Beranda Uncategorized Kesadaran Ganda Walikota Bandar Lampung

Kesadaran Ganda Walikota Bandar Lampung

358
0
BERBAGI
Wakikota Bandarlampung Herman HN

Setiap kali terjadi bencana alam, akan selalu ada orang-orang yang percaya itu azab, sebuah peringatan dan hukuman dari Tuhan.  Tak sedikit masyarakat kita yang meyakini begitu saja bahwa peristiwa bencana alam adalah kehendak dari Tuhan dan manusia tidak memiliki daya kemampuan apapun untuk mencegahnya, tak terkecuali banjir.

Beberapa hari yang lalu, Kota Bandar Lampung baru saja diguyur hujan yang sangat lebat, sehingga mengakibatkan beberapa wilayah di kota tersebut terjadi banjir, termasuk tempat yang saya tinggali.  Peristiwa banjir bukan sekali ini saja terjadi, hampir setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi –bisa dipastikan– akan terjadi banjir, mesti tidak separah banjir yang baru saja terjadi (16 Februari 2019).

Selang dua hari setelah hujan deras yang mengguyur kota Bandarlampung, saya sedikit terkejut membaca sebuah berita online dari media lokal yang di dalamnya memuat statmen dari  orang nomor satu di kota Bandarlampung dalam menanggapi musibah banjir yang terjadi.

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Bandar Lampung masih belum terbebas dari banjir. Wilayah di Kota Tapis Berseri pasti kebanjiran saat turun hujan, terlebih intensitasnya deras.

Hal tersebut sebagaimana yang terjadi pada Sabtu malam, 16/2/2019. Beberapa wilayah dilanda banjir ketika hujan deras. Adapun kawasan yang tergenang banjir, antara lain Jalan Urip Sumoharjo, Way Halim; Jalan Nangka, Kota Sepang; dan Perumahan BTN 2 di Way Halim. Kemudian, Gelora Persada Rajabasa, Perumahan Villa Citra, kawasan sekitar RSUDAM, Jalan Pagaralam (Gang PU), Gang Persada di Jalan Pangeran Antasari, serta Jalan Sultan Agung.

Menanggapi persoalan banjir, Wali Kota Bandar Lampung Herman HN mengatakan, peristiwa tersebut merupakan ketetapan Tuhan. Sebab, dirinya tak bisa mengatur agar tidak ada banjir.

“Ini (banjir) kan Allah yang mengatur air dari atas. Kalau saya bisa mengatur ya enggak ada banjir,” kata Herman usai meresmikan rumah dinas pimpinan DPRD setempat di Gulak Galik, Telukbetung Utara, Senin, 18/2/2019.

Menurut Herman, pihaknya telah berupaya maksimal untuk mengatasi banjir. Di beberapa titik banjir sudah dilakukan pencegahan, namun tetap saja terjadi banjir.

“Kamu tahu atau enggak, banjir ini berapa tahun sekali? Ini kan karena Allah yang mengatur,” ujarnya saat ditanya langkah Pemkot Bandar Lampung dalam mengatasi banjir.

Mantan calon gubernur Lampung itu hanya mengimbau masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Kemudian, memerhatikan saluran air. Sebab, bila drainase tidak berfungsi, maka air akan meluap saat turun hujan.(*)

(dikutip dari laman duajurai.co pada tanggal 20 Februari 2019.  http://duajurai.co/2019/02/18/bandar-lampung-sering-banjir-saat-hujan-herman-hn-itu-tuhan-yang-atur/)

Membaca berita tersebut, tentunya menimbulkan tanda tanya besar pada diri saya, apa yang terjadi dengan kesadaran pak walikota, sehingga memberikan statment seperti itu?

Dalam amatan saya, telah terjadi kesadaran ganda dalam kerangka berpikir sang Walikota, yakni: kesadaran magis dan naif, sebagai upaya menutup ruang kritik masyarakat terhadap peran pemerintah kota dalam menanggulangi banjir yang kerap terjadi di kota Bandarlampung. Lalu apa sebenarnya kesadaran magis dan naif itu?

Meminjam Pemikiran Paulo Freire, seorang pemikir yang lahir di Brazil. Paulo Freire membagi kesadaran manusia dalam tiga tahap, yaitu : Kesadaran Magis, kesadaran Naif dan Kesadaran Kritis.

Paulo Freire sumber: http://www.ndp-untirta.org/2016/08/manifesto-freirean-dari-kesadaran-naif.html

Kesadaran Magis adalah konsep kesadaran yang berpikir bahwa suatu peristiwa terjadi diakibatkan oleh faktor di luar diri manusia yang tidak dapat dikendalikan manusia dan sudah menjadi ketentuannya. Seseorang dengan kesadaran magis, akan menganalisis permasalahan yang terjadi dengan sudut pandang yang bersifat metafisik dan abstrak. sebagaimana statement walikota Bandarlampung yang memandang musibah banjir sebagai kehendak Tuhan dan sudah menjadi ketentuan yang harus diterima oleh masyarakat.

Selanjutnya, kesadaran naif, kesadaran naif merupakan perkembangan dari kesadaran magis. Bila dalam kesadaran magis seseorang menganalisis sebuah peristiwa dengan pendekantan yang bersifat metafisik dan abstrak sedangkan dalam tahap kesadaran naif seseorang akan berpikir bahwa suatu peristiwa yang terjadi diakibatkan dari diri manusia sendiri. Misalnya dalam berita tersebut, kita bisa melihat kesadaran naif sang walikota pada statement (himbauan) yang disampaikan oleh sang walikota. Bahwa setiap masyarakat disaranakan untuk tidak membuang sampah sembarangan, karena akan menyebabkan tidak berfungsinya drainase secara maksimal.

Tahap kesadaran yang terakhir adalah kesadaran kritis. Pada tahap kesadaran ini, individu atau masyarakat mampu melakukan analisis mendalam terhadap suatu permasalah yang terjadi, sehingga dapat menguraikan sebab-akibat dari suatu permasalahan. Pada tahap ini, manusia berpikir bahwa penyebab terjadinya musibah berasal dari luar diri manusia. Kesadaran kritis ini bersifat trnasformatif dikarenakan ia berusaha untuk melakukan perubahan yang terjadi di realitas. Kesadaran kritis ini tidak tercermin dalam diri sang walikota. Sebagaimana respon yang ia berikan pada musibah banjir yang terjadi di kota Bandarlampung. Sesorang individu atau masyarakat yang memiliki kesadaran kritis tentu akan melakukan analisis mendalam untuk menemukan sebab kenapa banjir selalu terjadi ketika hujan deras mengguyur kota tapis berseri.

Pada tahap ini, Seorang yang memiliki kesadaran kritis tidak akan terburu-buru dan terjebak pada kesimpulan bahwa musibah yang terjadi semata-mata merupakan kehendak Tuhan dan peringatan dari Tuhan karena masyarakat telah banyak melakukan dosa. Selain itu, seseorang yang sudah sampai pada level kesadaran kritis tidak hanya menyadarkan musibah banjir yang terjadi dikarenakan ulah oknum yang kerap kali buang sampah sembarangan sehingga bisa menyebabkan drainase tidak berfungsi maksimal. Pada tahap kesadaran kritis, seseroang akan melakukan pengkajian secara mendalam, menyeluruh dan mencari akar masalahnya. Pada tahap ini, seseorang juga akan melakukan analisis terhadap sistem kelola tata ruang, ukuran drainase yang terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung debit air yang besar.

Ditengah gencarnya pembangunan fly over dan under pas pemerintah kota Bandar Lampung sebagai upaya mengatasi kemacetan di kota ini, Pemkot luput memperhatikan persoalan banjir yang sering terjadi. Sebagai masyarakat yang selalu dibuat was-was ketika hujan turun, tentunya kami menantikan upaya realistis dan efektif pemerintah kota Bandarlampung dalam melihat dan menanggapi musibah banjir yang kerap kali terjadi Di kota ini agar terjadinya banjir bisa diminimalisir, syukur syukur tidak terjadi banjir lagi. Ketimbang menyerahkan persoalan ini pada tuhan semata.

*Penulis adalah Direktur Klasika Lampung yang sedang menempuh pendidikan strata 1 di Fakultas Tarbiyah UIN RIL Lampung. Pribadi yang dikenal selalu tersenyum di kesehariannya pernah bercita-cita menjadi pemain sepakbola.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here