah, sampai pada akhirnya beliau menetap di sebuah desa bernama Sinar Baru, di Kecamatan Sukoharjo. Dalam pengungsiannya tersebut, K.H. Gholib jatuh sakit dan harus dirawat. Namun, karena kurang memadainya peralatan medis yang ada, beliau pun segera dibawa pulang untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Belanda yang mendapat berita kepulangan Sang Kiai pun segera mengerahkan polisi federalnya untuk memanggil K.H. Gholib dengan maksud mengadakan perundingan. Akan tetapi, pasukan Macan Loreng atau pasukan khusus yang merupakan kaki tangan penjajah saat itu, bersikeras agar K.H. Gholib ditahan. Setelah ditahan selama 15 hari, pada 6 November 1949, K.H. Gholib dibebaskan. Namun, ketika K.H. Gholib baru berjalan kurang lebih 10 meter meninggalkan ruang tahanan, beliau ditembak dari belakang dan beliau wafat seketika itu juga.

Satu tanggapan untuk “KH Gholib, Kiai Kampung Penggerak Pemuda

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: